My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 63



...Happy reading...


.......


.............


.......


"Papa sama Mama mau bicara soal apa?" tanya Rangga memecah keheningan di ruang tengah itu


"Papa akan cerita, tapi kamu jangan pernah memotong ucapan papa. Kamu diam dan dengarkan dengan baik ok" Rangga mengangguk tanpa membantah


Melihat gelagat sang Papa lima 'A' menjadi yakin dengan pemikirannya "Rangga, sebenarnya Papa bukan ayah kandung kamu dan...." Gara berbicara begitu panjang menjelaskan pada Rangga begitu detail agar Rangga tidak salah paham sedikitpun


Mendengarkan cerita Gara, Rangga menahan nafasnya. Dadanya terasa sesak, ia pun memukul pelan dadanya untuk mengurangi rasa sesak itu. Kenyataan ini sungguh membuat Rangga tidak bisa berkata-kata kedua tangan nya mengepal kuat dengan kepala menunduk


Argan menggenggam tangan Rangga yang mengepal, Rangga mengangkat wajahnya menatap Argan "Tahan emosi mu, gue tau perasaan lo sekarang. Didepan Mama jangan sampai lepas kontrol nanti kita bicara lagi" bisik Argan, bahkan di situasi seperti ini Argan masih memikirkan sang Mama tercinta


Bukannya apa Argan berbicara seperti itu, ia tidak ingin hal itu menjadi beban pikiran Mama nya, membuat Mama nya khawatir dan membuat Mama sakit karena memikirkan hal itu. Rangga memang sudah sangat menyayangi Alya dan tidak ingin membuat Alya sedih pun menurut


Rangga mengangguk lalu menghembuskan nafas nya kasar "Papa memberitahukan ini pada kamu karena kamu sudah besar, dan kamu harus ingat tidak ada yang berubah setelah kamu tahu hal ini begitupun dengan yang lain. Kamu tetap anak Papa dan Mama, begitupun dengan Hendri, kami adalah orang tua kalian"


"Papa yakin kamu bisa mengerti Rangga" Gara menepuk pundak Rangga. Rangga mengangguk lalu menatap Gara dan Alya yang masih was-was pada Rangga yang akan marah tidak menerima kebenaran itu


"Rangga akan mencoba mengerti, tapi Rangga butuh waktu" ucap Rangga


"Tentu saja"


"Rangga enggak marah kan?" tanya Alya


"Rangga cuma terkejut dengan kebenaran ini ma" Alya tersenyum lalu membawa Rangga kedalam pelukannya


"Rangga ikhlas ya sayang, ini semua takdir. Kalau Rangga ikhlas Mama Risa pasti senang melihat Rangga dari sana sekarang" Rangga membalas pelukan yang menurutnya sangat nyaman itu, membuat hati nya menjadi jauh lebih baik lagi


***


"Gue ngerti apa yang lo rasain sekarang ngga" ucap Arkan memegang bahu Rangga yang ada di samping nya. Mereka berenam sekarang berada di kamar Argan setelah pembicaraan tadi


"Gue rasanya belum percaya dengan ini" ujar Rangga menatap lurus ke depan


"Kita hanya bisa berharap lo bisa menerima kenyataan ini ngga, dari yang kita lihat om Hendri memang benar-benar tulus untuk dekat sama lo" celetuk Alfan


Rangga tersenyum "Gua bakal berubah"


"Harus dong, apalagi besok lo bertemu sama om Hendri. Pokoknya lo harus besok bersenang-senang sama om Hendri, enak tuh bolos sekolah seharian" ucap Arkan bersemangat


"Gimana kalau kita juga izin membolos?" ide Alfan


"Iya, kalau lo yang izin sama Mama sendiri" ujar Afkan


Alfan langsung cengengesan, mana bisa ia cari alasan ataupun berbohong pada sang Mama hanya untuk membolos sekolah "Canda bang"


'Tok tok tok'


'Cklekk'


"Mama boleh minta tolong?" tanya Alya


"Minta tolong apa ma?" tanya Argan lembut seraya tersenyum


"Itu mama buat kue kelebihan, kalian kasih ke tetangga ya"


"Siap ma"


"Yaudah Mama tunggu di bawah ya sayang" Alya tersenyum lalu menutup pintunya kembali


"Ayo" ajak Argan


Mereka turun bersamaan ke ruang tengah yang sudah ada Alya disana "Kalian mau pergi semua?" tanya nya


"Alfan enggak ah ma" ucap Alfan lalu duduk di samping sang Mama


"Yaudah gak papa, ini kue nya. Kalian hati-hati kalau nyebrang ya" Alya memberikan paper bag pada mereka


"Iya ma"


***


"Rangga mau makan dimana nak?" tanya Hendri


"Terserah A..ayah saja" jawab Rangga


Hendri tersenyum lebar lalu mengelus rambut Rangga, hati nya terasa begitu haru mendengar anaknya memanggil nya 'Ayah'. Dengan penuh semangat Hendri kembali menjalankan mobilnya menuju sebuah restoran


"Kita makan disini saja, gak papa kan?" tanya nya, Rangga mengangguk tanda setuju


"Ayo" ajak Hendri, mereka memasuki restoran itu bersama dan duduk di meja yang kosong "Mau makan apa nak?" tanya Hendri melihat makanan di buku menu


"Nasi goreng spesial aja yah, minum nya air putih aja" pinta Rangga


"Saya pesan nasi goreng spesial dua, kopi satu dan air putih satu. Untuk makanan penutup saya pesan es krim jumbo" ujar Hendri pada waiters


"Baik pak, ada yang mau di pesan lagi?" tanya nya, Hendri menggeleng "Baik, kalau begitu mohon ditunggu ya pak" waiters itu pun pamit pergi meninggalkan Hendri dan Rangga yang kembali canggung


"Rangga sudah mau naik smp ya" ujar Hendri mencari topik


"Iya, gak lama lagi kita akan ujian" jawab Rangga


"Anak ayah sudah besar" Hendri mengelus kepala Rangga, memandang nya seduh merasa bersalah karena tidak melihat nya tumbuh hingga seperti sekarang


Rangga diam diperlakukan seperti itu, ia tak bisa berkata-kata. Ia merasakan hangatnya di perlakukan seperti itu oleh Ayah kandung nya sendiri, ia memang dapat kasih sayang oleh Gara, tapi entah mengapa hati selalu merasa kosong? entahlah ia pun juga tidak tau, yang ia tau sekarang ia benar-benar merasa begitu nyaman dan senang tersendiri di dalam hati nya


"Permisi, ini pak pesanan nya" ternyata itu waiters yang membawakan pesanan mereka "Selamat menikmati" ucap nya lalu pamit


"Ayo makan" ajak Hendri


Mereka pun mulai memakan makan mereka, Rangga yang nampak begitu lahap memakan makanan hingga ia tak sadar sudah belepotan. Hendri melihat itu tersenyum lalu mengambil tissue dan mengelap noda di ujung bibir Rangga


"Ayo makan lagi" ucap Hendri karena Rangga berhenti menyuapi dirinya saat Hendri membersihkan noda di wajahnya "Makasih Ayah" ucap Rangga tersenyum, sepertinya ia sudah merasa nyaman dengan Hendri


Hendri senang bukan main, ia menganggukkan kepalanya "Ayo makan" ucap nya lagi. Mereka kembali memakan makanan nya, sekali kali Hendri melihat Rangga dan tersenyum


"Kamu suka es krim?" tanya Hendri


"Enggak juga, tapi Rangga makan kok" jawab Rangga


Syukurlah, ia tak salah pilih menu untuk makanan penutup mereka, sepertinya ia harus banyak bertanya pada Gara dan Alya tentang kesukaan putra nya itu


"Ini pak hidangan penutup nya"


"Iya, terimakasih"


"Sama-sama"


"Ayo makan" Rangga mengangguk lalu mengambil sendok nya dan mengambil es krim


"Enak" batin Rangga, ia terus menyuapi dirinya es krim jumbo yang ada di depan nya hingga ia merasa cukup


"Sudah?" Rangga mengangguk "Baiklah, karena kita sudah kenyang bagaimana kalau kita ketempat bermain?" usul Hendri


"Boleh, Rangga sudah lama tidak kesana" ucap Rangga setuju


"Baiklah ayo" mereka keluar dari restoran itu menurut sebuah mall yang ada tempat bermainnya


Seharian Ayah dan anak itu berseru-seruan di mall, ia bermain, menonton, makan dan berbelanja. Mereka menikmati hari begitu sangat senang hingga membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat lagi, Mereka berdua sudah tidak canggung lagi dan mulai layaknya seperti Ayah dan anak pada umumnya


Hingga di sore hari mereka pulang, Rangga pun sudah terlihat lelah dan tertidur di mobil. Ia mengangkat sang putra dan membawa ke kamar, sebelum pergi ia mengecup puncak kepala putra lama lalu menutup pintu kamar nya


"Tampak nya Rangga sangat menikmati waktu kalian bersama" celetuk Gara


"Ya, kami sudah tidak canggung lagi" ucap Hendri


"Kalau begitu saya pamit ya" ucap nya lagi pamit pada Gara dan Alya


"Iya, hati-hati pak" Gara memeluk Alya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di pundak sang istri


"Kenapa mas?" tanya Alya, Gara menggeleng lalu mengajak Alya masuk


Tbc.


...Like, komen dan share cerita ini ya guys😍...


^^^Mawar Jk^^^