My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 98



Happy reading


Manda dan pemuda desa itu sudah di bawa ke rumah sakit, sedangkan Gara berserta putra-putra nya sudah pulang dan membawa Dila ke ruang bawah tanah milik Gara.


“Dia masih belum sadar juga” ujar Arkan melihat manda yang tergeletak di bawah sana.


“Berapa jam baru dia akan tersadar?” tanya Argan pada Afkan.


“Sekarang pun bisa” ujar Afkan berjalan mendekati Dila, ia mengeluarkan sebuah suntikan dari saku jaket nya lalu menyuntik Dila menggunakan suntikan itu.


Afkan kembali berdiri setelah menyuntik Dila lalu bergabung pada saudara nya. Mereka semua berdiri menunggu Dila sadar.


“Kenapa lama sekali” kata Arkan mengeluh.


“Seharusnya dia sudah sadar”  ujar Afkan.


"Shh" Dila terbangun memegang tangan yang terluka.


"Gue di mana ini!" ucap Dila, ia masih belum menyadari keberadaan Gara, Argan, Afkan, Arsan dan Arkan yang menatap nya.


"Wah sepertinya kau sudah melupakan nya ya, belum satu hari lamanya kau sudah lupa. Ah apa karena kau sudah tua jadi sudah agak pikun" ucap Arkan mengejek Dila.


Dila menggeram marah saat di katakan tua oleh Arkan, dan apa tadi pikun? Oh ayolah ia sangat benci saat ia mendengar ejekan untuk nya, dia hanya ingin di puji dan di banggakan.


"Sudahlah, jangan buang waktu" Arsan mendekati Dila seraya menyeringai seram membuat Dila sedikit merinding dan ketakutan.


"Jangan mendekat kau bocah si*lan!" teriak Dila, ia mundur dengan kebelakang takut Arsan kembali melukainya.


Perawatan nya selama ini akan sia-sia hanya dengan di lukai oleh bocah tengik ini. Dial tidak akan membiarkannya, ia terus menatap Arsan yang juga ikut menatap nya.


"Tidak usah takut, itu tidak akan sakit kok" ujar Arsan dengan wajah polos tapi itu terlihat menyeramkan bagi Dila, ia berdingik ngeri saat membayangkan jika Arsan menggores pisaunya itu pada wajah cantik nya. Tidak, Dila tidak akan memberikan nya!


"Gue bilang jangan mendekat!" teriak Dila marah melotot kan matanya pada Arsan.


"Santai dong" ucap Arkan yang sudah berada di samping Dila, Dila sedikit terkejut akan hal itu dan menjauh dari Arkan.


"Papa yang akan memulai nya boy" ujar Gara datar pergi ke lemari yang berada di pojok, ternyata di dalam lemari itu ada banyak jenis senjata dari yang kecil hingga yang besar.


Gara nampak bingung dalam memilih salah satu dari semua senjata itu, hingga mata Gara terpaku pada sebuah besi yang runcing.


Di dalam sana ada hanya lampu kecil dan juga sebuah obor, terlihat Gara membakar besi itu di api obor, tak lupa sebelum nya Gara sudah memakai sarung tangan.


Setelah dirasa cukup Gara membawa besi panas yang runcing itu mendekati Dila, Dila menggelengkan kepalanya menatap besi panas itu yang berbeda di tangan Gara.


"Tapi sebelum itu-"


"Akhh sakit" Dila meringis kesakitan saat Arsan menggores kedua pipinya menggunakan pisau. Arkan tak tinggal diam dia merampas pisau lipat Arsan dan menggoreskan nya pada leher Dila.


"Ini dariku" kata Regan menyiram Dila menggunakan perasaan jeruk, hal itu membuat Dila memekik kesakitan, tubuhnya bergetar hebat saat merasakan rasa perih di tubuhnya.


"Kalian berdua minggir" Arsan berdecak kesal, ia belum puas membuat sebuah karya yang indah, kenapa harus Papa nya lebih dulu coba.


"Tidak! Gua mohon jangan!"


"Bermohon lah!" ujar Gara senang melihat mimik wajah Dila yang ketakutan.


"Maaf, maafkan semua kesalahan gue, gue tau gue salah dan gue akan menyerahkan diri pada kantor polisi. Tapi sebelum itu tolong lepaskan" ucap Dila akting semenyediakan mungkin di hadapan mereka.


Dila tidak tahu saja jika mereka semua suka melihatnya seperti itu, menjadi orang yang sangat menyediakan membuat mereka bahagia melihat nya.


"Ah aku suka ekspresi nya" ucap Arsan. Yang lain tersenyum tipis menunggu hal apa yang akan di lakukan oleh Gara.


"Bisa saja. Tapi tidak semudah itu!" Gara mengangkat besi panas itu dan mengarahkannya pada Dila, besi itu semakin dekat dengan dan..........


"Aaaaaa..."


***


"Papa dan saudara kalian pada kemana?" tanya Alya pada Rangga.


"Mereka keluar sebentar ma, enggak lama lagi mereka kembali kok Mama tenang saya ya. Sekarang itu Mama harus makan" ujar Alfan.


"Iya ma, Mama makan dulu ya biar Mama cepat sembuh" kata Rangga yang sudah memegang mangkuk makan untuk Alya, ia bagaikan ayah yang sedang membujuk anaknya.


"Tidak Rangga, Mama tidak lapar. Nanti Mama makan" tolak Alya.


Afkan dan Rangga menghela nafas bersamaan, ini sudah sekian kalinya mereka berdua membujuk Alya untuk makan tapi Alya terus menolaknya.


Mereka khawatir jika Mama nya tidak makan bisa-bisa Mama nya drop karena tidak menerima asupan gizi. Dan mereka juga takut di marahin oleh kakak kembaran nya.


"Baiklah Mama makan buah aja ya" tawar Rangga, Alya mengangguk setuju membuat keduanya bernafas lega, setidaknya ada sesuatu yang mengisi perut Alya saat ini.


Alya pun memakan buah-buahan dengan Rangga yang menyuapi nya dengan lahap.


"Kalian sudah selesai?" tanya Gara pada putra-putra nya, ia menunggu keempat nya di teras depan.


"Sudah siap, ayo cepat kita ke rumah sakit nya" seru Arkan berjalan terlebih dahulu pada mobil dan masuk ke dalam sana.


Yang lain ikut menyusul dan duduk dengan tenang, Gara menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Mereka sedikit terburu-buru karena mendapat kabar kalau Alya tidak ingin memakan nasi, ia hanya memakan buah saja.


Tbc.