
Sabtu sore Emma mengajak anak-anak untuk makan di salah satu restoran di California. Mereka menyebutnya kencan. Ya, anak-anak mengatakan jika mereka ingin kencan dengan Emma sepertinya yang dilakukan orang-orang dewasa. Tak lupa juga mereka mengajak William. Beberapa kali mereka tak sengaja bertemu William di taman bermain bersama Audrey keponakannya yang seumuran dengan Zio. Akhirnya mereka semakin kompak.
"Mom, aku tampan kan malam ini," ucap Leon merapikan dasi kupu-kupu nya.
"Tentu saja sayang, kalian bertiga selalu tampan," balas Emma.
"Mom...kenapa uncle William belum datang dengan Audrey," ujar Leon. Mereka baru saja tiba di restoran 5 menit yang lalu.
"Sabar sayang, sebentar lagi mereka juga akan datang. Mungkin karena hujan. Jadi mereka sedikit terlambat," ucap Emma mengusap kepala Leon.
Tak lama setelah itu William datang bersama Audrey keponakannya.
"Maaf membuat kalian menunggu, Audrey sepertinya ingin tampil cantik malam ini karena ada Leon. Kakak ku sampai dibuat pusing hanya kerena Audrey terus mengganti pakaiannya untuk mencari gaun yang cantik menurutnya," ucap William terkekeh mengelus rambut keponakannya. Sepertinya Audrey menyukai Leon.
"Uncle, jangan sentuh rambut Audrey, nanti rusak lagi," ujar Audrey kesal mengerucutkan bibirnya.
"Oh..ok ok. Uncle minta maaf," ucap William membantu Audrey duduk di kursinya.
William lalu memanggil pramusaji. Mereka pun memesan makanan dan minuman. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.
"Selamat makan," ujar Emma menampilkan senyum manisnya. Mereka pun mulai menyantap hidangan yang tersedia di depan mereka.
"Jav, kamu sedang melihat apa?" tanya Valery mengikuti arah tatapan Javier.
"Bukankah itu Emma dan ketiga anak mu, kenapa Emma membawa mereka kesini dan tentu saja dengan pria lain," ujar Valery membuat suasana semakin panas. Javier hanya diam saja dengan tatapan yang masih tertuju pada meja no 20.
"Berani sekali sekretaris mu mengenalkan anak-anak mu dengan pria lain. Sepertinya ia punya rencana lain di balik itu," lanjut Valery.
"Diam lah Valery, jangan mencoba memprovokasi ku," gertak Javier.
"Aku hanya peduli dengan mu Jav, sejak awal aku sudah punya firasat buruk dengan sekretaris mu itu. Dia bukan perempuan baik-baik. Sepertinya dia ingin mengambil hati mu dan anak-anak mu untuk mendapatkan uang mu. Dan sekarang juga ia sedang mencari mangsa lain," ujar Valery dengan senyuman liciknya.
"Tutup mulutmu, jangan coba-coba memancing amarah ku Val, aku yang lebih tau Emma itu seperti apa. Pergilah, sepertinya aku tidak punya selera lagi untuk makan," ucap Javier dingin. Ia tidak suka saat Valery menjelek-jelek kan Emma didepannya.
"Jav, kamu mengusir ku," tukas Valery mengerutkan kedua alisnya.
"Sudah lah, kamu pergi saja. Ini pertemuan kita yang terakhir kalinya. Jangan pernah temui aku lagi," ucap Javier dingin menghempaskan tangannya mengusir Valery.
"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkan mu," batin Valery pergi meninggalkan Javier dengan wajah kesal dan marahnya.