
"Jangan lupa makan dan minum obatnya," ucap Catalina.
"Nak, tolong temani Javier ya. Mommy harus pulang untuk menemani suamiku ke luar kota karena ada urusan mendadak," ujar Catalina pada Emma.
"Baik aunty," balas Emma sedikit kaku. Maklumlah ini kali pertama ia bertemu dengan Catalina.
"Panggil mommy saja Emma. Anak-anak memanggil mu mommy. Masa neneknya anak-anak dipanggil aunty sih. Panggil mommy ya sayang. Lagi pula sebentar lagi kamu juga jadi mantunya mommy," ucap Catalina membuat Emma terkejut. Apa mungkin ibunya Javier sudah tau hubungan mereka. Tapi kenapa cepat sekali. Perasaan mereka jadian baru semalam.
"Anak-anak selalu menceritakan tentang mu pada mommy," ujar Catalina seakan tau apa yang dipikirkan Emma.
"Mommy pergi dulu ya sayang, titip Javier dan anak-anak ya," ujar Catalina dibalas anggukan oleh Emma.
"Grandma pulang ya," ujar Catalina mencium ketiga cucu kesayangannya.
"Hati-hati grandma," ujar Leon.
Tak lama setelah kepergian Catalina, seorang pelayan datang mengantar makanan untuk Javier.
"Permisi tuan, saya ingin mengantarkan sarapan anda," ujar pelayan. Emma lalu mengambil alih nampan yang ada di tangan pelayan tersebut.
"Terima kasih bik," ucap Emma. Pelayan tersebut lalu pamit.
"Boys kalian sudah makan belum?" tanya Emma.
"Sudah mom," jawab ketiganya kompak.
"Ya sudah, kalian bermainnya ditemani bibi Camala dulu ya," ujar Emma duduk di tepi ranjang Javier.
"Sayang, suap," ujar Javier manja membuka mulutnya. Sekarang ia mulai menampilkan sifat manjanya pada Emma.
"Hmm...," gumam Emma menyendok makanan ke mulut Javier. Lihat bukan, the power of cinta. Saat Emma yang menyuapinya, Javier sangat berselera untuk makan. Padahal sebelumnya ia tidak ingin makan karena tidak memiliki selera melihat makanannya.
"Kamu cantik banget, cantiknya kebangetan," ucap Javier membuat Emma merona.
"Dasar tukang gombal kamu. Memang benar-benar player," ujar Emma.
"Aku serius sayang, kamu memang cantik. Gimana kalau kita buatkan satu anak perempuan yang cantiknya seperti kamu," goda Javier menaikturunkan kedua alisnya.
"Sekarang juga aku masih sanggup melakukannya kalau kamu mau," lanjut Javier langsung mendapat cubitan di perutnya.
"Kamu ya, udah tau sakit masih bisa berpikiran mesum," ucap Emma tak habis pikir dengan Javier.
"Akh..sayang..kamu bahkan membuat ku menjerit kenikmatan hanya dengan cubitan mu saja. Apalagi saat kita melakukannya nanti, pasti luar biasa," ujar Javier menyeringai. Astaga, Emma semakin malu sekarang.
"Jav, kamu.." ucapan Emma terpotong saat Javier tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Aishh.. kalau seperti ini kamu makan sendiri aja," ucap Emma kesal, bangkit dari tempat tidur Javier. Namun pria itu langsung menahannya.
"Oke..oke, aku akan diam. Jangan pergi ya," ujar Javier.
Setelah Javier selesai makan, Emma mengantar piring kotornya ke dapur dan kembali lagi ke dalam kamar Javier.
"Jav, kamu minum obat ya, setelah itu istirahat. Aku ingin menemani anak-anak sebentar," ujar Emma mengambil obat Javier lalu memberikannya pada Javier.
"Sayang yang sakit kan aku, bukan anak-anak. Masa kamu tinggalin aku," tukas Javier ingin diperhatikan oleh Emma juga. Javier menyampirkan selimutnya karena kesal.
Emma menghela nafasnya, sepertinya anak kecilnya akan bertambah, "aku cuma menemani mereka sebentar saja, aku janji setelah itu akan menemani mu disini," ucap Emma mengusap wajah Javier dan menyelimutinya kembali.
"Baiklah, aku menunggumu," ujar Javier menutup matanya.