My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 87: Kita Selesai



"Kamu pikir aku akan percaya dengan kata-katamu Hah.." ucap Xander melayangkan tangannya di perut Javier. Emma dan Caroline semakin takut melihat kedua pria yang sedang adu otot tersebut.


"Kamu akan menyesal sialan," pungkas Javier menangkis pukulan Xander dan menendang perutnya. Javier bangkit dan meninju Xander seperti orang kesetanan.


"Jav berhenti, kamu bisa membunuhnya..." teriak Emma ketakutan saat melihat Javier menyerang Xander bertubi-tubi.


"Lihat...lihat Caroline, aku akan membalaskan semua kesakitan yang kamu alami selama bersama pria brengsek ini. Aku juga ingin membalas perbuatannya karena menghilangkan sosok ibu dari anak-anak ku lima tahun ini. Kamu tidak pantas mencintai pria brengsek seperti dia Caroline. Dan dia tidak pantas mendapatkan cintamu. Bagaimana bisa kamu masih mencintai pria ini. Bughhh! bughh! bughh!"


"Jav berhenti, cukup. Kamu bisa membunuhnya. Aku...aku tidak ingin Arthur kehilangan ayahnya," ujar Caroline menangis sejadi-jadinya. Ia tidak tega melihat Xander tak berdaya di bawah kuasa Javier.


"Bangun sialan, apa hanya ini kemampuanmu," teriak Javier.


"Jav berhenti, kumohon..." lirih Caroline tersungkur di lantai. Namun Javier yang dikuasai amarah dan emosi mengabaikan Caroline. Sementara Xander tak bisa lagi melawan karena kehabisan tenaga.


"Jav...berhenti..." pekik Emma menarik tangan Javier hingga ia terdorong ke lantai. Hatinya seperti teriris karena Javier mengabaikannya.


Emma bangkit dengan mata yang berkaca-kaca, Emma tidak bisa menghentikan kemarahan Javier, "apa kamu akan membunuhnya HAH...ayo katakan..katakan.. sialan..brengsek. Jika iya maka kita selesai. Aku tidak ingin hidup dengan seorang pembunuh," maki Emma penuh Emosi, ia tidak bisa membendung air matanya lagi. Ini pertama kalinya ia memaki Javier. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.


Javier tersentak mendengar suara tangisan wanitanya. Pria itu seketika tersadar dan langsung memeluk tubuh Emma yang bergetar hebat karena rasa takutnya.


"Emma...sayang, maaf...maafkan aku. Aku..aku dikuasai oleh amarah. Ku mohon jangan seperti ini," ujar Javier sedih. Ia merasa bersalah sekarang. Emma menenggelamkan wajahnya di dada Javier tidak membalas perkataan pria itu.


Caroline yang melihat Xander yang tersungkur lemah tak berdaya di lantai dengan darah yang mengalir dari pelipis dan bibirnya menghampiri Xander. Pria itu tampak berusaha bangkit, Caroline dengan sigap membantunya namun tangannya segera ditepis oleh Xander.


"Pergilah..aku tidak ingin melihatmu disini Xander. Tapi ingat, urusan kita belum selesai," ucap Javier dingin memeluk tubuh Emma.


Xander bangkit dengan susah payah dan menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia melangkahkan kakinya dengan tertatih dan berjalan sempoyongan meninggalkan rumah Javier.


"Aku tidak bisa Jav, dia terluka. Aku takut terjadi sesuatu dengannya," ujar Caroline menangkap rasa khawatir dalam diri Javier.


"Aku tidak apa-apa Jav. Aku akan menyelesaikan masalahku dengannya. Katakan pada anak-anak untuk menungguku, aku akan menemui mereka nanti dan menceritakan semuanya," ucap Caroline berlari mengejar Xander.


Setelah kepergian Caroline dan Xander, Javier kembali fokus pada wanita di pelukannya. Sejak tadi Emma enggan mengatakan apa pun.


"Sayang..ku mohon bicaralah, jangan mendiamkan ku seperti ini," tukas Javier.


"Kamu membuatku takut Jav. Hiks....hiks.." isak Emma akhirnya berbicara.


"Maaf...maaf...Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Javier mengangkat tubuh Emma ala bridal style menuju sofa.


"Jangan menangis lagi sayang, aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Apalagi itu karena aku sendiri," ujar Javier menghapus air mata Emma dan memeluk tubuh wanitanya. Emma mengangguk, menatap wajah Javier yang lebam.


"Wajah mu terluka," ucap Emma menyentuh wajah Javier. "Aku akan mengobatinya," Emma bangkit dari sofa untuk mengambil kotak P3K. Javier mengangguk. Tak lama kemudian Emma datang membawa kita obat kemudian mengobati luka di wajah Javier.


"Aku takut terjadi sesuatu dengan Caroline," ujar Emma khawatir.


"Shhh.." ringis Javier.


"Maaf, apa aku menekannya terlalu kuat?" tanya Emma. Javier menggeleng.


"Caroline akan baik-baik saja. Percayalah padaku," ujar Javier.