
"Jav, aku mandi dulu. Badanku rasanya lengket banget karena keringat," ujar Emma setelah mereka sampai di dalam kamar.
"Kita mandi bersama ya," pungkas Javier membantu Emma yang terlihat kesusahan melepas kancing belakang gaunnya. Emma langsung menggeleng, menolak keinginan Javier.
"Sayang...apa masih lama," tukas Javier turun dari tempat tidur mendekati Emma yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Sabar sayang, sebentar lagi, gak sabaran banget sih," balas Emma tersenyum melihat tubuh Javier dari pantulan kaca meja rias yang hanya mengenakan boxer hitam ketat sehingga mencetak miliknya.
"Tentu saja, kau tau aku hampir gila dua hari ini tidak menyentuhmu. Malam ini aku akan membalasnya," ucap Javier menyeringai. Dua hari ini Javier kesal karena tidak bisa menyentuh Emma. Itu karena Catalina ibu Javier mengajak Emma tidur di rumah mereka.
"Jav, rambutmu masih basah. Sini aku keringkan dulu," ujar Emma bangkit dari kursi. Javier duduk di kursi dan memeluk pinggang istrinya. Javier mendongak dan menatap dua gundukan besar istrinya. Javier menarik sudut bibir kirinya saat melihat istrinya tidak memakai apa pun di balik baju itu. Ia bahkan bisa melihat puncak dada Emma yang tercetak di balik gaun tidur yang di pakainya. Tangan Javier menyelusup ke dalam gaun tidur Emma dan mere*as salah satu gundukan besar milik Emma.
"Sayang sepertinya payu*ara mu semakin besar saja," ucap Javier mere*as kuat dada Emma membuat Emma meringis.
"Akhh..Jav..jangan terlalu kuat," pekik Emma meletakkan hair dryer di meja. Javier langsung bangkit dan meraup bibir sexy Emma. Emma yang terbuai dengan ciuman Javier mengalungkan kedua tangannya di leher Emma. Keduanya saling melu*at, menghi*ap dan saling memberikan kehangatan. Tangan Javier turun menyentuh bokong Emma dan mere*asnya kuat.
"Ahhh...Jav," ucap Emma menggelinjang saat tangan Javier mengusap area sensitifnya. Emma merasa kedua kakinya lemas dan akan merosot jatuh ke lantai. Untung saja Javier dengan sigap mengangkat tubuh Emma hingga wanita itu melingkarkan kedua kakinya di pinggang Javier. Pria itu membawa Emma menuju ranjang besar milik mereka. Ia merebahkan tubuh Emma disana tanpa melepaskan tautan bibir keduanya. Kini bibir Javier turun ke leher putih mulus Emma, menggigitnya dan memberi tanda kepemilikannya disana. Kini keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.
"Astaga sayang, kenapa kamu menanyakan itu?" ujar Emma kesal. Jelas-jelas Javier tau apa yang diinginkan tubuhnya. Biasanya Javier juga langsung memainkannya tanpa bertanya pada Emma.
Dengan rakusnya Javier menyambar pu*ing milik Emma dan menghis*pnya seperti bayi yang sedang kehausan. Satu tangannya ia gunakan untuk menyentuh hingga memelintir ujung dada milik Emma.
"Ahh....nghhh...Javhh," lenguh Emma menggelinjang hebat. Ia semakin menekan kepala Javier di dadanya agar lebih kuat meng*sapnya.
"Malam ini aku tidak akan membiarkan mu tidur sayang," ujar Javier serak karena gairahnya. Ciuman Javier turun ke area sensitif Emma.
"Lakukan Javhhh..lakukan sepuasmuhh.." rancau Emma menikmati permainan lidah Javier di area kewa.nitaan Emma.
"Javhhh....akuhh..tidak tahan lagi," rancau Emma mengerang kenikmatan semakin menekan kepala Javier.
"Jav.." pekik Emma saat ia mencapai puncaknya. Tubuhnya bergetar hebat dan nafas yang terengah engah karena klim.aks yang luar biasa.