
Emma sedang menikmati cemilannya di taman bunga yang ada di samping rumah mereka sembari melihat media sosialnya dan memosting beberapa fotonya dengan Stella sahabatnya. Baru saja mereka bertemu di sebuah cafe untuk melepas rindu. Stella juga sudah menikah dan sekarang sahabatnya itu sedang mengandung. Usia kandungannya 2 bulan. Beda 3 bulan dengan usia kandungannya.
"Sayang...kamu disini. Aku cari kamu kemana-mana tadi," ucap Javier datang dengan stelan kantor berwarna pink. Javier duduk di samping Emma.
"Kenapa kamu cepat sekali pulangnya. Tidak seperti biasanya," ujar Emma menyodorkan buah anggur ke mulut Javier. Pria itu langsung menerimanya.
"Aku sengaja pulang cepat. Ini semua karena baju sialan ini," ujar Javier kesal. Ia tidak pernah memakai stelan kantor yang warnanya mencolok sekali. Biasanya Javier hanya memakai jas berwarna hitam atau navy saja.
"Hahahaha. Kamu tampan memakainya sayang," ujar Emma tertawa melihat raut wajah kesal suaminya.
"Semua karyawan di kantor menatap aneh padaku. Aku tau mereka menertawai ku di belakang. Carlos bahkan tertawa mati-matian melihat penampilanku," ujar Javier. Istrinya memaksanya untuk memakai stelan kantor serba pink karena mengidam. Javier tidak bisa menolak jika itu permintaan bayi mereka.
"Tapi baby yang pengen.." ujar Emma.
"Untung saja ini permintaan baby kita. Kalau tidak mana mau aku memakai baju seperti ini," ucap Javier mengelus perut istrinya.
"Sayang.." panggil Emma.
"Hhmmm..."
"Aku pengen makan masakan kamu," ujar Emma.
"Astaga..apa lagi ini sayang. Aku sudah bilang tidak bisa memasak. Yang ada perutmu nanti akan sakit," ucap Javier menolaknya. Sudah ke tiga kalinya istrinya meminta hal yang sama dan Javier menolaknya.
"Kita pesan makanannya saja ya," bujuk Javier.
"Kamu selalu bilang seperti itu, baby dan aku pengen makan masakan mu bukan yang lain. Kamu jahat banget sih. Masa itu saja tidak bisa. Kamu gak sayang baby ya.." ujar Emma dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Akhir-akhir ini Emma sangat sensitif karena kehamilannya. Emma pergi meninggalkan Javier sendirian.
"Aku salah lagi..." gumam Javier mengejar Emma dan memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang..maafkan aku ya. Kamu mau makan apa hmmm. Aku akan memasaknya," ujar Javier lembut. Tidak ingin membuat istrinya marah. Kalau tidak ia tidak akan dapat jatah malam ini. Satu minggu tidak melakukannya dengan istrinya membuatnya sakit kepala.
"Spaghetti Bolognese," ujar Emma.
"Kamu disini dulu ya sayang, aku akan memasaknya," ucap Javier mengecup kepala istrinya yang duduk di kursi mini bar rumah mereka.
Javier melihat tutorial dari you tube dan mulai menyiapkan bahan-bahannya. Javier melepaskan jasnya dan menggulung lengan bajunya. Emma yang menatap penampilan suaminya itu menelan ludah. Suaminya terlihat lebih sexy, ditambah lagi wajah suaminya yang terlihat fokus memasak.
"Sayang ada apa," ujar Javier saat istrinya tiba-tiba menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Suruh pelayan saja yang membuatnya, aku pengen peluk kamu sekarang," ucap Emma.
"Astaga...bumil memang mood-mood an ya," gumam Javier terkekeh. Javier memanggil pelayan untuk melanjutkan pekerjaannya dan membawa istrinya menuju ruang santai.
Setengah jam kemudian pelayan datang mengantar spaghetti pesanan Emma dengan wajah merona karena melihat kemesraan kedua majikannya. Emma duduk diatas pangkuan Javier yang hanya mengenakan celana kerjanya saja. Emma memeluk tubuh berotot suaminya dengan kepala di dada Javier.
"Tuan..saya ingin mengantarkan makanannya," ujar pelayan menaruh makanannya di atas meja. Pelayan itu kemudian pamit dengan cepat karena malu melihat kedua majikannya. Pelayan itu tidak sengaja melihat tangan Javier yang sedang mere*as bukit kembar Emma. Emma yang meminta suaminya melakukan itu, karena ia merasa puncak dadanya terasa gatal.
"Sayang mau makan sendiri atau disuapin?" tanya Javier.
"Aku makan sendiri saja," ujar Emma. Javier mengeluarkan tangannya dari dalam dress Emma dan menurunkan istrinya dari pangkuannya. Javier merebahkan tubuhnya di atas sofa, kepalanya mendekati perut buncit istrinya dan menyanyikan lagu untuk anaknya.
"Akh..." pekik Emma.
"Ada apa sayang.." ucap Javier khawatir.
"Baby menendang, mungkin karena mendengar suara mu," ucap Emma tersenyum.
"Benarkah," pungkas Javier terkejut.
"Princess daddy suka ya kalau daddy bernyanyi," ujar Javier mengelus perut Emma.
"Kamu mau lagu apa lagi, daddy akan menyanyikannya untuk mu," ucap Javier.
"Twinkle Twinkle Little Star dad," ucap Emma menirukan suara anak kecil. Javier lalu mengangguk dan kembali bernyanyi.