
Saat Emma keluar dari kamar Zio ia melihat bibi Camala membawa nampan berisi makanan.
"Bibi Camala, ini makanan untuk Zio ya?" tanya Emma.
"Iya nona, untuk tuan muda Zio dan si kembar," balas Camala. Emma mengernyitkan alisnya karena sudah jam 8 begini mereka belum makan.
"Sebenarnya sejak tadi saya sudah membujuk mereka untuk makan tapi tidak mau nona. Sepertinya mereka sedang merajuk. Tuan Javier memarahi mereka karena Zio terjatuh dan melarang mereka keluar dari kamar. Tuan Javier tadi terlihat marah, bahkan kami semua juga kena imbasnya. Sebenarnya ini kesalahan bibi yang tidak memperhatikan mereka saat bermain tadi sore," ucap Camala merasa bersalah.
"Bibi, makanannya antar ke kamar Zio saja. Saya yang akan mencoba membujuk si kembar agar mau makan," ujar Emma.
"Baik nak," balas Camala berjalan menuju kamar Zio setelah menunjukkan kamar Leon dan Cio.
"Sebaiknya aku dari kamar Leon saja dulu," ujar Emma membuka pintu kamar Leon namun kosong. Emma terkesan melihat desain kamar Leon yang sangat bagus seperti kamar Zio. Hanya saja yang membedakannya dari segi desainnya. Dinding kamar Leon di desain dengan gambar benda-benda angkasa. Sementara kamar Zio dindingnya dihiasi oleh wallpaper kartun.
"Apa Leon ada di kamar Cio ya," gumam Emma berjalan ke arah kamar Cio berdekatan dengan kamar Leon.
"Ceklek.., Emma membuka pintu kamar Cio dan melihat kedua anak itu sedang tertidur. Leon tidur telungkup sedangkan Cio tidur dengan posisi menyamping. Emma melihat bekas air mata di pipi Leon. Entah kenapa hatinya sakit melihatnya.
Emma duduk di tepi ranjang, tangannya mengelus lembut rambut Leon. Merasa seperti ada yang menyentuh kepalanya Leon terbangun dan terkejut melihat Emma ada di depannya. Leon mengedipkan matanya berkali-kali seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Leon bangun dengan mata sembabnya dan menatap Emma yang tersenyum padanya.
"Kak Emma..." gumam Leon.
"Iya.., ini kakak sayang.." ujar Emma. Leon langsung memeluknya. Anak itu menangis sesenggukan di pelukan Emma.
Cio yang mendengar suara Leon menangis terbangun dan juga terkejut saat melihat Emma ada di kamarnya.
Melihat Cio terbangun, Emma merentangkan satu tangannya mengajak Cio kepelukannya.
"Zio baik-baik saja kok, hanya luka di bagian kening dan lututnya saja," jawab Emma.
"Apa kalian ingin melihatnya?" tanya Emma. Leon dan Cio mengangguk senang namun seperkian detik kemudian wajah mereka berubah.
"Jangan khawatir, kakak ada di pihak kalian," ujar Emma seakan tau apa yang ditakutkan si kembar.
"Kalian juga belum makan malam kan, kita makan di kamar Zio ya," ucap Emma.
"Oke mom.." ujar Cio menutup mulutnya saat menyadari apa yang di ucapkan nya. Apalagi Emma tiba-tiba menatapnya.
"Kak...., apa kami juga bisa memanggil kakak seperti panggilan Zio pada kakak?" tanya Leon pelan.
Emma mengangguk, "Tentu saja bisa.." ujar Emma dengan senyum hangatnya.
"Yeay..., kami sayang mommy," ucap Leon dan Cio kompak lalu memeluk kembali tubuh Emma.
"Ceklek..." pintu terbuka.
"Apa kalian tidak akan makan lagi?" ucap Javier dingin terperanjat melihat Emma bersama Leon dan Cio sedang berpelukan. Ketiga orang yang berada di tempat tidur itu juga sama terkejutnya dengan Javier yang menghentikan momen bahagia Leon dan Cio.
"Saya akan mengajak mereka makan malam Pak," ucap Emma.
"Baiklah kalau begitu, saya ke kamar Zio dulu," ujar Javier lalu pergi.
"Ayo, kalian harus makan dulu..." ajak Emma. Leon dan Cio turun dari tempat tidurnya. Ketiganya kemudian menuju kamar Zio.
#Hai semuanya para readers tersayang, jgn lupa kasih love, rate, hadiah dan vote nya ya. Terima kasih.