My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 81: Masakan Caroline



"Dad..kenapa daddy diam saja. Apa daddy tidak senang mommy kembali," ucap Cio saat melihat Javier hanya diam saja tidak merespon Caroline.


"Hah...ya..daddy....daddy senang nak, hanya saja daddy terlalu kaget melihat mommy kalian yang tiba-tiba muncul," ujar Javier tidak ingin anaknya berpikiran yang aneh-aneh. Sebenarnya rasa kecewanya lebih besar dari rasa senangnya saat ini. Caroline membohonginya. Salah satu tangan Javier terulur untuk membalas pelukan Caroline.


"Jav, apa kamu sudah makan, aku memasak makanan untuk kita," ujar Caroline menghapus air matanya. Ia cukup senang karena Javier mengangguk. Ia akan melakukan apa pun untuk menebus kesalahannya selama 5 tahun ini.


"Iya dad, mommy masak yang banyak tadi. Kami juga ikut membantu mommy," ujar Leon senang berlari menuju ruang makan.


"Sayang, ayo kita makan dulu," ujar Javier menatap wajah Emma yang entah kenapa terlihat tidak secerah sebelumnya.


"Jav..." ucap Caroline dengan wajah bingungnya. Entah karena senangnya hingga ia baru menyadari jika ada wanita berdiri disamping Javier.


"Kenalkan, dia kekasihku. Lebih tepatnya calon istriku," ujar Javier tersenyum hangat menatap Emma. Caroline menatap Emma cukup lama, sebelum ia tersenyum pada Emma.


"Hai..aku Caroline, ibu anak-anak," ucap Caroline mengenalkan dirinya.


"Sa..saya Emma," balas Emma.


"Dad, mom cepatlah. Leon sudah lapar," panggil Leon yang sudah duduk di kursi ruang makan.


"ummm... kalau begitu aku pamit dulu. Sepertinya ada yang harus aku urus, permisi.." ucap Emma.


"Mom, jangan pergi. Kita makan dulu mom.." ujar Zio menahan tangan Emma. Caroline yang mendengar panggilan Zio pada Emma tampak mengernyitkan alisnya.


"Ta..tapi mommy___"


"Mom please.." timpal Cio. Akhirnya Emma mengangguk. Mereka lalu berjalan menuju ruang makan.


Caroline dengan sigap menyiapkan makanan untuk Javier. Ia mengambil piring untuk Javier.


"Tidak perlu, biarkan Emma yang menyiapkan makanan ku," ujar Javier seketika membuat Caroline terdiam.


"Baiklah," ucap Caroline menatap dalam piring ditangannya, wajahnya tampak sedih.


"Ah baiklah..aku siapkan makanan anak-anak kalau begitu," ucap Caroline menarik kedua sudut bibirnya.


"Masakan mommy Caroline tidak kalah enaknya dengan masakan mommy Emma," ucap Zio mengunyah makanannya.


"Mommy Emma juga sering membuat puding seperti ini mom," timpal Leon menunjuk puding di meja.


*****


Hari makin malam, Emma masih setia menatap kelima orang yang tampak sedang tertawa bahagia disana. Sesekali Javier melihat ke arah Emma dan tersenyum padanya. Seakan ingin memastikan wanitanya baik-baik saja.


"Apa kamu baik-baik saja," ujar Javier duduk disamping Emma. Emma lalu mengangguk.


"Jav..aku pulang dulu, besok aku datang lagi," ujar Emma.


"Tidak, bukankah kamu sudah setuju untuk tinggal disini, kenapa tiba-tiba ingin pulang," ujar Javier.


"Aku hanya ingin sendiri dulu, lagi pula anak-anak ada yang menemani mereka disini" pungkas Emma.


"Itu anak-anak, aku bagaimana?" ujar Javier menampilkan wajah cemberutnya.


"Astaga Jav...aku sedang serius. Kenapa kamu malah bercanda," ujar Emma.


"Aku juga serius sayang.." balas Javier.


"Jav, kumohon..aku ingin sendiri. Please..." ujar Emma memohon.


"Aku akan mengantarmu pulang,"


"Tidak perlu Jav, aku pulang sendiri saja," tukas Emma.


"Baiklah kalau begitu, kamu boleh pergi. Tapi dengan satu syarat.." ujar Javier.


"Apa?" tanya Emma.


"Kamu hanya boleh pergi jika itu ke apartemen ku," ujar Javier. Emma mengangguk, setidaknya ia tetap bisa menyendiri.


"Baiklah, aku pulang dulu. Katakan pada anak-anak kalau aku sudah pulang kalau mereka mencari ku," tukas Emma lalu mengecup bibir Javier sebelum pergi.