My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 84: Menceritakan



"Jav, kita harus ke kamar Zio. Aku takut dia terbangun dan tidak melihat kita disampingnya," ujar Emma bangun. Javier menariknya kembali hingga terjatuh di atas tubuh Javier.


"Nanti saja, dia tidak akan bangun," ujar Javier mengusap punggung polos Emma. Wanita itu kembali tidur di samping Javier.


"Apa besok aku ada jadwal sayang?" tanya Javier. Tangannya masuk merayap ke dalam selimut mencari benda favoritnya dan mere*asnya. Emma hanya bisa pasrah saja. Tidak ada artinya jika ia melarang Javier. Pria itu tetap akan melakukannya.


Emma tampak berpikir sejenak, "sepertinya tidak ada," tukas Emma menyugarkan rambut Javier yang mulai panjang.


"Besok kita tidak usah ke kantor kalau begitu," lanjut Javier. Emma lalu mengangguk.


"Besok kita akan ke butik salah satu teman ku untuk membeli baju pernikahan kita," ujar Javier mengubah posisinya dengan tidur menyamping, satu tangannya ia gunakan untuk menyangga kepalanya.


"Kamu serius?" tanya Emma.


"Maksud mu apa sayang, memangnya aku sedang main-main," tukas Javier. Emma diam sejenak.


"Sayang...apa pun yang terjadi aku akan tetap menikah dengan mu. Aku mencintaimu. Hati dan pikiran ku hanya di isi oleh kamu seorang. Jadi ku mohon jangan pernah berpikiran untuk membatalkan pernikahan ini," ujar Javier dengan tegas menatap Emma menghilangkan keraguan dalam hati Emma.


"Aku ingin mengatakan sesuatu pada mu," pungkas Javier serius.


"Caroline mengatakan jika ia dijebak, kecelakaan itu sudah diatur oleh seseorang, selama ini pria itu menahannya dan bahkan memaksa Caroline untuk menikah dengan pria itu. Kamu ingat saat aku pernah melihatnya di Miami. Caroline sebenarnya tau jika saat itu aku mengejarnya. Dia menghindar karena tidak ingin pria itu melukai orang-orang yang disayangi Caroline," ungkap Javier sedih membuat Emma menganga dan mata terbelalak. Javier merasa bersalah karena sempat membenci wanita itu. Ternyata ia tidak tau apa yang sudah wanita itu lalui selama 5 tahun ini.


"Siapa yang melakukannya Jav?" tanya Emma.


"Mantan kekasih Caroline," balas Javier membuat Emma terkejut.


"Bagaimana bisa ia setega itu. Aku kasihan melihat Caroline jika memang selama ini pria itu menahannya," tukas Emma dengan raut wajah sedih.


"Kamu tau, sebenarnya aku juga turut andil dalam hal ini," ujar Javier bersalah.


"Apa maksudmu Jav, katakan..." tanya Emma bingung.


"Sebenarnya dulu aku dan Caroline itu tidak saling mencintai, kami dijodohkan. Caroline selama ini tinggal bersama paman dan bibinya karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Paman Caroline itu salah satu teman daddy ku. Awalnya aku menolak perjodohan itu, tapi mommy selalu mengatakan jika Caroline itu lebih pantas untukku daripada kekasih- kekasihku sebelumnya. Mommy sangat menyukai kepribadian Caroline. Mommy selalu membujukku agar menikahi Caroline. Akhirnya aku menuruti permintaan mommy, tapi aku pernah mengatakan pada mommy kalau aku tidak janji bisa mencintai Caroline. Saat itu aku berpikir pernikahanku hanya akan berjalan sebentar saja. Bahkan aku pernah mengatakan padanya kalau aku tidak akan pernah mencintainya. Aku tidak pernah menjadi suami yang baik untuknya, tapi dia selalu menjadi istri yang baik untukku. Kepribadiannya yang baik dan polos selalu menarik perhatianku. Hingga akhirnya aku menyadari perasaanku sendiri, jika aku pada akhirnya mencintainya," ucap Javier menatap langit-langit kamar.


Keduanya terdiam sejenak.