
Pagi harinya Emma membuka matanya, ia mengeratkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Suara dengkuran halus membuatnya menoleh pada pria tampan yang telah resmi menjadi suaminya. Pria itu tidur dengan memeluk posesif perut Emma. Mereka tertidur setelah pertempuran panas yang terjadi hingga jam 3 pagi.
Jangan tanyakan perihal kondisi Emma sekarang ini. Tubuhnya terasa remuk dan kelelahan. Javier mengajaknya bercinta habis-habisan. Tapi Emma sangat menikmatinya. Bagaimana Javier memanjakannya dengan sentuhan tangan besarnya yang meraba setiap inci tubuh Emma.
Emma melirik jam weker di atas nakas. Matanya terbelalak melihat jarum pendek jam tersebut mengarah pada angka 10.
"Astaga..." pekik Emma bangkit. Bagaimana bisa mereka tidur hingga jam 10. Bagaimana kalau orang tuanya dan mertuanya melihat mereka nanti. Emma pasti akan malu sekali.
"Sayang ada apa?" tanya Javier serak khas bangun tidur. Javier tampak mengucek matanya. Emma bahkan terpana melihat wajah bantal suaminya saat ini ditambah lagi dengan perut sixpacknya.
"Jav, ini sudah jam 10. Kita bangunnya terlambat dan melewatkan sarapan bersama keluarga," pungkas Emma.
"Biarkan saja, mereka juga pernah jadi pengantin baru," balas Javier memeluk perut Emma menaruh kepalanya di dada istrinya.
"Sayang ayo bangun, jangan tidur lagi. Aku mau mandi," tukas Emma karena Javier tidur lagi.
"Mandi bersama?" tanya Javier.
"Tidak Jav, aku tidak yakin hanya mandi. Aku tau kamu seperti apa Jav," tukas Emma.
"Ayolah sayang, hanya mandi saja. Aku tidak akan melakukan apa-apa," ujar Javier mendongak menatap wajah Emma.
"Janji tidak melakukan apapun?" tanya Emma. Javier lalu mengangguk dan mengecup bibir Emma.
"Morning kiss sayang," ucap pria itu turun dari tempat tidur dan mengangkat tubuh Emma ala bridal style menuju kamar mandi.
*****
Javier dan Emma turun kebawah untuk sarapan. Kali ini Javier menepati janjinya untuk tidak mengajak Emma bercinta di kamar mandi. Tapi untuk lain kali mungkin ia akan melanggarnya lagi.
"Kemana semua orang," gumam Emma melihat rumah sepi. Tapi setidaknya ia merasa lega. Dengan begitu mertua dan orangtuanya tidak melihat mereka.
"Dimana semua orang bibi Camala?" tanya Javier saat melihat Camala baru saja masuk ke rumah.
"Selamat pagi tuan, nyonya. Mereka ada di halaman depan tuan," ucap Camala lalu berpamitan.
"Jav, kamu duduk dulu ya, aku akan buatkan sarapan untuk kita," ucap Emma berjalan menuju pantry. Emma mengambil bahan-bahan untuk membuat sandwich.
"Kenapa kamu datang kesini?" tanya Emma saat Javier datang menghampirinya. Bukannya menjawab, Javier malah memeluk tubuh Emma dari belakang. Pria itu menelusupkan wajahnya di ceruk leher Emma.
"Jav lepas dulu, aku jadi susah bergerak kalau begini," ucap Emma saat Javier tidak melepaskan pelukannya.
Suaminya itu, malah mengecupi lehernya. Sepertinya suaminya sedang dalam mode manjanya. Sifat manjanya sama dengan Zio. Kalau sudah begini Emma hanya bisa pasrah saja.
"Jav, kamu mau susu atau kopi?" tanya Emma.
"Aku mau susu saja, tapi susu yang ini," ujar Javier mere*as dada Emma.
"Jav....apa yang kamu lakukan, ini di dapur. Bagaimana kalau yang lain melihat kita, aku malu tau," ucap Emma menjauhkan tangan Javier dari dadanya. Hening. Javier tidak membalas perkataan Emma karena ia tidak peduli dengan itu. kalau tadi Javier hanya mer*asnya dari luar, sekarang tangannya menyelusup ke dalam baju Emma dan merem*s pelan bukit kembar milik istrinya.
"Astaga Jav, kamu ini mesum banget sih. Ini di dapur bukan di kamar," tukas Emma menahan rasa geli dalam tubuhnya. Javier tidak menggubrisnya, Emma lupa jika sekarang pria itu sedang dalam mode manjanya. Emma akhirnya pasrah saja, sambil mengawasi keadaan dapur takut ada yang melihat mereka.
"Ekhem..."
"M..mom..." gumam Emma spontan menjauhkan tangan Javier dari dadanya. Wajahnya memerah karena menahan rasa malu. Andai ia punya kekutan menghilangkan diri, secepatnya ia akan menghilang dari sana. Ini bukan pertama kalinya mereka kepergok Catalina. Dua kali pernah saat Emma menginap di rumah mertuanya itu.
"Maaf jika mommy menganggu kalian, mommy hanya ingin mengambil minuman dingin saja," ujar Catalina yang tidak sengaja melihat aksi mesum anaknya di dapur. Dan Catalina pastikan, itu pasti karena sifat mesum anaknya yang turun dari Alfaro suaminya.
Catalina tampaknya menahan tawanya saat melihat wajah malu menantunya. Tapi Catalina memakluminya, ia juga pernah seperti itu dengan suaminya. Emma mengambil beberapa minuman kaleng dari lemari pendingin.
"Bagaimana tadi malam sayang, apa suamimu itu buas?" tanya Catalina menggoda Emma sebelum pergi dari sana.
"Jav...aku malu tau. Tadi kan aku udah melarang. ini karena kamu yang tidak tau tempat kalau bertingkah mesum seperti tadi. Mommy jadi melihat kita," ucap Emma lega, ibu mertuanya akhirnya pergi.
"Mommy maklum kok sayang, tidak perlu malu," ucap Javier mengecup bibir Emma dan membawa sarapan mereka ke meja makan.