My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 85: Tidak Ingin Menjadi Penghalang



"Aku tidak tau jika ternyata saat itu Caroline dipaksa oleh paman dan bibinya agar mau menikah dengan ku. Dengan alasan untuk membayar hutang budi pada mereka karena sudah membesarkannya. Yang aku tau saat itu adalah pamannya mengatakan jika Caroline sangat mencintaiku," ucap Javier melanjutkan ceritanya.


"Pamannya juga mengancam Caroline akan menghabisi kekasihnya jika sampai Caroline menolak perjodohan itu. Paman Caroline tidak merestui hubungan Caroline dengan kekasihnya yang bernama Xander karena mereka tau kalau kekasih Caroline adalah pria miskin yang merupakan pengurus taman rumah mereka," Javier menghela nafasnya. Sementara Emma hanya diam saja, menunggu penjelasan Javier selanjutnya.


"Ternyata selama ini Xander selalu mengawasi Caroline. Menunggu waktu yang tepat untuk membawa Caroline kembali ke sisinya untuk membalaskan dendamnya pada Caroline karena meninggalkannya dan menghinanya. Xander mengancam Caroline dengan menjebaknya dengan menciptakan sebuah skandal dengan Caroline dan akan menyebarkannya ke publik jika sampai Caroline tidak mau mengikuti perkataannya. Caroline yang takut akhirnya mengikuti semua perintah Xander. Hingga akhirnya Xander mengatur semua rencana kecelakaan itu dan membawa Caroline pergi jauh. Xander memaksanya untuk menikah dan sekarang mereka punya satu anak laki-laki berusia 3 tahun."


"Lalu bagaimana caranya Caroline bisa kembali ke sini?" tanya Emma dengan air mata yang sudah membasahi pipinya mendengar cerita tentang Caroline.


"Caroline pergi dengan diam-diam. Awalnya ia pikir Xander akan menemukannya seperti sebelum-sebelumnya, tapi sampai sekarang Xander tidak menemukannya," ucap Caroline.


"Jav, Caroline pasti tertekan selama 5 tahun ini hidup bersama Xander," pungkas Emma sedih.


"Kita harus membebaskan Caroline dari pria itu," ucap Emma.


"Ya sayang, kamu betul. Saat Caroline mengatakan itu aku marah besar dan mengajak Caroline untuk membawaku pada pria itu, Caroline menahan ku. Aku tidak tau kenapa dia melarang ku. Ia bahkan sampai menangis memohon padaku. Caroline bilang tidak ingin anaknya menjadi taruhannya," ujar Javier. Keduanya kembali hening.


"Jav..." panggil Emma.


"Sepertinya akan lebih baik jika pernikahan kita dibatalkan saja," ucap Emma membuat Javier bangun dengan wajah marah.


"Apa maksudmu? kenapa kamu mengatakan itu hah," bentak Javier.


"Aku...aku ingin kamu dan Caroline bersatu kembali Jav. Akan lebih baik jika Caroline kembali bersama mu, agar pria itu bisa melepaskan Caroline. Aku merasa Caroline lebih pantas untuk mu," ujar Emma terisak. Ia ingin egois, tapi ia juga tidak ingin Caroline menjadi tawanan pria itu selamanya. Ia tidak ingin merebut Javier darinya. Lagi pula Javier berpisah dengan Caroline karena pria itu. Kalau saja pria itu tidak muncul, Javier dan Caroline akan menjadi keluarga bahagia.


"Kumohon, jangan pernah mengatakan itu, aku sangat mencintai mu sayang," pungkas Javier memohon memeluk tubuh bergetar Emma. Ia sangat mencintai wanita di pelukannya itu. Baginya Caroline memang bagian dari hidupnya, tapi itu dulu. Sekarang Javier menganggap Caroline hanya sebagai ibu dari anak-anaknya.


"Sayang...siapa bilang kamu penghalang hmm," ujar Javier menangkup wajah Emma dan mendekatkan wajahnya. Javier menghapus air mata Emma lalu mengecup bibirnya.


"Caroline bahkan suka jika kamu menjadi ibu sambung anak-anak," ujar Javier membuat Emma tercengang.


"Sepertinya ia mencintai Xander lagi. Aku bisa melihatnya dari caranya memohon padaku saat aku berkata ingin menghabisi laki-laki itu," pungkas Javier.


"Jadi, apa kamu masih ingin meninggalkanku setelah mendengar penjelasanku," pungkas Javier menatap netra Emma. Wanitanya menggeleng lalu tersenyum.


"Bagus, jangan pernah sekalipun untuk meninggalkanku. Karena kemanapun kamu pergi aku akan mengejar mu," ucap Javier penuh penekanan. Pria itu menunduk dn mengecup dada Emma bergantian yang sejak tadi menggodanya.


"Akh..Jav.." pekik Emma dengan cepat menarik selimut untuk menutupi dadanya. Emma tidak menyadari selimut yang menutupi tubuhnya melorot sanking seriusnya mendengar penjelasan.


"Bagaimana kalau ronde kedua sayang.." ujar Javier menggoda Emma.


"Tidak, kita harus menemani Zio tidur," tolak Emma.


"Sekali lagi saja sayang.." pinta Javier dengan mata puppy eyes nya.


"No Jav, aku tidak yakin kamu melakukannya hanya sekali lagi. Belum lagi besok kamu memintanya lagi. Kita kembali ke kamar Zio saja ya," ujar Emma dengan nada membujuk agar Javier mendengarkannya.


"Hufft...ya sudah, ayo.." ajak Javier turun dari atas tempat tidur dan memakai bajunya.


#Jangan lupa untuk like, vote dan kasih hadiahnya ya😊😊