My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Extra Part 3



1 Tahun Kemudian


"Sayang... kamu mau ice cream juga," panggil Javier yang sedang membeli ice cream untuk Briana.


"Tidak sayang, kalian saja," balas Emma mengambil sebuah kotak berisi buah dari dalam deaperbag. Hari ini adalah hari kedua mereka menghadiri pekan olahraga yang diadakan sekolah ketiga putra Emma dan Javier di sebuah lapangan luas. Ketiga anak mereka juga ikut andil dalam beberapa pertandingan. Sebentar lagi akan ada pertandingan sepak bola. Leon dan Lucio juga ikut dalam permainan tersebut.


"Mom..." Zio menghampiri Emma dan duduk disampingnya.


"Sudah selesai?" tanya Emma. Zio mengangguk. Sebelumnya Zio dan teman satu kelasnya duduk bersama memberi dukungan untuk perwakilan dari kelasnya dalam pertandingan skateboard.


"Kamu mau ice cream tidak? daddy dan adikmu sedang membelinya," tanya Emma.


"Aku mau mom," pungkas Zio.


"Kalau begitu temui daddy. Mereka ada di sana," kata Emma mengarahkan jari telunjuknya pada Javier yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Zio berlari menghampiri Javier.


"Sayang, baby Ed sepertinya haus," ujar Javier menggendong putranya menggunakan baby hipseat. Zio dan Briana lalu duduk menikmati ice cream mereka.


"Kemari, aku akan memberinya minum," tukas Emma merentangkan tangannya. Javier lalu melepas gendongannya dan memberikan Edrick pada istrinya.


"Kamu haus ya nak," ujar Emma membawa Baby Ed kepangkuannya. Bayi kecil itu tersenyum menatap Emma, menggerak-gerakkan kedua kakinya karena sebentar lagi ia akan minum ASI. Edrick putra bungsu Emma dan Javier itu saat ini berusia hampir 4 bulan. Tak lama setelah pulang dari Danver, Emma mengandung lagi. Semua keluarga sangat senang menyambut kehadiran anak bungsu Emma dan Javier.


"Baby Ed minum ASI dulu ya, nanti kalau sudah besar baru bisa makan ice cream seperti kakak," ujar Briana mengecup gemas pipi gembul adiknya.


"Bri jangan mencium pipi baby Ed. Bibirmu penuh dengan ice cream. Lihat..pipi baby Ed jadi kotor kan," tukas Zio.


"Sayang, tolong ambilkan kotak makanan berwarna yang ada di tas. Berikan pada Zio dan Briana. Aku tadi membawa cemilan dari rumah," tukas Emma membuka kancing bajunya. Javier lalu mengambil tas yang ada disampingnya dan mengeluarkan cemilan yang dibawa Emma.


"Sayang, aku sudah bilang bukan. Aku tidak mau milikku dilihat orang lain," ujar Javier posesif membuka jaketnya dan menutupi bagian depan istrinya yang sedang menyu*ui putra mereka.


"Dasar posesif," cibir Emma. Padahal orang-orang yang ada disana semuanya sedang serius menonton pertandingan sepak bola yang baru saja dimulai.


"Mom itu kak Leon dan Cio," tunjuk Briana berdiri antusias.


"Kakak...semangat," ujar Briana memberi dukungan kepada Leon dan Lucio. Zio pun sama.


"Ayo kak kalian pasti menang..," ucap Zio kuat. Leon dan Cio melihat ke arah mereka dan tersenyum.


Malam harinya.....


Ceklek...


Javier masuk kedalam kamar, melepas pakaiannya hingga menyisakan boxer hitam saja. Ia selalu tidur seperti itu.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Emma menidurkan baby Ed di box bayi dan menyelimuti bayi mungilnya.


"Sudah, mereka tidur lebih cepat malam ini. Mungkin karena mereka kelelahan satu hari ini," ujar Javier naik ke atas tempat tidur.


"Besok Caroline dan Xander datang ke rumah kita," Emma naik ke atas ranjang, bersandar di kepala ranjang.