My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 58: 5 menit lagi



"Ya aku kan juga mau.." gumam Javier pelan.


"Kamu bilang apa Jav," tanya Emma karena tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan Javier.


"Memangnya aku tadi bilang apa, perasaan aku tadi diam," ujar Javier menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Emma dengan pelan mengambil mainan yang ada di tangan Zio dan meletakkannya di atas meja.


"Jav aku ke kamar anak-anak dulu ya, sepertinya aku mengantuk," ucap Emma menggendong Zio menuju kamar.


"Kamu tidur di kamar mereka?" tanya Javier membuat Emma memutar tubuhnya ke arah Javier.


"Memangnya aku tidur dimana lagi. Kan hanya ada dua kamar di sini. Satu untuk mu dan satu lagi untuk kami," ucap Emma. Tentu saja Javier tidak akan menyetujuinya.


"Tapi tempat tidur di kamar mereka tidak cukup untuk menampung empat orang," ujar Javier.


"Bisa kok, tadi pagi aja kami tidur di sana masih longgar," balas Emma. Javier akhirnya menyerah. Rencananya ingin tidur sama gagal. Dengan kesal ia masuk ke kamarnya.


********


Emma bangun dari tidurnya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya ampun, ini sudah jam 6," pekik Emma. Untung saja ia terbangun, bagaimana kalau mereka ketiduran hingga lupa dengan acara malam ini. Emma membangunkan ke tiga anak laki-lakinya dan menyuruh mereka untuk segera mandi.


Setelah menyiapkan pakaian untuk ketiga anak laki-lakinya, Emma masuk ke dalam kamar Javier untuk melihatnya.


"Astaga...ternyata dia juga belum bangun," gumam Emma melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Javier.


"Jav...Jav..ayo bangun," panggil Emma membangunkan Javier.


"Hmmm.." gumam Javier menggeliat namun tidak bangun.


"Jav, ini sudah pukul 6 sore. Apa kamu ingin terlambat di acara mu sendiri," ucap Emma. Javier bangun dan menetap Emma yang duduk menyamping di sampingnya.


"Ya sudah terserah kamu saja. Pokoknya aku sudah membangunkan mu. Kalau kamu terlambat jangan salahkan aku," ujar Emma bangkit namun segera di tahan oleh Javier. Pria itu menarik tubuh Emma hingga terjatuh menimpa tubuhnya. Dengan cepat Javier melingkarkan kedua tangannya di pinggang Emma.


"Jav, apa yang kamu lakukan, lepaskan aku.." ucap Emma memukul mukul dada Javier. Namun Javier tidak peduli dan tidur kembali. Emma merasakan suhu tubuhnya semakin meningkat.


"Jav.., aku bilang lepaskan. Aku harus membantu anak-anak bersiap-siap," ujar Emma sesak. Javier terlalu kuat memeluknya.


"Kalau kamu tidak diam, maka aku tidak akan bangun. Aku akan terus memelukmu seperti ini. Persetan dengan acara nanti malam," ujarnya membuat Emma diam.


"Baiklah hanya 5 menit," batin Emma menyerah. Javier tipe orang yang keras kepala.Tangan Javier mulai nakal, ia mengelus naik turun punggung telanjang Emma karena Emma belum mengganti pakaian yang di kenakan nya saat di pantai tadi.


"Jav.." ujar Emma dengan nada memperingati. Bukannya berhenti Javier malah menyeringai dengan mata terpejam. Javier mengubah posisi mereka tanpa melepaskan pelukannya hingga Emma tidur menyamping membelakanginya. Emma dapat merasakan nafas hangat Javier di punggungnya.


"5 menit lagi bangunkan aku," ujar Javier menghirup dalam-dalam aroma tubuh Emma.


"Kenapa kamu harum sekali. Kamu pakai apa sih," gumam Javier.


"Lima menit mu sudah terhitung sejak tadi," pungkas Emma membuat Javier diam.


"Iya..iya...cup..," ujar Javier menurut lalu mengecup punggung Emma. Emma tersentak saat Javier mengecup punggung polosnya. Darahnya berdesir hebat dan merasakan gelenyar aneh di dalam tubuhnya.


Lima menit kemudian Emma membangunkan Javier, dan pria itu menepati janjinya. Emma bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju kamar anak-anak.


"Tunggu dulu," ujar Javier menghampiri Emma. Pria itu mengambil paper bag dari dalam lemari dan memberikannya pada Emma.


"Aku ingin kamu memakainya malam ini," ucap Javier.


"Ta..tapi aku sudah membawa baju sendiri," balas Emma menolak pemberian Javier.


"Tidak ada penolakan Emma," ucap Javier mengecup belahan dada Emma yang terlihat menggoda sejak tadi dan langsung melenggang pergi.


"Akh...dasar mesum," pekik Emma frustasi dengan sikap Javier yang bertidak secara tiba-tiba.