My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 68: Sakit



Emma masuk ke dalam rumah dengan keadaan basah.


"Cie..kalian udah jadian ya, pake acara hujan-hujanan lagi nembaknya, kayak di novel-novel aja," ujar Stella yang mengikuti Emma dari belakang.


"Ihhh apaan sih Stell, tumben banget kamu di rumah malam minggu begini," ucap Emma berjalan menaiki tangga.


"Eduino sedang keluar kota, ada urusan bisnis," ucap Stella melepaskan blazernya.


"Jadi sekarang sahabat ku ini tidak jomblo lagi nih.." ujar Stella tersenyum. Emma memutar tubuhnya.


"Hmmm.." gumam Emma.


"Aku mandi dulu ya Stell, aku basah kuyup ini," ujar Emma pergi ke kamarnya.


********


Pagi harinya, Emma bangun lebih lama, kebetulan hari ini minggu. Emma melihat jam wekernya sudah menunjukkan angka 10. Ia melangkahkan kakinya dengan malas menuju kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci wajahnya.


Emma berjalan menuju dapur membuat segelas susu dan pancake untuk sarapannya.


drrrtt...drrrtt...ponsel Emma bergetar.


"Halo bibi Camala, ada apa bibi?" tanya Emma setelah meneguk susunya.


"Nona, tuan Javier sedang sakit. Beliau demam. Kami sudah mencoba membujuknya agar dokter memeriksanya, tapi tuan tidak mau. Nyonya besar saja tidak bisa membujuknya. Apakah nona Emma bisa datang kesini. Siapa tau tuan Javier mendengarkan perkataan nona Emma," ujar Camala.


"Baik bibi, saya akan segera kesana," ujar Emma.


"Astaga, sepertinya dia demam karena hujan semalam," gumam Emma menyimpan piring dan gelasnya. Emma kemudian bergegas menuju kamarnya bersiap-siap ke rumah Javier.


"Mom, panggil Zio turun dari sofa menghampiri Emma.


"Oh hai sayang.." ujar Emma mengelus puncak kepala Zio.


"Mom...daddy payah, takut di suntik," ucap Leon meledek Javier.


"Hei bocah...siapa yang takut, aku hanya tidak suka saja," ujar Javier kesal.


"Tidak suka dari mana, kamu itu takut. Mommy masih ingat waktu kamu masih kecil, tiap kali sakit dan pas mau di suntik kamu akan lari bersembunyi," ujar Catalina ibu Javier. Emma sekarang tau jika wanita paruh baya yang masih tampak cantik di usianya sekarang adalah mommy Javier.


"Pokoknya aku tidak ingin disuntik," ucap Javier bersikeras tidak ingin disuntik.


"Sayang..aku tidak mau di suntik," ujar Javier memelas. Emma yang mendengar panggilan Javier sontak membuatnya terkejut apalagi di depan ibunya.


"Jav, kalau dokter mengatakan kamu harus disuntik, ikuti saja. Lagi pula itu tidak sakit. Kamu aja yang terlalu takut," ujar Emma mendekati Javier. Emma menaruh telapak tangannya di dahi Javier.


"Sayang..." ujar Javier lagi dengan wajah memelas nya.


"Jav.." desis Emma melotot pada Javier. Pria itu malah terkekeh di atas tempat tidurnya. Mana ada orang yang sedang sakit seperti itu. Akhirnya Javier mau disuntik dan tentu saja harus ada Emma disampingnya. Emma ingin tertawa melihat wajah tegang Javier. Ternyata kekasih sekaligus atasannya itu takut disuntik. Ia pikir Javier tidak akan takut pada apapun. Mungkin jika karyawan di kantor tau ini. Mereka akan tertawa habis-habisan.


"Hahahahahah..wajah daddy lucu sekali," ucap Leon merekam vidio saat Javier disuntik.


"Aishh...dasar anak-anak nakal," gerutu Javier melihat anak-anaknya meledek dirinya.


Setelah dokter memeriksa Javier, dokter itu kemudian memberikan beberapa resep obat untuk Javier. Dokter kemudian pamit. Camala mengantar dokter tersebut sampai ke pintu rumah Javier.