
Siang harinya Emma menemani Javier di kamarnya. Keduanya tampak sedang menikmati potongan buah yang ada di piring.
"Sayang, sepertinya aku harus segera melamar mu. Bagaimana jika minggu depan kita ke rumah orang tua kamu," ujar Javier yang sedang bersandar di kepala ranjang.
"Terserah kamu, aku ikut saja," pungkas Emma memasukkan sepotong buah ke mulutnya.
"Kita bawa anak-anak ya, mommy pasti senang. Sejak kemarin mommy nanya kapan aku pulang. Dan kalau pulang bawa anak-anak," ujar Emma.
"Maksudnya kamu bawa anak siapa?" tanya Javier tidak paham.
"Ya anak-anak kamu lah," timpal Emma.
"Loh, kok mommy kamu bisa kenal sama anak-anak?" tanya Javier menyandarkan kepalanya di bahu Emma. Sepertinya dalam dua bulan ini ia sudah melewatkan sesuatu.
"Kemarin mommy dan daddy datang selama 3 hari. Kebetulan anak-anak berkunjung ke rumah waktu itu, bahkan mereka udah bertemu di rumah sebelum aku pulang, mommy dan daddy senang banget sama anak-anak," ucap Emma.
"Wah..bagus dong. Itu artinya tinggal aku yang harus mengambil hati mommy dan daddy kamu. Anak-anak sudah dapat," ujar Javier tersenyum senang. Kedua orang tua Emma menerima anak-anaknya.
"Sepertinya mommy dan daddy juga suka sama kamu. Ya meskipun belum pernah bertemu. Mommy sering nanya aku kapan ngenalin kamu sama mereka. Ya kali aku bawa kamu ke rumah mommy, orang kita tidak punya hubungan spesial waktu itu," ujar Emma mengingat mommy nya yang sering menghubungi Emma malam hari hanya untuk mengetahui hubungan Emma dan Javier lebih dalam.
Javier menyelipkan anak rambut Emma ke belakang telinganya, "gimana kalau kita nikah aja minggu depan, toh orangtua kamu udah setuju. orangtua ku juga pasti sangat senang kamu jadi mantunya," bisik Javier mengelus lengan Emma naik turun. Emma merinding kala merasakan hembusan nafas Javier di belakang telinganya.
"Sepertinya bukan tubuh kamu saja yang demam, otak kamu juga ikut demam. Kamu kira menyiapkan pernikahan itu semudah membalikkan telapak tangan apa," ucap Emma memukul lengan Javier yang asal bicara.
"Tidak..tidak, itu terlalu cepat Jav__" belum juga Emma menyelesaikan perkataannya Javier sudah meraup bibir Emma. Emma yang terbuai dengan ciuman Javier ikut membalasnya. Satu tangan Javier tampak sedang mere*as buah dada Emma dari balik dress yang dipakainya. Emma yang membalas ciuman Javier tidak sadar saat Javier membuka kancing depan gaunnya hingga menampilkan dada besarnya yang masih ditutupi oleh bra hitamnya. Bibir Javier turun mengecupi leher mulus Emma.
"Ngghhh...Jav," lenguh Emma mere*as rambut kepala Javier. Pria itu semakin bersemangat melancarkan aksinya. Javier mengeluarkan salah satu gundukan kenyal milik Emma dari balik bra hitam Emma dan meremasnya kuat.
"Jav, sakit..jangan terlalu kuat," rintih Emma.
"Maaf baby, mereka sangat menggemaskan," ujar Javier serak. Ia mengecupi dada Emma berkali-kali sebelum meng*isap Puti*g nya.
"Sshhh..Javvhhhh..." lenguh Emma saat Javier memainkan dadanya. Emma semakin menekan kepala Javier ke dadanya.
"Ceklek...." refleks Emma mendorong kepala Javier dari dadanya saat mendengar suara pintu yang sedang di buka. Buru-buru Emma merapikan pakaiannya dan bergedik ngeri saat melihat puncak dadanya yang basah karena ulah Javier.
"Sayang.." ucap Javier serak, ia tidak tau kenapa Emma tiba-tiba mendorongnya.
"Ada yang datang Jav.." ucap Emma mengancing bajunya. Dan betul saja, Zio sedang berdiri di pintu sambil memegang boneka koala nya.
"Zio ada apa sayang," ujar Emma menatap Zio yang sedang mengucek matanya. Javier yang kesal karena ada yang mengganggunya membaringkan tubuhnya dengan asal dan berdecak kesal membelakangi tubuh Emma. Emma yang melihat tingkah Javier seperti anak kecil yang sedang merajuk terkekeh.
"Zio gak bisa tidur siang mom," ucap Zio merangkak ke atas tempat tidur. Anak itu langsung duduk di atas pangkuan Emma dan memeluknya.
"Ya sudah, Zio tidur di temani mommy aja," ujar Emma mengecup kepala Zio dan memeluknya. Sepertinya Zio sedang dalam mode manjanya.