
Di ruang meeting Javier tak henti-hentinya menggoda Emma. Sejak tadi ia bertingkah nakal pada wanitanya itu. Ia semakin bersemangat menjalankan aksinya melihat wajah kesal dan marah Emma. Wanitanya bergerak tidak nyaman di tempat duduknya.
"Nona Emma, ada apa? sepertinya anda sedang tidak baik-baik saja, sejak tadi anda terlihat tidak nyaman di tempat duduk anda," ucap Javier membuat semua orang spontan menatap ke arahnya. Emma tampak menelan ludahnya. Javier sedang mempermainkannya.
"Emm..saya baik-baik saja Pak," jawab Emma dengan senyum terpaksa nya. Ingatkan dia nanti untuk membalas perbuatan Javier padanya.
"Ekhmm, lanjutkan presentasinya..." ujar Javier
Dengan usilnya Javier membawa tangan Emma menyentuh milik Javier dari balik celananya.
"Akh..." pekik Emma langsung menutup mulutnya. Lagi-lagi semua orang menatap padanya.
"Maaf...maafkan saya," ucap Emma. Semburat merah memenuhi wajah cantik Emma. Emma menatap marah pada Javier. Pria itu hanya duduk tenang saja seakan lupa dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Ada apa Nona Emma?" tanya Carlos.
"I..itu tumit sepatuku tidak sengaja menginjak kaki ku," ujar Emma mencari alasan.
"Apa kakimu baik-baik saja," tanya Javier. Emma lalu mengangguk.
Rapat akhirnya berakhir. Kini tinggal Emma dan Javier yang ada di sana. Emma tampak merapikan berkas-berkas di meja dan mengabaikan Javier yang sedang menatapnya. Emma pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun pada Javier.
"Sayang apa kamu sedang marah," ujar Javier berjalan dengan cepat mengikuti Emma dari belakang.
"Sayang, jangan diam begitu dong," ucapnya lagi. Emma tidak menggubrisnya. Ia membuka pintu ruangannya mengambil kotak bekal makan siang mereka dan membawanya ke ruangan Javier. Sejak tadi Javier hanya mengekor dibelakang Emma seperti anak kecil sembari memanggil manggil Emma.
"Sayang, ayolah...aku tau kamu sedang pura-pura marah, ya kan. Kamu mana bisa marah. Apalagi sama ku," ujar Javier dengan penuh percaya diri merangkul tubuh Emma dari belakang yang sedang menyiapkan makan siang mereka.
"Sayang.." ucap Javier dengan usilnya meremas salah satu dada Emma. Namun sekuat tenaga Emma menahan suaranya. Javier memang sangat mesum di usianya yang sudah kepala tiga.
Emma mengambil kotak bekalnya dan memakannya tanpa mengajak Javier. Pria itu melongo di tempatnya. Emma mengabaikannya. Sial, tau begini ia tidak akan menjahili Emma tadi. Javier mana bisa didiamkan seperti ini. Apalagi itu Emma. Tak tahan, Javier bangkit dari sofa dan duduk di samping Emma.
"Sayang, jangan diamin aku dong," ucap Javier tidur dipangkuan Emma. Wajahnya menghadap perut rata Emma.
"Hei...calon anak daddy. Apa kamu sudah mulai tumbuh disana atau belum ya. Daddy harap sudah ada, meskipun daddy dan mommy kamu membuatnya tadi malam," ujar Javier membuat Emma hampir saja tersedak.
" Mommy kamu sepertinya marah sama daddy. Ayo dong bantu daddy mu yang ganteng ini, bilang sama mommy kamu biar dia gak marah lagi, daddy minta maaf karena sudah membuat mommy kamu marah," pungkas Javier mengecup perut Emma.
"Astaga, apa pria ini sudah frustasi," batin Emma ingin tertawa mendengar Javier berbicara sendiri. Sepertinya ia memang tidak bisa marah pada Javier. Selalu saja ada tingkah aneh dan lucu Javier yang bisa menghilangkan rasa marah dan kesalnya.
"Sayang, apa kamu masih marah," ujar Javier mendusel di dada Emma.
"Dasar pria tua mesum.." ucap Emma menjauhkan kepala Javier dari dadanya.
"Apa? siapa yang tua sayang, aku masih muda," ucap Javier tidak terima.
"Apanya yang muda, sudah hampir 35 tahun," ujar Emma.
"Hei..35 tahun itu belum tua-tua amat kali. Kita beda tipis lah.." timpal Javier.
"Astaga Jav, sadar....beda tipis darimana coba. Kita itu hampir beda 10 tahun," balas Emma.
"Iya..iya...terserah kamu deh. Tapi setidaknya kamu bicara juga," ucap Javier mengambil kotak bekalnya dan menyantap makanannya.
"Tapi kalau di ranjang aku tetap kuat bukan, buktinya kamu sampai menjerit kuat karena kenikmatan," ujar Javier menaik turunkan alisnya menatap Emma.
"Dasar mesum kamu.." cibir Emma.