
Emma berada di depan pintu rumahnya dan mendengar suara tawa anak-anak. Ah, ia sudah rindu dengan mereka, satu minggu ini ketiga anak itu menginap di rumah grandma mereka. Jadi mereka hanya berbicara lewat panggilan vidio saja. Lihat bukan, rasa kesal dan lelahnya seketika hilang hanya karena mendengar suara ketiga anak Javier.
Emma masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh ketiga anak laki-laki itu dengan gembira.
"Mommy..." panggil ketiganya kompak berlari mendekati Emma dan memeluknya.
"Mommy rindu kalian," ujar Emma membalas pelukan ketiga anak itu lalu menciumnya bergantian.
"Kami juga sangat, sangat rindu dengan mommy," ujar Zio.
"Kalian dengan siapa disini, apa aunty Stella udah pulang?" tanya Emma.
"Aunty Stella baru saja pergi lagi mom, kami di sini ditemani grandma Neina dan grandpa Alberto," ucap Leon membuat Emma terkejut. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya bersama suaminya menghampiri Emma.
"Mom.., dad.." gumam Emma.
"Kenapa mommy dan daddy tidak bilang kalau datang kesini," ujar Emma memeluk ayah dan ibunya.
"Kami mau buat suprise," ucap Neina tersenyum.
"Tapi kan Emma bisa menjemput kalian ke bandara kalau kalian mengabarinya terlebih dahulu. Jadi kalian kesini naik apa mom?" tanya Emma.
"Stella," balas Alberto.
"Adikmu sedang ada praktikum yang tidak bisa ditinggalkan dari kampusnya," ujar Alberto.
"Oh ya, kenapa ku tidak bilang sama mommy dan daddy kalau kamu punya anak-anak lucu seperti mereka, harusnya kemarin saat kamu pulang bawa mereka biar rumah kita ramai," ujar Neina.
"Ah..itu..mereka anak bos ku mom," balas Emma tidak ingin mommy nya salah paham.
"Tapi mereka memanggilmu mommy, apa kamu sedang dekat dengan ayah mereka? kalau bisa segera menikah saja dengannya. Mommy pengen mereka jadi cucu mommy dan daddy secepatnya. Mereka anak-anak yang baik dan menggemaskan. Mommy ingin membawa mereka ke Denver. Iya kan dad," ujar Neina menatap suaminya. Alberto lalu mengangguk. Bahkan kedua orangtuanya merestui hubungannya dengan Javier begitu cepat.
"Daddy mereka pasti tampan kan, buktinya ketiga anaknya sangat tampan-tampan," ujar Neina dengan mata berbinar menatap ketiga anak laki-laki itu.
"Mommy apaan sih, kalian sudah makan belum, aku akan membuat makan malam dulu," ujar Ema mengalihkan pembicaraan. Gimana mau nikah coba, hubungan mereka saja tidak jelas.
"Tidak perlu, mommy sudah memasak makan malam buat kita. Kamu mandi saja dulu, setelah itu kita akan makan malam," ucap Neina.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu mom, aku titip anak-anak," ujar Emma lalu pergi menuju kamarnya. Untuk sementara ia akan tidur bersama Stella selama orang tuanya di California. Karena kamar di rumahnya dan Stella hanya ada dua.
"Ayo cucu-cucu grandma, kita bermain di ruang tengah saja menunggu mommy kalian selesai mandi," ujar Neina mengajak ketiga anak itu.
Awalnya kedua orang tua Emma terkejut saat mereka datang ke rumah Emma dan menyebut Emma sebagai mommy mereka. Ia pikir ketiga anak itu salah orang, hampir saja Neina mengusir mereka, untung saja Stella melihatnya dan menceritakan semuanya pada kedua orang tua Emma.