My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 49: Apa kamu sedang menggodaku



Ceklek..., Emma membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang. Ia pikir Stella yang menekan bel rumahnya.


"Ja..Javier, ada apa kamu datang malam-malam begini?" ujar Emma menatap Javier yang terlihat aneh. Tatapan yang penuh dengan gairah. Pria itu masih memakai pakaian kantornya. Tampaknya ia belum pulang ke rumah sejak tadi.


"Kenapa baru di buka. Aku sudah menghubungimu sejak tadi," ujar Javier. Diam-diam ia menatap bagian puncak dada Emma yang menonjol dari balik tanktop nya. Javier ingin marah, bagaimana bisa wanita di depannya berpakaian seperti itu. Untung saja dia yang datang. Bagaimana jika itu pria lain. Oh ayolah, dia masih pria normal yang pasti memiliki hasrat. Apalagi melihat wanita di depannya hanya memakai hotpants da tanktop tipis tali satu. Dan jangan lupa Emma juga tidak memakai bra. Ia sudah terbiasa seperti itu karena di rumah hanya ada Emma dan Stella. Lagi pula mereka jarang kedatangan tamu.


"Ponselku di kamar, aku sedang menonton di ruang tengah," balas Emma.


"Apa kamu sedang menggodaku hmm," ujar Javier menaik turunkan alisnya menatap tubuh Emma.


Emma mengikuti arah tatapan mata Javier dan terkejut melihat pakaiannya.


"Akhh..apa yang kamu lihat. Dasar mesum," pekik Emma memeluk tubuhnya. Wajahnya merona karena malu. Sial...sial..kenapa ia tidak sadar dengan pakaiannya. Pantas saja tadi tatapan pria di depannya aneh. Gerutu Emma.


Emma ingin berlari ke kamarnya namun ditahan oleh Javier. Dengan cepat Javier membawa Emma ke dalam pelukannya. Kedua tangannya berada di pinggang ramping Emma.


"Jav, apa yang kamu lakukan, lepaskan aku," ujar Emma mencoba mendorong tubuh Javier. Bukannya lepas, Javier malah mengeratkan pelukannya.


"Apa kamu tidak ingin mencoba satu ronde saja?" tanya Javier menggoda Emma. Sejak kejadian beberapa minggu lalu, Javier selau mengeluarkan kata-kata itu untuk menggoda Emma. Sangat lucu baginya melihat wajah kesal dan marah Emma.


"Hei.. aku tidak mabuk. Bagaimana bisa kamu mengatakan wajah fresh seperti ini sedang mabuk," balas Javier. Ia kemudian melepaskan pelukannya.


"Tadi teman lamaku mengajakku bertemu di bar karena ia baru kembali," ucap Javier memberitahu Emma. Entah kenapa ia mengatakannya. Javier melepaskan jasnya dan menaruhnya di sofa.


"Ah sudah lah, aku lapar sekali. Pulang kerja aku langsung menemui temanku tadi. Apa kamu punya makanan?" tanya Javier duduk di sofa.


"Aku tadi memasak untuk satu porsi saja, kenapa kamu tidak pulang saja. Lagi pula malam ini kamu akan berangkat ke Miami," ujar Emma. Secara tidak langsung mengusir Javier.


"Ralat, bukan hanya aku tapi kamu juga ikut," balas Javier santai mengambil cemilan milik Emma dan memakannya. Sepertinya ia memang sudah lapar.


"Aku tidak mau. Tapi kamu bilang aku tidak perlu ikut," ujar Emma tidak terima. Enak saja Javier sesukanya mengajaknya.


"Ini urusan pekerjaan Emma, kamu tidak bisa menolaknya," pungkas Javier.


"Jav, aku sudah janji dengan anak-anak untuk membawa mereka ke taman hiburan besok," ucap Emma. Ia tidak ingin mengingkari janjinya dengan ketiga anak laki-laki menggemaskannya. Apalagi kemarin ia sudah menundanya satu kali. Emma tidak ingin anak-anak kecewa.


"Kalau begitu mereka juga akan ikut," jawab Javier santai. Bahkan sekarang cemilan milik Emma sudah habis dimakannya.