
"Tapi Jav__"
"Tidak ada tapi-tapian Emma. Ini perintah bos kamu," balas Javier memotong perkataan Emma. Karena pembicaraan itu bahkan Emma lupa dengan baju yang dipakainya.
"Apa kamu memang tidak punya makanan, aku lapar sekali," ujar Javier dengan wajah melasnya. Ia merasakan perutnya seakan di remas-remas sekarang ini. Mana sanggup ia melihat wajah Javier yang kesakitan seperti itu. Entah kenapa hatinya tidak bisa melihat Javier dan anak-anaknya merasakan kesakitan. Sikap Emma sangat berbeda terhadap mereka. Mungkin kalau itu bukan mereka, Emma juga tidak akan seperti ini. Sepertinya ke empat pria itu sangat berarti baginya.
"Tunggu sebentar," ujar Emma pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian ia kembali dengan memakai cardigan nya. Emma langsung menuju dapur dan membuat makanan untuk Javier. Ia tidak tega melihat wajah memelas Javier. Ia tau pria itu sedang kelaparan. Terlihat dari cara Javier memakan sisa cemilannya tadi.
"Jav mau makan disini atau di sofa?" tanya Emma.
"Di sini saja," jawab Javier menonton televisi. Emma membawa piring dan gelas yang berisi air minum ke ruang tengah dan menaruhnya di atas meja sofa.
"Aku siapkan perlengkapan ku dulu, kamu makanlah," ujar Emma hendak pergi namun ditahan oleh Javier.
"Tunggu dulu," tukasnya.
"Kenapa, apa ada yang kurang?" tanya Emma.
"Aku belum menikmati hidangan pembuka ku," ucapnya menarik tubuh Emma hingga jatuh ke pangkuannya. Secepat kilat Javier meraup bibir merah Emma yang menjadi candunya itu.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku bahkan tidak takut. Kamu terlihat menggemaskan saat melotot," ujar Javier mencubit gemas pipi Emma. Astaga, bahkan sekarang Emma merona hanya mendengar perkataan Javier. Ia bahkan lupa untuk segera melepaskan dirinya dari kungkungan tubuh berotot Javier. Pria itu benar-benar mampu membuat Emma lupa diri. Ia mendekatkan wajahnya pada Emma dan menatapnya dengan penuh damba.
"Kau membuatku gila," ujar Javier. Pria itu lupa dengan rasa lapar di perutnya. Entah siapa yang memulai kini keduanya kembali menyatukan bibir mereka dan saling melum*at. Emma yang menikmati ciuman Javier melingkarkan kedua tangannya di leher Javier.
Javier mengangkat tubuh Emma dan membawanya kembali ke atas pangkuannya tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.
Mendengar ******* Emma bibir Javier mulai liar menjelajahi leher mulus Emma. Javier menghirup dalam-dalam aroma tubuh Emma. Ia terus menciumi leher Emma dengan penuh gairah. Emma yang merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya merem*as rambut Javier. Tak hanya itu, tangan Javier turun ke bawah, mengusap paha mulus Emma.
"Jav..nghhh..." Emma melenguh, membuat Javier semakin bersemangat. Javier membawa tangannya menyelusup ke dalam baju Emma dan mencari benda favoritnya.
"Tebakan ku tidak salah," bisiknya sensual saat menangkup salah satu dada Emma. Besar dan bahkan tangan besar Javier tidak mampu menangkup keseluruhannya. Puncaknya bahkan sudah mengeras. Javier terus bermain di leher Emma sembari memainkan tangannya di dada Emma.
Ting..nong..
Emma terkejut saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.