
Emma dilema harus menjawab apa, masalahnya ia tidak mungkin mengiyakannya begitu saja. Ia tidak tau apakah Javier akan mengizinkannya.
"Mom, kenapa mommy diam," pungkas Zio.
"Apa kamu tidak keberatan jika menemani anak-anak sampai sore?" tanya Javier membuat Emma tidak menjawab perkataan Zio.
"I..iya Pak. Saya tidak keberatan kok. Saya akan menemani anak-anak," ujar Emma.
Setelah Emma setuju, Javier mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
"Drrrrt..drrrrt..." ponsel Emma bergetar. Ada panggilan masuk dari William. Sebelum Emma mengambil ponselnya, Javier sempat melihat nama Willian tertera disana. Semalam Carlos, sekarang William. Apa Emma begitu populer. Begitulah dalam pikiran Javier tidak suka saat Emma memiliki banyak kenalan pria.
"Sebentar mommy angkat telepon dulu," ujar Emma.
"Selamat pagi Mr William, ada yang perlu saya bantu?" ujar Emma.
"Begini nona Emma, saya berencana untuk mengajak anda makan siang bersama siang ini jika tidak keberatan. Apa anda punya waktu luang?" ujar William. Emma melirik Zio yang sedang berusaha untuk meminum orange juice yang sedikit kesusahan. Dengan cepat ia membantu anak itu untuk minum lalu tersenyum manis padanya.
"Maafkan saya Mr William. Sebenarnya saya tidak ingin menolak hanya saja hari ini saya sedang sibuk," ujar Emma menatap ketiga anak laki-laki di depannya.
"oh sorry if i have bothered you Miss Emma," ujar William.
"It's okay," balas Emma.
"Bagaimana jika lain kali saja saat anda sudah punya waktu luang," pungkas William.
"Baiklah Mr. William. Kalau begitu saya tutup teleponnya dulu," ujar Emma mengakhiri panggilannya.
"Siapa mom?" tanya Cio.
"Teman mommy," jawab Emma kembali menyuapi Zio.
Melihat cara makan dan porsi makan ke empat laki-laki yang ada di meja makan tersebut terlihat berbeda. Saat ada Emma di sana, perut mereka seakan tidak kenyang hingga tambah beberapa kali. Apalagi yang memasaknya adalah Emma.
"Perut Cio juga," timpal Cio. Bersandar di kursi karena kekenyangan.
Emma berdiri merapikan piring-piring yang mereka pakai.
"Biarkan pelayan yang melakukannya," ucap Javier saat melihat Emma mengumpulkan piring kotor.
"Tidak apa-apa Pak, biar saya saja," pungkas Emma.
"Saya sudah membayar mereka untuk bekerja disini," lanjut Javier dingin membuat Emma menghentikan kegiatannya. Bosnya memang tidak bisa dilawan.
Setelah sarapan, Emma mengajak anak-anak untuk mandi dan mengganti pakaian mereka.
"Ayo sayang, pakai baju dulu," ujar Emma membantu Zio memakaikan bajunya.
"Mom..," panggil Cio yang datang dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Emma melihat kebelakang, "ada apa Cio?" tanya Emma.
"Cio bingung mau pakai baju yang mana, mom yang pilihkan ya," ucap Cio. Lihatlah, biasanya ia sendiri yang memilih pakaiannya. Tapi hari ini, Cio lebih manja
karena ada Emma.
"Oke, mommy akan ke kamarmu setelah mommy siap memakaikan baju adikmu," tukas Emma. Cio mengangguk lalu berlari ke kamarnya.
Saat Emma ingin masuk ke dalam kamar Lucio, Camala datang menghampirinya.
"Nona, tuan menyuruh saya untuk memberikan pakaian ganti untuk nona," ujar Camala memberikan papar bag pada Emma yang masih bingung.
"Sepertinya tuan sangat perhatian pada anda. Ia tau anda tidak membawa pakaian ganti dan membelikan pakaian baru untuk anda," ujar Camala.
"Terima kasih bibi Camala," ujar Emma dengan wajah yang masih bingung masuk ke dalam kamar Lucio.