My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 44: Sayang juga tidak keberatan



Emma sudah selesai mandi, saatnya ia memakai pakaiannya. Tadi setelah Emma memilih baju Cio, ia meminjam kamar mandi Cio untuk membersihkan dirinya. Emma meraih paper bag yang ada di atas tempat tidur dan membukanya. Matanya terbelalak saat melihat isi paper bag. Betapa terkejutnya ia melihat ada bra dan cd yang senada disana. Ia pikir Javier hanya memberikan pakaian.


"Apa dia yang membelikan ini semua," batin Emma yang merona karena malu.


Emma memakai cd dan bra nya. Lagi-lagi Emma terkejut saat tau ukuran cd dan bra uang dipakainya pas di tubuhnya.


"Astaga...bagaimana bisa pas ditubuh ku?" gumam Emma tak percaya. Bagaimana bisa Javier tau ukuran bra yang dipakainya.


"Tidak...aku yakin bukan dia yang membeli ini, mungkin saja bibi Camala," batin Emma.


Emma keluar dari dalam kamar Lucio mengenakan dress putih selutut bermotifkan bunga dan jangan lupakan harga bajunya yang mahal.


*******


Sore harinya Emma menemani anak-anak bermain di halaman rumah Javier yang begitu luas. Leon dan Cio menaiki mobil mainan mereka mengelilingi halaman rumah. Sedangkan Emma bermain Lego dengan Zio.


"Zio, ayo naik.." ujar Leon mengajak adiknya. Zio yang sudah bosan bermain Lego mengiyakan ajakan kakaknya. Zio dengan hati-hati duduk di samping Leon.


"Bermainnya pelan-pelan saja ya, kaki Zio belum pulih sepenuhnya," ujar Emma.


"Oke mommy," balas Leon.


Emma duduk sendiri di atas rumput beralaskan kain putih. Ia mengambil buah apel dari dalam keranjang dan memakannya sembari memperhatikan anak-anak.


Rasanya waktu berjalan begitu cepat saat ia bersama ketiga anak laki-laki itu.


Javier berjalan mendekati Emma lalu duduk disampingnya.


"Sama-sama Pak," ujar Emma tersenyum. Ia baru melihat Javier setelah sarapan tadi pagi. Emma tidak tau kemana Javier pergi sejak tadi.


"Sejak sarapan saya tidak melihat anda lagi, Pak Javier pergi kemana?" tanya Emma.


"Memangnya kenapa? apa kamu mulai kehilangan sesuatu saat saya tidak ada," ucap Javier percaya diri. Emma terbelalak mendengar perkataan pria di sampingnya. Kalau bukan karena ada maksud lain ia tidak akan menanyakan itu.


"Lupakan saja," ucap Emma kembali melihat anak-anak bermain. Javier menarik sudut kiri bibirnya menampilkan senyuman tipis diwajahnya.


"Sebaiknya kamu jangan panggil saya Pak. Ini tidak di kantor. Saya risih mendengarnya. Jangan terlalu formal. Kamu bisa memanggil nama, kamu, atau bahkan sayang juga saya tidak keberatan" ucap Javier mengambil buah apel yang ada ditangan Emma dan memakannya.


"Hei..itu buah bekas gigitan ku, kenapa dia mengambilnya. Di keranjang masih ada banyak buah," batin Emma antara kesal dan malu karena Javier memakan bekas gigitannya. Yang artinya tanpa sengaja mulut mereka bersentuhan. Dan apalagi sekarang, kenapa bosnya tiba-tiba seperti penggoda ulung. Siapa juga yang ingin memanggilnya sayang.


"Tapi saya tidak bisa Pak, anda atasan saya," ujar Emma.


"Saya atasan kamu saat di kantor, dan ini bukan kantor," ujar Javier.


"Baik Pak," ucap Emma mengangguk langsung mendapat tatapan tajam dari Javier.


"Ma..maksudku Jav, Javier," ujar Emma terbata, sedikit kaku menyebut nama Javier tanpa embel-embel Pak.


"Good girl," ujar Javier.


"Sejak tadi aku ada di ruang kerja," ujar Javier menjawab pertanyaan Emma sebelumnya.