
"Bisakah aku memilikimu malam ini," bisik Javier menggesekkan miliknya di area sensitif Emma.
"Lakukan...lakukan Jav. Aku milikmu," ujar Emma yang juga sudah dikuasai oleh kabut gairah. Mereka tidak mungkin berhenti jika sudah sampai pada tahap ini.
Perlahan Javier mendorong miliknya hingga akhirnya bisa menerobos lubang sempit itu.
Javier mendiamkan miliknya disana karena milik Emma butuh penyesuaian. Apalagi ia tau jika ini adalah yang pertama untuk kekasihnya itu. Javier mencium kembali bibi Emma untuk mengalihkan rasa sakit di bawah sana.
"Jav bergeraklah," ucap Emma bergerak tidak nyaman di bawah Javier. Javier yang mendapat lampu hijau langsung menggerakkan miliknya. Keduanya saling mende*ah dan meneriaki nama satu sama lain hingga mencapai puncaknya dan menyemburkan cairannya di dalam milik Emma. Javier ambruk di atas tubuh Emma. Ini adalah klim.aks paling lama yang pernah ia rasakan.
"Jav..." panggil Emma karena Javier belum melepaskan miliknya dari sana.
"Sabar sayang, aku harus memastikan jika semua benihku masuk ke dalam milikmu," balas Javier menatap wajah kekasihnya dengan nafas terengah-engah. Tangan Emma terulur menghapus peluh di kening Javier.
"Sayang, dia bangun lagi," ujar Javier yang belum melepas penyatuan mereka. Emma dapat merasakannya. Akhirnya mereka melakukannya lagi dan lagi.
"Ughh...kau sangat nikmat sayang," ucap Javier mengecup bibir Emma. Merasa semua cairannya sudah masuk ke dalam tubuh Emma. Javier lalu melepaskan penyatuan mereka.
"Aku yakin permintaan Zio akan segera terkabul," ujar Javier mengecup perut rata Emma dan mengusapnya lalu membaringkan tubuhnya di samping Emma. Ia menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Emma. Javier menarik selimut lalu menutupi tubuh polos mereka.
"Lelah hmm..." ujar Javier menatap wajah lelah Emma.
"Tentu saja, kamu bilang hanya sekali dan sekali hingga empat kali," ujar Emma mencubit perut berotot Javier. Tentu saja, pria itu tidak pernah puas melakukannya. Bahkan sekarang dirinya masih menginginkan Emma.
"hahaha..maaf sayang, habisnya kamu sangat nikmat, apalagi saat kamu berteriak, itu membuatku semakin menginginkan mu," ujar Javier mengecup bibir Emma singkat. Emma spontan menyembunyikan wajah merona nya di dada Javier.
"Sudah ku duga, suaramu pasti akan sangat sexy saat kita melakukannya," ujar Javier mengelus punggung polos Emma.
"Good night baby," ucap Javier mengecup kepala Emma dan mengeratkan pelukannya.
Pagi harinya Emma membuka matanya dan melihat Javier yang tidur disampingnya, memeluk tubuhnya. Cukup lama Emma menatap wajah tampan Javier yang sedang tidur pulas. Emma merona saat mengingat kilas balik malam panas yang mereka lewati. Sungguh, Emma sangat menikmatinya. Javier begitu ahli menyentuhnya, memanjakannya dan membawanya mengarungi kenikmatan yang tiada duanya.
"Pantas saja Stella selalu melakukannya dengan kekasihnya," batin Emma tersenyum.
"Apa yang dikatakan Stella ternyata benar," gumamnya.
"What..." pekik Emma terbelalak saat melihat jam sudah menunjukkan angka 9. Emma teringat jika hari ini Javier ada jadwal meeting jam 11.
"Astaga...aku harus segera membangunkannya," gumam Emma bangun dan menutupi bagian deoan tubuhnya yang polos dengan selimut.
"Jav...Jav..." panggil Emma menepuk pelan wajah Javier.
"Hmmm....ada apa sayang, aku masih mengantuk," ucap Javier membuka setengah matanya melihat Emma dan tidur lagi.
"Jav, aku lupa kalau hari ini kamu ada jadwal meeting jam 11. Ayo bangun, ini sudah pukul 9," pungkas Emma mengusap wajah Javier.
"Batalkan saja," ujar Javier santai.
"Apa?, tidak..tidak, semalam kamu sudah membatalkannya. Ayo bangun...aku akan pesankan sarapan untuk kita," ucap Emma mengambil ponselnya dan memesan makanan.
"Kalau begitu biarkan aku tidur 5 menit lagi," gumam Javier tidur di paha Emma dan memeluk erat pinggang Emma.
"Ingat, hanya 5 menit saja," ucap Emma menyugarkan rambut Javier. Javier lalu mengangguk.