My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 48: Bunyi bel rumah



Emma tampak mondar-mandir di ruangannya. Ia sedang dilema apakah ia akan makan siang bersama Javier atau tidak setelah kejadian tadi pagi.


"Aishh.. , kenapa jadi begini sih," gerutu Emma hingga bunyi ponselnya terdengar. Emma lalu mengangkat ponselnya.


"Kenapa makan siang ku tidak datang sejak tadi," ucap Javier.


"Iya Pak, saya akan segera ke ruangan anda," ucap Emma cepat. Pada akhirnya ia tetap juga makan siang dengan Javier.


******


Satu bulan sudah Emma bekerja sebagai sekretaris Javier. Emma semakin kesal dengan tingkah Javier. Bayangkan saja, Emma bahkan harus datang dari ruangannya hanya untuk memberikan pena milik Javier yang jelas-jelas ada di meja Javier sendiri.


Hubungan anak-anak Javier dengan Emma juga semakin dekat. Hampir tiap hari mereka datang ke rumah Emma. Sepertinya di akhir pekan ini, ia akan mengambil waktu untuk me time.


"Selamat sore Pak Javier. Saya sudah memesan tiket pesawat anda dan penginapan selama di Miami Pak," ujar Emma. Javier kesana untuk menghadiri pembukaan hotel miliknya di kawasan Miami Beach.


Miami Beach adalah sebuah kota pantai di Miami-Dade County, Florida.


"Cancel saja, saya akan menggunakan jet pribadi milikku," ujar Javier.


"Kenapa dari tadi tidak dibilang coba," batin Emma kesal.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu" balas Emma.


Setelah membatalkan tiket pesawat yang di pesannya Emma kemudian pulang karena jam kerjanya sudah selesai.


drrt.....drrrtt...


"Aku sudah di depan kantormu, turunlah."


"Oke, aku akan segera kesana," ujar Emma pada William. Ya, William. Pria itu sepertinya memiliki rasa pada Emma. William selalu melakukan pendekatan pada Emma. Terlihat saat ini ia menjemput Emma dari tempat kerjanya.


"Apa kamu tidak keberatan jika aku mengajak mu makan?" tanya William.


"Tentu saja tidak. Tapi kali ini biarkan aku yang mentraktir mu. Tidak ada penolakan," ucap Emma telak. Dua kali mereka makan bersama, William selalu mentraktirnya. Sebenarnya Emma tipe orang yang tidak suka dibayari, hanya saja ia tidak ingin William sakit hati jika ia menolaknya.


"Hmm, baiklah kalau begitu nona manis," ujar Willian membuat Emma merona. Willian adalah tipe pria yang selalu memuji. Emma juga menyukai kepribadian William yang baik.


"Apa kamu sedang merona," tanya William terkekeh.


"Hei.. cepatlah. Perutku sudah keroncongan," alibi Emma mengalihkan pembicaraan. William mengangguk lalu menginjak pedal gas mobilnya.


Setelah makan, William langsung mengantar Emma pulang. Meskipun ia masih ingin berlama-lama dengan Emma. Tapi ia tidak ingin terlalu memaksa. Willian tidak ingin Emma jadi tidak nyaman di dekatnya.


William turun dari dalam mobilnya lalu membukakan pintu untuk Emma. Benar-benar tipe pria romantis. Idaman para wanita.


"Thanks," ujar Emma turun dari mobil.


"Aku pergi dulu," ucap William mengusap kepala Emma.


"Hati-hati," timpal Emma saat William sudah kembali ke dalam mobilnya.


Emma masuk ke dalam rumahnya. Emma langsung menuju kamarnya untuk mandi. Sebelum mandi ia melihat notif di ponselnya. Stella mengirimkan pesan jika ia akan pulang lama. Kuncinya tinggal dan Stella berpesan agar Emma membukakan pintu untuknya nanti.


Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan angka 9. Emma tampaknya sangat serius menikmati tayangan televisi yang ada di depannya sembari mengunyah cemilan yang ada di mulutnya.


Ting nong..Ting nong...Ting nong... bel rumah berbunyi.


"Aishhh...iya, iya. Aku datang Stell, gak sabaran banget sih," ujar Emma kesal mendengar bunyi bel rumahnya di tekan berulang kali.