
"Carlos ada apa?" tanya Emma saat Carlos menarik tangan Emma ke ruangannya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu," ucap Carlos duduk di kursi.
"Apa kamu punya hubungan spesial dengan Pak Javier?" tanya Carlos membuat Emma mengerutkan kedua alisnya. Memangnya mereka punya hubungan spesial apa coba.
"Aku tidak mengerti maksudmu Carlos," ucap Emma.
"Apa kamu sedang menutupinya dengan pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan ku," ucap Carlos tersenyum miring dan memicingkan matanya.
"Kalian sudah jadian ya?" tanya Carlos.
"Astaga Carlos kamu apaan sih, siapa yang jadian coba," tukas Emma.
"Ya kamu lah dengan si bos dingin," jawab Carlos enteng.
"Ya ampun Carlos, hubungan kami itu hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Lagi pula Pak Javier tidak mungkin mencintai ku karena dia hanya mencintai istrinya saja," ujar Emma terbayang dengan kejadian di Miami.
"Hei...Emma...Emma," panggil Carlos melambaikan tangannya di depan wajah Emma membuat wanita itu tersadar.
"Kenapa kamu melamun," tanya Carlos. Belum sempat Emma menjawab, Carlos melanjutkan perkataannya.
"Tapi sepertinya Pak Javier menyukaimu, buktinya tadi di ruang meeting dia sangat perhatian pada mu. Aku belum pernah melihatnya seperti itu sebelumnya selama bekerja dengannya," ujar Carlos.
"Kamu tadi tertidur di ruang meeting, dan Pak Javier mengangkat mu dari kursi dan memangku mu, dia sangat perhatian sekali dengan mu. Aku rasa kalau itu orang lain mungkin bos akan marah dan meninggalkan ruang meeting," ucap Carlos membuat Emma terkejut dan menutup mulutnya yang terbuka lebar. Astaga, itu sangat memalukan sekali. Bahkan setelah ini, Emma tidak sanggup menatap mata karyawan yang ikut rapat. Mereka pasti berpikiran yang aneh-aneh dengannya. "Ya ampun, bodoh banget sih kamu Emma," batin Emma merutuki dirinya.
"Dan parahnya lagi, si bos sesekali mengecup kepala mu sambil mendengarkan presentasi dari setiap kepala divisi," lanjut Carlos membuat Emma merona karena malu.
"Apa kamu sedang merona," ujar Carlos menggoda Emma.
"Apaan sih..., siapa yang merona coba," balas Emma mencubit lengan Carlos.
"Sepertinya aku sudah kalah dari bos, padahal yang kenal kamu duluan kan aku," ucap Javier terkekeh mengusap kepala Emma. Pada akhirnya ia memilih menyerah.
"Kalau begitu aku pergi dulu, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Carlos.
"Oh ya, aku ingin mengajak mu pulang bersama jika kamu tidak keberatan," ucap Carlos sebelum pergi, Emma lalu mengangguk.
********
Dua bulan berlalu begitu saja, hubungan Javier dan Emma tetap sama. Keduanya terlihat kompak ketika bersama anak-anak saja. Setelah itu akan kembali seperti biasa. Akhir-akhir ini Javier juga sering keluar bersama Valery, terkadang juga dengan wanita lain. Untuk menghilangkan pikirannya yang selalu di penuhi oleh Emma. Namun tetap saja tidak berhasil. Di tambah lagi dengan kecemburuan Javier yang melihat Emma dan William semakin hari semakin dekat saja. Mana sanggup ia melihat Emma dekat dengan pria lain. Tidak tahukah Emma jika dia begitu tersiksa. Tapi apa boleh buat, Emma menolaknya.
Emma pulang terlambat hari ini karena Javier mengajaknya ke toko perhiasan dan pakaian untuk membeli beberapa perhiasan dan pakaian untuk pacar-pacarnya. Ya, Emma menyebutnya begitu. Karena ia tidak tau susah berapa banyak wanita yang sering datang ke ruangannya untuk menemui Javier. Emma kesal karena Javier ikut membuatnya repot hanya untuk pacar-pacarnya. Emma harus memilih pakaian dan perhiasan yang menurutnya bagus dan tak lupa dengan harganya yang selangit.