
"Sayang, ini tidak betul kan. Kamu tidak ada hubungan dengan wanita ini yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ku. Memangnya apa yang kurang dari ku," ujar Valery mendekati Javier yang sangat terobsesi dengan Javier.
"Lihatlah, wajahnya bahkan tidak bisa menyaingi kecantikan ku," ujar Valery sombong. Dalam hatinya Emma sedikit tidak terima dengan semua ejekan yang dilontarkan Valery padanya. Javier tersenyum mengejek ke arah Valery. Siapa yang mengatakan jika Emma tidak cantik. Mungkin matanya sudah rusak. Baginya Emma bahkan tidak ada duanya dibandingkan Valery.
"Bahkan aku rasa dia tidak bisa memuaskan mu di ranjang seperti yang kulakukan," lanjut Valery membuat Emma terkejut.
"Hei, kenapa dia mengurusi masalah ranjang memangnya dia sehebat apa coba," batin Emma.
"Sudah lah Valery, kamu pergi saja. Aku tidak ingin mengusir mu secara paksa dari sini," ucap Javier merapikan anak-anak rambut yang berantakan disekitar dahi Emma.
"Kenapa kamu cantik sekali baby," puji Javier mengecup bibir Emma. Dasar Javier modus. Pintar sekali ia memanfaatkan situasi. Tapi tunggu dulu, itu murni memang dari hatinya.
"Oh Tuhan, sepertinya aku akan mati jantungan di sini hanya karena semua perlakuannya," batin Emma yang duduk seperti robot di pangkuan Javier. Ia menatap kesal pada Javier sekarang.
"Baby, aku ingin bercinta lagi denganmu. Sepertinya di sini menyenangkan untuk melakukannya karena suasana baru. Aku belum puas dengan yang tadi pagi. Padahal kita sudah melakukannya 3 ronde. Belum lagi 5 ronde malam harinya, aku tidak pernah bosan melakukannya dengan mu," ucap Javier melirik Valery yang kesal dan marah ditempatnya membuat Emma merona.
"Aku ingin mendengar suara des*han mu lagi saat aku menghunjam milikmu dengan keras lalu kamu akan berteriak faster Jav..fas__" ucapan Javier terpotong karena Emma sudah menutup mulut Javier dengan tangannya. Bosnya memang sinting. Bisa-bisanya ia bicara sefrontal itu. Emma tidak tau semerah apa wajahnya sekarang. Javier sangat pandai mengarang cerita.
Javier menjauhkan tangan Emma dari mulutnya, "Apa kamu sedang malu sayang. Wajah mu merona," ucap Javier. Astaga martil mana martil. Emma ingin sekali memukul keras kepala Javier sekarang.
"Brengsek, lihat saja. Aku akan mendapatkan mu kembali," batin Valery marah.
Brakkk..., Valery pergi meninggalkan ruangan Javier dengan membanting pintu. Emma bernafas lega, akhirnya ia bisa bebas sekarang. Dengan cepat-cepat Emma bangkit dari pangkuan Javier. Tanpa pamit, ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Javier.
"Tunggu.." timpal Javier menghampiri Emma. Wanita itu berbalik menghadap Javier.
"Apa kamu akan keluar dengan pakaian seperti ini," ucap Javier hendak mengancingkan baju Emma yang terbuka. Dengan cepat Emma menahan tangan Javier.
"Diam lah Emma, biar aku yang melakukannya," perintah Javier. "Aku tidak ingin orang lain melihat dua benda besar milikku ini," batin Javier. Sepertinya Javier mulai posesif terhadap Emma.
"Sejak kapan kancing bajuku terbuka, astaga malu sekali, jangan-jangan sejak tadi dia sudah melihatnya" batin Emma.
"Apa kamu tidak ingin mencoba satu ronde," ucap Javier tersenyum nakal.
"Aishhh..dasar gila, mesum.." ucap Emma kesal lalu pergi. Ia tidak peduli lagi dengan Javier sebagai atasannya. Javier tertawa terbahak-bahal di ruangannya.
"Ya ampun, wajahnya menggemaskan sekali saat kesal dan marah," gumam Javier tertawa.