
Acara peresmian hotel baru milik Javier berjalan dengan lancar. Kini mereka sudah kembali ke penthouse milik Javier. Emma menggendong Zio yang sudah tidur sejak di ballroom tadi. Sedangkan Javier menggendong Leon yang juga sudah tertidur.
"Cio ganti baju lalu cuci muka ya," ujar Emma membaringkan Zio dengan hati-hati di atas tempat tidur.
"Oke mom," ujar Lucio.
Emma lalu membuka sepatu Zio dan Leon dengan pelan-pelan takut membangunkan kedua anak itu. Tak lupa juga dengan tuxedo nya. Emma melepaskannya agar kedua anak itu bisa tidur dengan leluasa.
Lucio yang sudah mengganti pakaiannya bergabung dengan kedua saudaranya di atas tempat tidur.
"Good night mom, dad," ucap Lucio.
"Good night sayang, have a nice dream," balas Emma.
"Apa kamu sudah mengantuk? Aku ingin mengajak mu jalan-jalan di luar," ajak Javier. Emma yang juga belum mengantuk tertarik dengan ajakan Javier lalu mengangguk.
"Aku ganti baju dulu," ucap Emma.
"Tidak perlu, aku suka melihat mu dengan gaun ini," ujar Javier menahan tangan Emma. Emma tersipu dengan ucapan Javier mengangguk.
"Kita jalan kaki saja ya," pinta Emma. Ia ingin menikmati suasana malam hari di kota Miami dengan jalan kaki.
"Baiklah," ujar Javier.
Meskipun sudah malam hari dan ini hampir jam 12 malam, suasana di kota tersebut masih ramai. Cafe, bar dan restauran masih terlihat ramai oleh pengunjung. Javier menggenggam tangan Emma disepanjang jalan.
"Mereka tidak akan bangun, kamu tidak usah khawatir," ujar Javier. Ia senang melihat Emma yang begitu peduli dengan anak-anaknya.
"Ingin makan sesuatu?" tanya Javier.
"Tidak, aku masih kenyang. Tadi di hotel aku makan cukup banyak, makanannya sangat enak," ujar Emma tertawa pelan.
"Kalau begitu kita beli minum saja," ucap Javier mengajak Emma membeli minuman. Setelah membayarnya Javier membawa Emma duduk di salah satu tempat duduk yang ada di pinggir jalan.
"Kau tau, aku mengajak mu ke sini karena ingin mengatakan sesuatu pada mu," ujar Javier menggenggam salah satu tangan Emma. Ia bukanlah tipe pria yang romantis, bahkan ia tidak tau memilih tempat agar suasananya sedikit romantis saat mengutarakan cintanya pada Emma. Ia juga tidak mampu merangkai kata-kata romantis. Javier tipe orang yang langsung to the point ketika ingin mengatakan sesuatu.
"Aku mencintaimu Emma, mau kah kamu menjadi ke kasih ku?" ucap Javier membuat Emma terperanjat di tempatnya. Javier menembaknya. Seketika jantungnya berdetak lebih cepat dari yang biasanya. Javier tampak tidak sabar menunggu jawaban dari Emma.
"A..aku__"
"Caroline.." gumam Javier melepaskan tangan Emma. Refleks Emma mengikuti tatapan mata Javier yang tertuju pada seorang wanita yang baru saja menaiki sebuah mobil.
"Tunggu disini, jangan pergi kemana-mana, aku ada urusan sebentar," ujar Javier meninggalkan Emma lalu memberhentikan taxi yang baru saja lewat. Untung saja taxi nya kosong sehingga Javier bisa mengikuti mobil yang membawa wanita yang mirip dengan Caroline itu.
Emma yang melihat Javier pergi meninggalkannya mulai berkaca-kaca. Bagaimana mungkin Javier mengutarakan perasaannya padanya lalu pergi saat Emma juga ingin mengungkapkan perasaannya pada Javier. Sesaat dia merasa bahagia, namun kebahagian itu hilang dengan cepat. Emma tidak tau Caroline yang Javier sebut tadi siapa. Ini kedua kalinya setelah kejadian tadi siang di pantai. Mungkinkah itu istrinya atau orang lain. Namun melihat cara Javier yang tiba-tiba mengabaikannya hanya karena wanita itu. Emma menyimpulkan jika wanita itu sangat berarti baginya. Mungkin Emma hanya tempat pelariannya semata karena ingin melupakan istrinya. Tapi jika wanita itu memang istrinya dan masih hidup, maka Emma akan mundur. Emma bersyukur wanita itu selamat. Anak-anak pasti akan sangat bahagia. Ia tidak ingin menjadi penghalang di antara mereka. Emma tidak ingin di benci anak-anak Javier karena merasa merebut ayah mereka dari ibunya. Tak kuasa menahannya, bulir bening itu mulai jatuh membasahi wajah Emma.
Hampir satu jam lamanya Emma menunggu Javier disana, namun hingga sekarang Javier tak kunjung datang. Akhirnya Emma memutuskan untuk kembali ke hotel.