
Acara amal pun di mulai. Sebelum masuk ke acara lelang, beberapa penyanyi menyumbangkan suaranya untuk menghibur semua orang yang ada di ruangan megah tersebut. Javier juga bertemu dengan beberapa teman bisnisnya disana dan mengenalkan Emma kekasihnya pada mereka.
"Emma," panggil seseorang dari belakang. Emma dan Javier lalu menoleh ke belakang dan melihat siapa yang memanggil Emma.
"William.." ujar Emma tersenyum bangkit dari kursinya.
"Kamu disini juga," ujar William.
Emma mengangguk, "Javier mengajak ku," ujar Emma. William lalu melihat ke arah Javier yang menatapnya dingin.
"Willi..." panggil seorang wanita menghampiri mereka.
"Valery," batin Emma terkejut saat Valery memanggil William.
"Oh kamu sudah kembali," ujar Willian pada Valery yang baru saja kembali dari toilet.
"Val, ini Emma dan Javier," ujar William mengenalkan Emma dan Javier pada Valery.
"Oh..aku sudah mengenalnya," ujar Valery ketus. Menatap sinis ke arah Emma dan Javier.
"Ayo kembali ke meja kita," ujar Valery menarik tangan William.
"Kalau begitu aku kembali ke meja ku dulu Emma," ujar William. Emma mengangguk.
"Sejak kapan William dan Valery dekat. William tidak pernah mengatakannya pada ku," ujar Emma pada Javier. Pria itu menghardik kan bahunya seakan tidak mau tau.
"Lagi pula itu bagus untuk mereka, dengan begitu William tidak akan mendekatimu lagi," lanjut Javier.
"Sayang kamu yakin ingin meminum wine nya?" tanya Javier saat melihat kekasihnya tampak mengambil gelas yang berisi red wine.
"Aku hanya mencobanya sedikit saja, tidak banyak. Aku janji," lanjut Emma.
"No, letakkan itu di meja sayang. Kamu minum yang ini saja," ujar Javier menyodorkan jus pada Emma. Pasalnya kekasihnya itu tidak bisa kompromi dengan minuman beralkohol. Kemarin Emma pernah mencobanya saat mereka sedang menghadiri acara pernikahan salah satu temannya di dunia bisnis. Emma sempoyongan. Padahal ia hanya minum setengah gelas saja.
"Oke, sedikit saja. Ingat...hanya sedikit.." ujar Javier tidak tahan melihat tingkah aneh Emma yang tampak mengayun-ayunkan gelasnya tidak ingin meletakkannya di meja. Emma mengangguk lalu menyesap sedikit wine digelasnya. Ia hanya minum sedikit saja sesuai perintah Javier. Lagi pula ia tidak ingin mabuk.
"Jav..." panggil Emma pada Javier yang tampak serius melihat acara lelang. Baru saja ia membeli barang lelang berupa lukisan klasik karya seniman terkenal di dunia dengan penawaran tertinggi.
"Kenapa sayang, apa kamu bosan.." ujar Javier lembut menatap Emma.
Emma menggeleng, "Apa kamu marah jika aku menyumbangkan kalung dan gelang yang ku pakai ini untuk lembaga amal ini," ujar Emma mengingat ada banyak berlian yang diberikan Javier padanya selain yang dipakainya sekarang.
"Tentu saja tidak sayang, asalkan kamu melakukannya dengan ikhlas dan tulus," ujar Javier mengusap tangan Emma. Emma mengangguk lalu berterima kasih pada Javier.
Acara amal pun selesai. Javier menghubungi supirnya untuk datang menjemput mereka.
"Sayang ayo, supir sudah menjemput kita," ajak Javier. Emma lalu mengambil tas lalu berjalan disamping Javier. Pria itu spontan melingkarkan tangannya di pinggang Emma seakan mengatakan jika Emma adalah miliknya kepada para lelaki yang sedang menatap Emma penuh damba.