
Satu hari kemudian Javier sudah pulih dan kembali bekerja seperti biasa. Saat ini ia sedang berada di depan rumah Emma untuk menjemput kekasihnya itu tanpa memberitahu Emma. Javier mengambil ponselnya lalu menghubungi Emma.
"Aku tunggu di depan rumah mu," tukas Javier dari balik ponselnya.
"Apa?" pekik Emma terkejut saat Javier mengatakan jika ia sudah ada di depan rumahnya. "Baiklah aku akan segera kesana," ucap Emma lalu mematikan ponselnya.
Setibanya di depan rumahnya, Emma melihat Javier berdiri di samping mobil miliknya.
"Morning baby," ujar Javier mengecup bibi Emma.
"Ayo..." ajak Javier membuka pintu mobilnya untuk Emma. Setelah Emma masuk, Javier berjalan mengintari mobilnya dan duduk di kursi pengemudi.
Sepanjang jalan keduanya tampak mengobrol ringan di dalam mobil. Javier menghentikan mobilnya saat ada lampu merah. Sembari menunggu lampu hijau, Javier menyempatkan tangannya untuk mengelus paha Emma yang sedang memakai rok selutut sambil menatap jalanan yang ramai karena kendaraan. Emma yamg merasakan pahanya seperti di sentuh menatap ke bawah dan melihat tangan Javier bertengger di sana. Emma menggeleng tersenyum dan membiarkan tangan Javier tetap di sana.
Tak lama kemudian mereka tiba di kantor. Javier turun terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.
"Thanks," ujar Emma turun dari mobil. Javier merangkul pinggang Emma, namun wanita itu langsung menjauh.
"Jav, nanti orang-orang melihatnya," ucap Emma.
"Memangnya kenapa, kamu kekasih ku," balas Javier melingkarkan kembali tangannya di pinggang Emma. Emma hanya takut jika orang-orang di kantor menganggapnya sudah menggoda Javier hingga bos mereka bisa berpacaran dengannya.
"Sudahlah, aku tidak peduli dengan mereka. Jangan khawatir, aku akan memberi pelajaran pada mereka jika sampai berani mengataimu yang buruk-buruk di belakangku," ujar Javier seakan tau kekhawatiran Emma. Javier lalu membawa Emma menuju lift pribadi miliknya.
"Sayang, berikan aku kecupan penambah semangat," ucap Javier memajukan bibirnya ke depan wajah Emma. Keduanya sedang berada di depan ruangan Emma.
"Ihh..apaan sih, sana masuk ke ruangan mu, aku mau kerja," ujar Emma menjauhkan wajah Javier dengan tangannya.
"Aku akan terus seperti ini jika kamu tidak mencium ku, biarkan saja orang-orang melihatnya dan bertanya. Maka aku akan bilang jika kekasihku tidak memberikan ku cium_"
Emma langsung mengecup bibir Javier karena takut Javier akan melakukan apa yang baru saja dikatakannya.
"Mmmppthh.." Javier menahan kepala Emma untuk memperlama ciuman mereka. Emma yang takut ada karyawan yang lewat melirik ke samping kiri dan kanan. Emma memukul dada Javier agar melepaskan ciumannya. Ingatkan Emma lain kali untuk tidak percaya dengan perkataan Javier. Bagaimana tidak, Javier hanya meminta kecupan singkat, tapi apa ini. Ini bukan kecupan lagi.
"Oh maaf.." ucap Carlos yang tidak sengaja melihat adegan di depannya lalu pergi dari sana dengan cepat. Emma yang mendengar suara Carlos terbelalak dan mengakhiri mendorong tubuh Javier dengan kuat. Kalau tidak, Javier tidak akan melepaskannya. Pria itu tidak akan peduli dengan orang di sekitarnya.
"Jav, Carlos melihat kita," ujar Emma menahan malu.
"Aku tidak peduli sayang, btw bibirmu selalu manis," ujar Javier mengedipkan salah satu matanya kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Emma yang merona.
"Ya ampun....setelah ini Carlos pasti akan menginterogasi ku," gumam Emma tersadar. Ia kemudian masuk ke dalam ruangannya.