My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 54: Daddynya gak di cium?



"Kalian tunggu di sini, daddy mau ngambil mobil dulu," ucap Javier.


"Jav, kita jalan saja gak sih. Lagi pula kan gak jauh. Sekalian jalan pagi," ujar Emma.


"Ya sudah kalau begitu, nanti jangan ada yang mengeluh karena capek jalan," ucap Javier.


Akhirnya mereka berlima memutuskan untuk jalan kaki menuju pantai. Kawasan Miami beach ini selalu ramai karena merupakan salah satu tujuan wisata yang paling trendi di Florida. Miami Beach sangat terkenal dengan klub sepanjang malam, restoran mewah, dan hamparan pantai putih tak berujung. Kota-kota ini memiliki arsitektur art-deco yang menakjubkan dan perpaduan budaya yang menarik dan beragam.


"Kita beli topi dulu yuk," ucap Emma mengajak ke ke empat pria di sampingnya. Emma memilih topi pantai yang cocok untuknya.


"Mom yang ini cocok tidak sama Cio," ujar Lucio memakai topinya. Emma menganggukkan kepalanya.


"Coba yang ini sayang, biar samaan sama kakak-kakak kamu," ucap Emma mengambil model topi yang sama dengan yang dipakai Lucio dan memberikannya pada Zio.


"Jav, kamu juga pakai topi yang sama kayak anak-anak ya," ucap Emma memakaikan topi fedora di kepala Javier tanpa persetujuan dari Javier.


"Kalian kok tampan-tampan banget sih," ucap Emma gemas mengecup pipi ketiga anak laki-laki itu.


"Daddynya gak dicium juga? katanya kami tampan tapi yang di cium cuma mereka," timpal Javier menggoda Emma. Sontak Emma terbelalak dan merona.


"Ralat, maksudnya mereka bertiga," ucap Emma membuat Javier tidak terima. Enak saja cuma anaknya saja yang tampan. Kan benihnya dari dia. Itu artinya ketampanan anak-anaknya datang dari dia juga.


"Kalau bukan karena aku yang tampan mereka juga tidak akan tampan," ujar Javier.


Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di pantai. Anak-anak langsung berlari menuju pantai sambil tertawa.


*******


"Mereka senang banget," ujar Emma duduk di samping Javier menatap ketiga anak laki-laki yang sedang membuat istana pasir.


"Aku senang melihatnya. Aku sangat jarang membawa mereka jalan-jalan. Biasanya kalau libur sekolah, mereka akan ke rumah mommy. Mommy dan daddy yang membawa mereka jalan-jalan," ujar Javier menatap ketiga putranya.


"Sejak ibu mereka meninggal, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan agar aku selalu sibuk agar tidak terbanyang-bayang dengan kematian istriku. Aku belum siap pada waktu itu. Hingga pada akhirnya aku hanyut dalam pekerjaan ku dan melupakan anak-anak ku," ujar Javier dengan raut wajah menyesal.


"Aku tau kamu sangat mencintai istrimu dan belum siap kehilangannya.Tapi kamu masih punya anak-anak yang membutuhkanmu di samping mereka. Istrimu pasti sedih di sana saat melihatmu mengabaikan anak-anak kalian," ujar Emma mengusap lengan Javier memberinya semangat.


"Ya, kamu benar. Saat melihat Leon menangis di mobil pada waktu itu, aku terpukul. Ternyata aku ayah yang buruk. Aku sadar jika selama ini mengabaikan mereka hanya karena kehilangan istri, seharusnya aku sadar kalau mereka juga kehilangan sosok ibu. Dan aku tidak ada disana untuk menguatkan mereka," balas Javier.


"Mom... ayo sini. Lihat istana pasir yang kami buat," panggil Leon menarik perhatian Emma dan Javier.


"Benarkah, baiklah sayang mommy dan daddy akan kesana melihatnya," ucap Emma mengajak Javier melihat istana pasir yang dibuat oleh ketiga bocah itu.


#Jgn lupa baca novel ku my hottest duda juga ya. trims