
"Sayang kamu jangan tidur dulu," ujar Javier saat melihat Emma akan membaringkan tubuhnya. Sementara itu Zio sudah tertidur.
"Ada apa," kata Emma pelan. Javier mengajak Emma turun dari atas tempat tidur dengan hati-hati dan membawanya keluar dari kamar.
"Ceklek," Javier membuka kamarnya yang kosong lalu menutup pintu.
"Ada apa Jav, kenapa kamu membawaku kesini," tanya Emma. Javier menyeringai, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Emma.
"Aku menginginkanmu sayang.." ujar Javier menggesek miliknya ke milik Emma.
"Jav...kita baru melakukannya tadi siang," ucap Emma tak percaya dengan apa yang baru saja Javier katakan. Emma tidak tau jika ternyata nafsu pria di depannya ini sangat kuat.
"Ayolah sayang...kita buat adik untuk Zio. Bukanlah tadi ia sudah memintanya. Aku hanya ingin mengabulkan permintaan Zio sayang," kata Javier mengedipkan satu matanya.
"Hei..jangan bawa-bawa nama Zio. Bilang saja kamu memang maniak. Dasar maniak..." cibir Emma mendorong tubuh Javier.
"Sayang...ayo dong. Masa kamu tega banget biarin aku kesakitan menahannya, ini sakit banget sayang," ujar Javier menunjuk miliknya yang entah sejak kapan bangun. Javier bahkan tidak tau kenapa ia selalu seperti ini jika berada di dekat Emma. Dasar Emma yang tidak tegaan melihat Javier menahan rasa sakitnya akhirnya mengangguk. Ia melepas gaun tidurnya hingga menyisakan dalam.annya saja. Karena bagian itu hanya boleh di buka oleh Javier.
Dengan tergesa-gesa Javier melepas semua pakaiannya tanpa tersisa. Emma yang melihat milik Javier mencuat terbelalak. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya Emma melihat benda besar dan berurat itu. Tapi entah kenapa tiap kali melihatnya, Emma akan kaget duluan. Javier langsung meraup bibir kenyal milik Emma yang menjadi candunya itu. Tak tinggal diam, Emma membalas ciuman Javier hingga keduanya saling melum*at. Javier mendorong tubuh Emma hingga terjatuh di atas ranjang dan menindihnya. Bibir basah Javier kini turun ke leher mulus Emma, tangannya merem*as salah satu gundukan kenyal milik Emma.
"Ahhh...Jav," Emma tampak tak kuasa dibuatnya, Emma lalu memejamkan matanya. Milik Javier menusuknya dari balik cd nya.
"Nghhhh...ahhh..." Emma mende*ah kala bibir Javier mengulum puncak dadanya yang sudah mengeras sejak tadi. Emma bahkan tidak merasakan jika Javier sudah melepas bra nya.
"Javhhh...." rancau Emma menekan kepala Javier di dadanya. Javier memutar tubuhnya hingga Emma berada diatasnya sekarang.
"Kau yang memimpin sayang," ujar Javier serak. Emma yang sudah tidak tahan lalu menuntun milik Javier masuk ke dalam miliknya.
"Ouchh..sayang," rancau Javier bangkit saat merasakan miliknya di rem*s oleh milik Emma yang ketat. Javier meraup dada kenyal Javier tak ingin membiarkannya menganggur.
"Ouhhh...Javhh, aku..aku akan sampai," rancau Emma bergerak tak karuan di atas tubuh Javier hingga akhirnya ia mengalami pelepasannya. Emma tampak terengah engah karena pelepasan hebat yang baru saja ia rasakan. Emma memeluk erat tubuh Javier.
"Apa kamu menikmatinya sayang.." ujar Javier.
"Tentu saja Jav, kau selalu membuatku melayang," balas Emma.
"Kalau begitu sekarang giliran ku," ucap Javier mengambil alih. Javier memutar tubuhnya hingga Emma berada di bawahnya sekarang. Perlahan Javier mulai memompa miliknya. Tangannya memainkan dada kenyal Emma.
"Jav...lebih cepat lagi.." rancau Emma mencengkram punggung Javier. Untung saja kukunya tidak panjang sehingga tidak akan melukai pria itu.
"Dengan senang hati sayang," ucap Javier semakin mempercepat goyangannya. Javier menghentakkan miliknya dengan keras hingga membuat Emma merancau di bawahnya. Javier terkekeh mendengar suara desa*an Emma yang sangat kuat. Pantas saja calon mertuanya itu bisa tau.
"Jav...aku hampir sampai..." rancau Emma.
"Tahan sayang, aku juga hampir sampai," ujar Javier serak hampir mendapat pelepasannya. Javier merasakan milik Emma semakin berkedut mempercepat hunjamannya.
"Ohhh shitttttt... kau membuatku tidak bisa berhenti sayang...bersama sayang.." ujar Javier hingga akhirnya mereka mencapai puncaknya bersamaan.
"Akhhh.." pekik Javier kuat menjatuhkan dirinya di atas tubuh Emma. Miliknya menghentak putus-putus menyemprotkan sisa-sisa cairannya.
"Kau selalu nikmat sayang. Aku mencintaimu," ujar Javier mengecup bibir Emma. Javier menjatuhkan dirinya di samping tubuh Emma dan memeluk wanitanya.