My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 66: Cemburu dan Marah



Javier sejak tadi menunggu mereka keluar dari restoran. Entah sudah berapa kali ia memukul setir mobilnya karena menahan rasa marah dan cemburu dalam dirinya. Ia keluar dari dalam mobilnya dan membiarkan tubuhnya diguyur hujan. Pikirannya sedang kacau. Kali ini rasa cemburunya yang selama ini ia simpan ingin meledak. Kepalanya ingin pecah saat melihat Emma tertawa bahagia bersama pria itu.


Setengah jam kemudian


"Aku akan mengantar kalian pulang, hujannya belum reda sejak tadi," ujar William.


"Tidak perlu, aku yang akan mengantar mereka," ucap Javier menghampiri mereka dengan sorot matanya yang tajam serta wajah dinginnya.


"Javier..," gumam Emma terkejut melihat kedatangan Javier dengan keadaan basah kuyup.


"Ada apa, kamu kaget ya," ujar Javier tertawa sinis.


"Jangan karena anak-anak ku dekat denganmu, kamu seenaknya membawa mereka dan mengenalkannya pada pria lain," ujar Javier asal membuat Emma terdiam sekaligus sakit hati. Emma tidak tau apa yang terjadi dengan Javier sekarang. Tiba-tiba muncul dan bersikap dingin seperti ini.


"Jav kamu bilang apa sih, kami hanya makan malam saja. Anak-anak ingin makan di luar," ujar Emma mencoba tenang.


"Diam lah Emma, aku sedang tidak ingin mendengar penjelasan mu," ucap Javier.


"Daddy apaan sih, kami yang mengajak mommy makan di luar. Kenapa daddy marah. Kemarin-kemarin daddy tidak marah kalau kami keluar dengan mommy," ujar Cio. Javier mengabaikan perkataan anaknya.


"Maaf tuan, saya sedikit terlambat," ujar Ramiro yang baru saja tiba di restoran.


"Paman, bawa anak-anak pulang sekarang juga," ujar Javier dingin. Ramiro lalu mengajak ketiga anak Javier pulang namun mereka tidak mau. Mereka tidak ingin meninggalkan Emma disana.


"Sayang kalian pulang ya, mommy baik-baik saja. Mommy akan menemui kalian besok," ujar Emma lembut. Ketiga anak itu mengangguk.


"Dan kamu, jangan coba-coba menemui anak-anak ku lagi. Atau aku akan menghancurkan perusahaan milik mu," ucap Javier menunjuk wajah William, membuat Audrey takut.


"Will, sebaiknya kalian pulang saja. Audrey sepertinya tidak nyaman disini," ujar Emma tidak ingin Javier sampai menghancurkan perusahaan William. Bagaimanapun juga ia ikut andil dalam kejadian ini.


"Sepertinya anda terlalu cemburu," ucap William membuat Javier terpaku ditempatnya. Apakah begitu terlihat. William lalu pamit.


Javier menarik tangan Emma dan membawanya menuju mobilnya.


"Jav..lepaskan aku, aku bisa pulang sendiri," ujar Emma mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Javier.


"Jav...lepaskan aku, kamu menyakiti ku," bentak Emma marah merasakan tangannya di cengkram oleh Javier.


Pria itu membuka mobilnya dan mendorong Emma masuk ke dalam. Javier masuk ke dalam mobilnya. Javier menghela nafasnya sebelum ia membawa mobilnya membelah jalanan yang ramai.


Setibanya di depan rumah Emma, Javier mematikan mesin mobilnya. Sejak tadi tidak seorang pun dari mereka berdua yang berbicara. Emma turun dari mobil Javier tanpa pamit. Javier buru-buru melepaskan seatbelt nya dan mengejar Emma.


"Aku cemburu..." ujar Javier memeluk tubuh Emma dari belakang membuat wanita itu tersentak.


"Aku cemburu tiap kali melihat mu tertawa dengan pria lain, aku cemburu saat melihat mereka mengantar mu pulang dan mengajakmu makan bersama. Aku cemburu...aku cemburu Emma. Tak taukah kamu jika aku sangat mencintai mu," ucap Javier dengan suara bergetar.