
Emma melangkah dengan cepat, masuk ke dalam rumahnya. Hingga sekarang wajahnya masih terasa panas setelah kejadian di mobil Javier.
"Astaga, apa-apaan tadi.." gumam Emma menutup pintunya dan bersandar di sana. Sepertinya Emma sudah gila selalu pasrah saat Javier menciumnya bahkan ia ikut membalasnya. Seharusnya ia menolak bukan, biasanya ia tidak ingin sembarangan orang menciumnya. Bahkan dengan mantan-mantannya dulu harus izin terlebih dahulu untuk menciumnya. Tapi kenapa berbeda ketika yang melakukannya adalah Javier. Emma memegang dadanya yang bergetar. Apa ia memiliki rasa pada atasannya itu.
"Em, kamu ngapain senyum-senyum seperti orang gila di situ?" ucap Stella yang sedang berjalan menuju dapur dan tidak sengaja melihat Emma senyum-senyum sendiri di sana.
Emma tersadar, "hah..itu..aishh..aku ke kamar dulu yah, mau mandi soalnya gerah banget," ujar Emma meninggalkan Stella yang menatap aneh padanya.
*********
Keesokan paginya Emma kembali memulai aktivitasnya di kantor seperti biasa.
"Tok..tok.." Emma mengetuk pintu ruangan Javier.
"Masuk!" perintah Javier dingin.
"Maaf Pak, saya ingin mengantarkan kopi anda," ucap Emma berjalan mendekati meja kerja Javier dan meletakkannya di atas meja.
"Tadi saya kan sudah bilang, kalau kamu yang datang tidak usah mengetuk pintunya. Langsung masuk saja," ujar Javier mengingatkan Emma.
"Astaga.., maaf Pak saya lupa. Mungkin karena belum terbiasa," ujar Emma menatap Javier yang sedang menyeruput kopinya.
"Ada apa Pak, apa kopinya tidak enak?" tanya Emma saat melihat Javier mengernyitkan kedua alisnya dan diam sejenak.
"Apa yang salah, rasanya sama kok dengan kopi yang saya buat sebelumnya," batin Emma.
"Cup," Emma terbelalak saat Javier dengan tiba-tiba mengecup bibirnya. Fix, Bosnya memang sudah gila sepertinya. Lihatlah dengan santainya ia duduk kembali di kursi kebesarannya seakan tidak bersalah sudah mencium bibir anak orang dengan seenaknya.
"Sekarang rasanya baru pas," ujar Javier dengan senyum menggodanya membuat Emma semakin panas dingin di sana. Lidahnya terasa kelu ingin mengatakan sesuatu.
brakkk...
"Sayang..." panggil seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke ruangan Javier tanpa izin. Wanita cantik dengan pakaian seksinya. Siapa lagi kalau bukan mantan kekasih Javier. Seorang model terkenal di negaranya. Valery namanya. Javier dan Valery baru saja putus dua bulan yang lalu. Hubungan Javier dengan Valery hanya berjalan 4 bulan saja. Javier bosan karena tidak tahan dengan sifat asli Valery.
"Pak saya sudah melarangnya, tapi nona Valery sangat keras kepala," ujar Carlos.
"Tinggalkan kami di sini," ucap Javier dingin. Carlos kemudian pergi setelah menatap Emma beberapa saat.
Emma menaruh kembali gelas yang ada ditangannya di meja Javier lalu beranjak pergi.
"Mau kemana sayang.." ujar Javier lembut menahan pergelangan tangan Emma. Lagi-lagi Emma terpaku di tempatnya mendengar kata sayang. Tidak, bukan hanya Emma saja yang terkejut. Valery juga ikut terkejut.
Javier membawa Emma duduk di atas pangkuannya. Tentu saja hal itu membuat Emma tidak nyaman apalagi wanita yang ada di dekat pintu menatapnya tajam. Sungguh, ia tidak ingin terlibat diantara hubungan Javier dan Valery.
"Bekerjasama lah Emma. Ku mohon," bisik Javier di telinga Emma.