
"Benarkah?" Javier tidur dengan kepala di atas paha Emma. Tangannya mulai bergerak nakal masuk ke dalam gaun tidur Emma dan mencari mainan favoritnya.
"Tadi sore Caroline mengabari ku. Kebetulan Xander ada urusan bisnis di sini untuk beberapa hari. Xander mengajak Caroline dan anak-anak ikut menemaninya," ujar Emma menyugarkan rambut Javier. Xander dan Caroline sudah memiliki dua orang anak saat ini.
"Anak-anak pasti akan senang," pungkas Javier menurunkan tali gaun tidur Emma dan meraup salah satu puncak gundukan milik istrinya. Emma yakin Javier akan meminta lebih lagi setelah ini. Dan dipastikan Emma tidak akan menolaknya.
Emma bangun dan melihat wajah tampan suaminya yang sebentar lagi akan memasuki usia 40 tahun. Namun rasanya wajah tampan Javier seakan tidak berkurang sejak saat pertama kali mereka bertemu. Emma melihat jam di atas nakas, ternyata menunjukkan angka 5.
"Mau kemana sayang.." gumam Javier serak dengan mata yang masih terpejam saat merasakan Emma turun dari atas tempat tidur.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar," jawab Emma memakai kembali gaun tidurnya dan melihat baby Ed sebelum pergi ke kamar mandi.
"Sayang, jangan lama-lama. Aku masih ingin tidur sambil memelukmu," ucap Javier.
Emma kembali ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Javier. Pria itu membuka matanya, mengecup bibir Emma dan membawa kepalanya ke atas dada empuk Emma. Memeluk erat tubuh Emma dan kembali tertidur. Emma tersenyum lalu menutup kedua matanya.
"Dad..mom....dad..." panggil Briana dengan suara yang kuat dari balik pintu kamar Javier dan Emma.
"Astaga..itu Briana. Kenapa dia berteriak," ucap Emma bangun dan membuka pintu kamar mereka.
"Sayang..ada apa?" tanya Emma membawa Briana masuk ke dalam kamar. Briana buru-buru naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Javier.
"Ada apa princess?" tanya Javier mengelus lembut kepala putrinya.
"Briana mimpi dad. Briana takut," pungkasnya menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kamu mimpi apa nak," Emma bergabung dengan Javier dan Briana di tempat tidur.
"Aku mimpi hujan ice cream mom. Ice cream nya sangat banyak dan besar sekali. Awalnya briana senang. Tapi kemudian mereka mengejar ku dan ingin memakan tubuhku," pungkas Briana memeluk tubuh Javier. Emma dan Javier lalu tertawa. Saking seringnya putri mereka memakan ice cream hingga terbawa mimpi.
"Tidak perlu takut sayang. Itu hanya mimpi," kata Emma memeluk tubuh Briana.
"Sekarang kita tidur lagi ya princess, nanti adik mu terbangun," ujar Javier. Briana mengangguk. Mereka pun melanjutkan tidurnya. Tiba-tiba kamar mereka diketuk kembali.
"Siapa lagi yang datang?" timpal Javier turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
"Astaga...kenapa kalian datang kesini?" tanya Javier melihat ketiga putranya di depan pintu.
"Kami mau tidur disini dengan mommy," pungkas Leon masuk. Kedua adiknya mengikutinya.
"Kemari sayang.." panggil Emma mengajak ketiga putranya naik ke atas tempat tidur.
"Ya ampun...kalian ini sudah besar tapi tetap manja," pungkas Javier.
"Biarin... yang penting kami manja sama mommy kami," timpal Lucio. Akhirnya mereka tidur bersama di kamar Javier dan Emma.
*****
Dua hari kemudian Javier mengajak istri dan anak-anak ke taman hiburan. Mereka juga membawa kedua anak Caroline dan Xavier. Arthur dan Belinda. Xavier dan Caroline tidak bisa ikut karena ada acara penting yang akan mereka hadiri.
"Sebentar ya sayang, kita tunggu daddy Javier dan kakak-kakak mu dulu," balas Emma mengusap wajah Belinda. Belinda tidak ikut menaiki roller coaster seperti yang lainnya karena takut melihat wahananya. Sementara Briana putrinya itu seakan tidak ada takut-takutnya. Bahkan Emma yakin, Briana pasti meminta ponsel Javier dan mengambil rekaman vidio mereka seperti biasanya.
Tak lama kemudian Javier dan anak-anak menghampiri Emma dan Belinda dengan wajah cerianya setelah menaiki roller coaster.
"Kak Arthur payah mom, tadi dia minta turun sama daddy karena takut," pungkas Briana.
"Itu tidak benar mom, Briana bohong. Arthur cuma pengen pipis tadi," timpal Arthur tidak terima.
"Aku ada buktinya di ponsel daddy," balas Briana.
"Berikan ponselnya pada kakak," ujar Arthur ingin meraih ponsel di tangan Briana. Namun Briana lebih dulu menghindar.
"Kak..." adu Arthur pada Leon dan Lucio.
"Nanti kakak akan menghapusnya," ujar Leon membuat Arthur senang.
"Sudah...sudah.. Belinda ingin naik bianglala," ucap Emma pada pada mereka.
"Kalau begitu kita sekarang naik bianglala," ujar Javier membuat anak-anak bersorak dan berlari menuju bianglala.
"Sayang kamu mau ikut? biar aku yang menjaga putra kita," tukas Javier.
"Tidak, kalian saja. Aku menjaga baby Ed saja disini," ucap Emma.
"Sejak tadi kamu tidak menaiki satu wahana pun, kita datang kesini untuk bersenang-senang. Masa istriku tidak ikut menikmatinya," ujar Javier mengecup wajah Emma.
"Sayang... aku juga ikut senang saat melihat kalian senang," ujar Emma menatap wajah suaminya.
"Sudah sana, temani anak-anak. Lihat..mereka sepertinya tidak sabar lagi untuk menaikinya," tukas Emma. Javier lalu pergi menemui anak-anak.
"Loh kamu tidak ikut?" tanya Emma saat Javier kembali menghampirinya.
"Tidak, aku ingin disini menemanimu melihat anak-anak kita," ucap Javier mengecup kepala Emma. Melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Son, kerjaan mu minum susu terus, sisakan untuk daddy ya," pungkas Javier mencubit gemas wajah putranya di gendongan Emma yang sedang asyik meny*su.
"Waktu daddy untuk bersenang-senang dengan mainan daddy jadi berkurang sekarang," timpal Javier terkekeh membuat Emma geleng-geleng kepala mendengar perkataan Javier.
"Sepertinya putra kita tidak suka berbagi denganmu," ucap Emma tertawa.
"Oh tidak bisa sayang, itu milikku. Aku hanya meminjamkannya pada putra kita untuk dua tahun ini," ujar Javier tidak terima membuat Emma tertawa.
"Dad....mom.." panggil Briana melambaikan tangannya sembari tertawa. Emma melambaikan tangannya menatap anak-anaknya.
"Terima kasih sayang sudah tetap di sisiku hingga saat ini, aku sangat mencintaimu," ucap Javier mengecup kepala Emma.
"Aku juga sangat sangat mencintaimu dan anak-anak kita," balas Emma mengecup bibir Javier. Keduanya lalu berciuman.