
Di ruang kerjanya Javier tiba-tiba terpikir dengan anak-anaknya dengan Emma. Javier menatap jam di dinding yang menunjukkan angka 11. Ia lalu mematikan laptopnya dan pergi menuju kamar Zio.
"Ceklek.." pintu terbuka, menampilkan sosok Javier yang sedang berdiri di daun pintu kamar Zio.
"Ternyata mereka sudah tidur," gumam Javier melangkahkan kakinya mendekat ke arah tempat tidur dengan pencahayaan kamar yang redup. Tapi ia masih bisa melihat jelas wajah empat orang manusia yang sedang tidur pulas di atas ranjang. Javier melihat Emma tidur dengan posisi menyamping memeluk tubuh Zio. Entah kenapa hatinya menghangat saat melihat apa yang ada di depannya sekarang ini. Javier yang juga sudah mengantuk ikut berbaring di samping tubuh Emma. Javier berbaring dengan hati-hati agar tidak membangunkan Emma. Seharusnya ia pergi ke kamarnya. Tapi ia terlalu malas untuk melangkahkan kakinya saat ini. Entahlah, Javier hanya ingin tidur di samping Emma sekarang. Untung saja tempat tidur Zio mampu menampung mereka berlima. Javier menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Javier mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping dan tangannya terulur begitu saja memeluk pinggang Emma dari belakang.
"Tubuhmu harum sekali," gumam Javier menghirup dalam-dalam aroma tubuh Emma yang akan menjadi aroma favoritnya mulai sekarang.
Emma menggeliat membuat Javier was-was jika sampai wanita itu terbangun. Javier semakin terkejut kala Emma memutar tubuhnya sehingga posisi mereka saling berhadapan. Emma tampak menggeliat mencari posisi nyaman, hingga ia membenamkan wajahnya di dada bidang Javier, salah satu tangannya memeluk tubuh Javier. Mungkin Emma sedang mengira Javier adalah guling nya.
Javier tersenyum tipis. Tentu saja. Itu karena ia menyukai posisi tidur mereka yang sekarang. Bahkan tanpa diminta, Emma memeluk tubuhnya. Apalagi dada besar Emma menekan tubuhnya. Apa kalian tau, jika itu sukses membuat tubuh Javier menegang.
"Good night," Javier mengusap rambut Emma sebelum mengecup puncak kepala Emma dan tertidur.
Emma terbangun dari tidurnya karena merasa tenggorokannya kering. Ia sudah terbiasa bangun tengah malam karena haus.
"Tunggu dulu, kenapa seperti ada yang aneh di perutnya. Emma melihat kebawah dan kaget karena ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya dan memeluknya dari belakang. Emma berbalik dan hampir saja kedua matanya copot karena melihat siapa yang telah memeluknya. Ya, itu Javier yang saat ini sedang tidur dengan pulas nya.
"Ba...bagaimana bisa dia tidur disini," batin Emma yang terkejut.
"Aku harus segera turun dari sini, atau aku tidak akan kehilangan wajah ku besok pagi saat bangun. Malunya Tuhan..." batin Emma. Ia tidur di bawah saja. Memangnya ia mau tidur dimana lagi. Tidak mungkin ia membangunkan bibi Camala di jam seperti ini. Satu-satunya jalan terkahir adalah tidur di atas karpet saja.
Emma bangun, dengan penuh ke hati-hatian Emma menjauhkan tangan Javier dari pinggangnya berharap Javier tidak akan terbangun.
"Huh..berhasil juga," batinnya.
"Mau kemana?" tanya Javier dengan mata tertutup. Tangannya kembali ia lingkarkan dipinggang Emma untuk menahannya agar tidak pergi.