
Javier kembali dengan wajah kecewanya. Ia kehilangan jejak wanita itu. Ia menepis pikirannya jika itu bukanlah Caroline. Ia pasti salah lihat. Jelas-Jelas ia melihat jasad istrinya yang sudah meninggal. Mungkin saja wanita itu kebetulan saja mirip dengan Caroline.
"Dad, apa yang terjadi. Kenapa daddy berlari seperti mengejar sesuatu tadi?," tanya Leon.
"Itu tadi, ah lupakan saja. Daddy hanya salah mengenali orang," ucap Javier. Leon mengangguk.
"Kalian ingin makan dimana?" tanya Javier. Disepanjang jalan besar terdapat beberapa cafe dan restoran.
"Sesuaikan dengan pilihan anak-anak saja," ujar Emma.
"Ice cream shops saja mom, Zio mau makan Ice Cream," ucap Zio membuat Emma geleng kepala. Mereka sudah memakan ice cream tadi dan anak itu masih saja ingin memakannya.
"Tadi kan udah makan ice cream sayang. Kalau banyak-banyak gak bagus juga. Nanti Zio bisa sakit perut, besok lagi yah," pungkas Emma mengelus rambut Zio. Anak itu mengangguk paham.
"Cio mau makan steak mom," ujar Lucio.
"Leon mau spaghetti bolognese mom," pungkas Leoncio.
"Ya sudah, kita ke restoran yang itu saja," ujar Emma menunjukkan restauran di depan mereka.
Di restoran.
"Dad, Clavio anak uncle Nic imut kan," ucap Zio sembari mengunyah makanannya. Javier lalu mengangguk. Ia juga setuju dengan Zio.
"Zio pengen punya punya adik biar ada kawan bermain," ujar Zio spontan membuat Javier terbatuk. Emma pun demikian. Javier menghela nafas, menetralkan deru nafasnya.
"Kenapa kamu pengen adik kalau hanya untuk teman bermain. Kan ada Leon dan Cio yang akan menemanimu bermain," ujar Javier.
"Tapi Zio pengen adik yang kecil, bukan yang besar seperti kak Leon dan Cio. Kan Zio juga pengen jadi kakak. Lagi pula kak Leon dan Cio bilang mereka juga pengen punya adik karena bosan dengan Zio," ujar Zio dengan polosnya.
"Leon...Cio..." ujar Emma menatap kedua bocah kembar itu.
"Good boys, itu baru anak mommy," ujar Emma mengusap kepala Leon dan Cio.
"Gimana caranya mendapatkan adik untuk Zio dad, mom," tanya Zio membuat Javier dan Emma saling menatap bingung.
"Zio jangan bicara sambil makan, nanti kamu bisa tersedak," ujar Javier dingin. Zio mengangguk namun raut wajahnya cemberut. Sepertinya ia memang ingin memiliki adik.
"Mom.." cicit Zio menarik baju Emma. Seakan berharap Emma memberinya jawaban.
"Daddy mu benar sayang, nanti saja kita bahas. Sekarang Zio makan dulu ya," ujar Emma lembut. Zio akhirnya menyerah dan melanjutkan makannya.
"Nanti Zio tanyakan sama grandma saja," batinnya.
Setelah makan siang mereka kembali ke penthouse karena tidak ingin terlalu lelah, malam harinya mereka masih ada jadwal menghadiri acara peresmian hotelnya.
Javier yang baru saja selesai mandi bergabung dengan Emma yang sedang menonton di ruang tengah memangku Zio.
"Kemana Leon dan Cio?" tanya Javier menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Mereka sedang tidur di kamar," jawab Emma.
"Kamu manja banget sih nak, kaki mommy bisa kesakitan kalau kamu dipangku terus," ujar Javier mencubit gemas wajah putranya. membuat mata Zio yang hampir terpejam terbuka lagi.
"Jav, Zio hampir tidur dan kamu malah membuatnya bangun lagi," ucap Emma menatap kesal Javier lalu mengusap-usap rambut kepala Zio.
"Apa itu benar mom?" tanya Zio.
"Tidak sayang, kaki mommy gak sakit kok. Tidak usah dengarkan kata daddy. Kamu tidur lagi ya nak..," ucap Emma mengecup kepala Zio. Anak itu lalu memeluk tubuh Emma dan menaruh kepalanya di dada Emma.
"Zio mungkin sedang dalam mode manja. Biasanya kalau dia lagi manja pasti minta dipangku seperti ini," ujar Emma.