My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 41: Tidur atau dicium



Emma gelagapan, "Pak..., itu..kenapa Pak Javier tidur disini?" tanya Emma terputus-putus. Lihatlah, sekarang rasa hausnya bahkan hilang karena Javier.


"Memangnya kenapa? ada yang melarang? ini rumah saya. Jadi saya bebas ingin tidur dimana saja," ucapnya menatap Emma yang sedang menelan ludahnya.


"Aish...memangnya yang bilang ini bukan rumahnya siapa coba," batin Emma membenarkan perkataan Javier. Masalahnya adalah, tidak mungkin kan dia tidur disini juga. Jelas-jelas dia tau Emma ada disana.


"Sa..saya tidur di bawah saja Pak," ujar Emma grogi.


"Tidak.." ucap Javier dengan cepat menarik tubuh Emma hingga berbaring kembali.


"Pak...sa__"


"Kamu berisik sekali sih, sebaiknya kita tidur saja. Aku mengantuk sekali," ucap Javier kembali memeluk pinggang Emma seakan tidak bersalah. Apa ia tidak tau kalau jantung Emma hampir copot dari tubuhnya hanya karena perlakuan Javier.


"Pak_"


"Tidur atau aku akan mencium mu sekarang juga," ucap Javier. Emma akhirnya pasrah. Bahkan sekarang ia pasti tidak akan bisa tidur lagi. Ia hanya berbaring kaku di atas tempat tidur.


"Good girl," ujar Javier saat Emma tidak berkutik lagi.


Lima menit berlalu, namun Emma tak kunjung tidur. Ia bergerak tidak nyaman ditempatnya.


"Ouchh.." pekik Javier.


"Bapak kenapa?" tanya Emma.


"Diam lah Emma, jangan bergerak-gerak seperti itu. kamu membangunkan sesuatu yang dibawah sana," tukas Javier sukses membuat Emma terbelalak. Ia tentu saja mengerti apa yang dikatakan oleh Javier. Wajahnya seketika merona menahan malu. Adakah yang bisa membawanya keluar dari kamar itu sekarang. Apalagi ia bisa merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana. Emma merinding ditempatnya.


"Apa bisa hanya seperti itu, miliknya bereaksi," batin Emma dengan pikirannya yang mulai liar.


"Tidak.., tidak.., hentikan pikiran kotor mu Emma," batin Emma. Ia merasa jika Javier semakin mengeratkan pelukannya ditubuhnya. Bahkan deru nafas Javier lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. Pria itu sedang menahan hasrat dalam dirinya. Emma sukses membangunkan sisi liarnya. Hingga akhirnya bunyi suara perut kelaparan Javier terdengar. Ia melewatkan makan malamnya.


"Pak," panggil Emma saat mendengar perut Javier yang berbunyi.


Bukannya berhenti, perut keroncongan Javier malah terus berbunyi.


"Emm, Pak," panggil Emma lagi.


"Hmmm.." gumam Javier.


"Sebaiknya anda makan dulu, tidak baik membiarkan perut keroncongan saat tidur," ucap Emma.


"Aku tidak selera, makanan semalam pasti sudah dingin," balas Javier.


"Apa anda ingin dimasakkan sesuatu?" tanya Emma.


"Apa kamu tidak keberatan jika aku memintamu untuk memasak," ujar Javier.


"Tentu saja tidak, ayo..., saya akan membuat makanan untuk anda," tukas Emma bangkit. Javier ikut bangkit. Keduanya lalu berjalan menuju dapur mewah rumah Javier. Emma bahkan ingin tiap hari ada di dapur karena sangat menyukai desain dapur Javier. Semua perlengkapan memasaknya juga lengkap dan berkualitas.


"Pak Javier duduk saja dulu, saya akan menyiapkan makanan anda," ujar Emma. Javier menurut lalu duduk di kursi. Emma melangkahkan kakinya menuju kulkas dan mencari sesuatu yang bisa ia masak tanpa memakan waktu yang banyak. Akhirnya Emma memilih untuk membuat spaghetti saus bolognese.


Sejak tadi Javier hanya memandang Emma yang sedang memasak. Hingga ia tidak sadar jika Emma sudah menyajikan spaghetti nya di depannya.


"Pak...Pak..," panggil Emma. Javier lalu tersadar.


"Ayo dimakan," ujar Emma.


"Kamu tidak makan?" tanya Javier saat melihat hanya ada satu piring saja disana.


"Tidak Pak, saya tidak lapar. Kalau begitu saya kembali ke kamar Zio dulu," ucap Emma.


"Jangan pergi dulu, temani saya makan," pungkas Javier menarik tangan Emma dan menuntunnya duduk di kursi disampingnya. Emma mengangguk mengiyakan permintaan Javier.