My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 45: Di dalam mobil



"Apa Pak, maksud ku apa kamu selalu disana setiap weekend?" tanya Emma penasaran. Javier mengangguk. Pantas saja ia tidak dekat dengan anak-anaknya. Bahkan hari liburnya digunakan untuk bekerja. Benar-benar workaholic banget. Ingin rasanya Emma memberi nasehat pada Javier hanya saja ia takut pria itu tersinggung dengan perkataannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Javier menyentil dahi Emma membuat wanita itu meringis kesakitan memegang dahinya.


"Aku tau kamu ingin mengatakan sesuatu, katakanlah," ucap Javier santai menaruh kepalanya di atas paha Emma.


"A..apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Emma terbata. Tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Javier.


Bukannya menjawab, Javier malah menutup matanya memilih untuk tidur hingga suara dengkuran halus terdengar. Emma menghela nafas pasrah dengan perlakuan Javier.


Selama Javier tidur, Emma mencuri pandang pada wajah tampan Javier. Tatapannya beralih ke bibir Javier dan seketika ia merona karena mengingat saat mereka berciuman kemarin. Entah kenapa ia ingin mengulanginya lagi.


"Astaga Emma, apa yang kamu pikirkan sih," batinnya menepuk-nepuk wajahnya yang merona.


*******


"Thanks sudah mengantar ku," ujar Emma setelah mereka tiba di depan rumahnya. Javier lalu mengangguk. Javier mengantarnya pulang setelah makan malam di rumahnya tadi. Awalnya Emma menolak untuk diantar namun Javier melarangnya pulang naik taxi.


Saat Emma hendak membuka pintu mobil tiba-tiba tangannya ditarik oleh Javier dan membawanya duduk di atas pangkuannya. Jarak wajah keduanya begitu dekat hingga Emma bisa merasakan nafas hangat dari Javier dan seperkian detik kemudian bibirnya merasakan kecupan lembut dari Javier. Pria itu menatap Emma dengan tatapan memuja.


"Apalagi ini Tuhan.., ya ampun. Siapa pun tolong bawa aku keluar dari sini," batin Emma, wajahnya terasa panas dan ia pastikan wajahnya pasti sudah mera seperti kepiting rebus.


Javier tak ingin berhenti hingga ia semakin menekan kepala Emma. Satu tangannya bahkan kini sudah mengusap naik turun paha Emma hingga roknya tersingkap ke atas. Tangannya terus mengusap kulit putih paha Emma. Bunyi decakan dari mulut mereka mengisi seluruh kekosongan di mobil.


Emma yang mulai kehabisan nafas berusaha melepas tautan mereka hingga akhirnya bibir keduanya terlepas, keduanya tampak terengah-engah. Javier menyapukan tangannya di ujung bibir Emma yang basah karena ciumannya seraya ternyenyum sensual. Ia juga merapikan bagian rok Emma yang terbuka.


Emma yang tersadar di atas pangkuan Javier segera beranjak namun lagi-lagi di tahan Javier dengan memeluk erat pinggang Emma.


"Jangan pergi dulu," ucap Javier mengerang seakan menahan sesuatu.


"Ouch.., dia bahkan bisa bangun hanya dengan seperti ini saja," rintih Javier menahan sesuatu di bawah sana. Sekarang Emma mengerti dengan apa yang Javier katakan karena ia dapat merasakan sesuatu menekan bokongnya.


Javier semakin mengeratkan pelukannya mencoba menahan gejolak dalam tubuhnya dan berharap miliknya tidur kembali. Ia mendaratkan kepalanya di ceruk leher Emma dan menghirupnya dalam-dalam.


Keduanya terdiam dalam beberapa saat. Hingga Javier memulai pembicaraan.


"I always like your lips," ujar Javier mengecup singkat bibir Emma.


"A...aku pergi dulu," ujar Emma turun dari pangkuan Javier tidak tahan berlama-lama di dalam mobil. Ia lalu membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.


"Don't forget my lunch tomorrow," ucap Javier dengan senyum menggodanya melihat Emma yang salah tingkah lalu pergi.