My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 89



Happy reading


.


"Bagaimana?" tanya Argan pada Arsan yang berkutat dengan komputer.


"Mereka belum bergerak juga bang" jawab Arsan. Lalu ia menyenderkan punggungnya di kursi.


"Mereka sepertinya membuat rencana baru, dan kita tidak boleh lengah sedikit pun. Sasaran mereka saat ini masih Mama karena mereka sudah tahu kalau kita selemah yang mereka dipikirkan." ujar Argan, Arsan pun mengangguk setuju.


"Tapi kita juga harus menjaga tante Aira, ada kemungkinan tante Aira juga di seret dan hal ini mengingat hanya Mama dan tante Aira perempuan di keluarga ini" lanjut Argan.


"Ada benarnya juga" balas Arsan.


"Apa kita keluarkan Leo saja?" tanya Argan.


"Boleh, lagi pula kemampuan Leo sudah cukup bagus setelah kita mengupgrade nya" ujar Arsan, Argan mengangguk dan tersenyum penuh arti.


"Ayo turun" ajak Argan, Arsan mengikut di belakang Argan. Mereka turun menuju ruang tengah dimana yang lain sudah berkumpul.


"Dari mana aja bang, lama amat" tanya Alfan saat Argan dan Arsan sudah duduk di sofa bergabung dengan mereka.


"Gak kemana-mana" jawab Arsan, ia menghampiri Alya dan memeluk Alya dari samping "Mama" panggil nya. Alya tersenyum mengerti maksud anaknya lalu mengelus kepala Arsan dengan lembut, Gara tersenyum melihat itu ia melanjutkan permainannya bersama Arkan dan Rangga.


"Sedikit lagi Rangga akan menang" ujar Rangga menatap binar pada layar tv. Arkan tersenyum remeh "Jangan senang dulu" ucap nya, tangan begitu lincah menekan stik game nya


"Papa yang akan menang" kata Gara tak mau kalah. "Mau taruhan?" tantang Gara tersenyum miring pada kedua putranya itu.


"Siapa takut" jawab Arkan dan Rangga cepat dan tegas.


Beralih pada Alfan yang menatap mereka jenah "Ayolah Alfan juga mau main" ujar Alfan memelas, sebab sendari tadi mereka bertiga tidak ada yang mau mengalah untuk bergantian apalagi Gara yang lebih tua tidak mau mengalah sama sekali.


"Pa gantian dong pa" ujar Alfan menarik pelan baju Gara "Sebentar lagi deh" nego Gara yang begitu fokus pada game nya itu "Dikit lagi ini" lanjut nya. Alfan memajukan bibirnya kedepan cemberut.


"Alfan, sini sayang" panggil Alya, Alfan mendekat dan langsung memeluk Alya "Mereka gak ada yang mau gantian ma, Papa apalagi" adu nya bergelayut manja di lengan Alya


"Sabar ya sayang, kan tadi Papa bilang bentar lagi" ujar Alya mengelus pipi Alfan, Alfan mengangguk pasrah Alya melihat itu pun menghela nafas. Ia melepaskan pelukan Alfan dan Arsan dan menghampiri Gara "Mas, kita ke kamar aja yuk" ajak Alya pada Gara yang masih tetap fokus pada game nya itu.


"Kamu udah ngantuk sayang?" tanya Gara, ia melihat istrinya sejenak, Alya pun pura-pura menguap dengan mata sayu. Gara melihat itu pun meninggalkan game nya begitu saja melupakan taruhannya "Yaudah yuk naik, fan katanya mau main tuh gantiin Papa" ucap Gara. Alfan yang tadinya murung langsung ceria mengambil alih posisi Gara.


"Yuk sayang" ajak Gara memeluk pinggang ramping Alya dan mereka pun berjalan menaiki tangga dan menuju kamar mereka.


"Papa kalau Mama yang bilang aja langsung nge iyain" celetuk Alfan seraya bermain game, yang lain mendengarnya terkekeh "Kayak kamu gak gitu aja fan" ujar Arkan terkekeh. Alfan mengangkat sebelah alisnya menatap Arkan yang mengatainya tadi.


"Terus lo apa kabar bang?" tanya Alfan tersenyum miring. Tiba-tiba Rangga tertawa terbahak-bahak "Kalian itu yah, sama aja tau gak" ucap nya.


Arkan dan Alfan saling menatap "Gak ngerasa lo?" tanya mereka berbarengan membuat tawa Rangga terhenti dan kembali fokus pada game nya. Di belakang mereka Argan dan Arsan tersenyum tipis melihat tingkah mereka yang sedikit menghibur.


"Afkan tadi udah hubungin abang, dan dia bilang bakal pulang telat" ujar Argan.


"Mama udah tau?" tanya Arkan, Argan mengangguk menanggapi nya. Mereka pun kembali dengan kegiatan mereka hingga jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Matiin game nya, ayo naik tidur" ajak Argan. "Bentar lagi bang, bentar ya" ujar Rangga yang jari  nya bergerak begitu lincah.


"Sekarang!" tekan Arsan dingin menatap mereka bertiga tajam. Nyali mereka seketika menciut mendapat tatapan tajam Arsan "Iya bang" ucap nya mematikan game nya dan menyimpan stik game nya di tempat semula dan mengikuti Argan dan Arsan.


"Lo sih segala tolak tadi. Bang Arsan marah kan" ujar Alfan pada Rangga, Rangga tidak terima disalahkan "Lo juga tadi gak berhenti kan pas bang Argan nyuruh tidur" kata nya membela diri nya.


"Jangan berisik, nanti Mama sama Papa terganggu" ujar Argan memperingati mereka.


Rangga Arkan dan Alfan lantas terdiam. Mereka tidak ingin di marahi lagi.


"Bang Alfan gak di tunggu bang?" tanya Arkan membuat Argan berbalik menatap mereka.


"Kalian tidur aja, biar abang yang tungguin Afkan pulang" ujar Argan.


"Gue juga deh bang" usul Arkan, Argan mengangguk setuju lalu menyuruh yang lain masuk ke kamar mereka "Yang lain masuk tidur, gak ada ikut-ikutan" kata Argan saat Alfan ingin berbicara, ia tau kalau Alfan pasti akan mengusulkan dirinya untuk ikut menunggu Afkan.


"Iya bang" ucap mereka patuh, sedangkan Arsan sudah masuk ke kamarnya.


"Mau nunggu dimana bang?" tanya Arkan, Argan terlihat berpikir sejenak "Bagaimana kalau di ruang tengah aja?" tanya Argan memberi usul, Arkan pun hanya mengangguk setuju dan mereka kembali turun ke ruang tengah.


Disisi lain, Gara baru saja selesai memeriksa email yang masuk di tab nya. Setelah memastikan sang istri tertidur nyenyak ia baru memeriksa nya tadi. Sekarang Gara merasa sedikit haus, ia melihat nakas yang ada sisi ranjang ternyata air nya sudah habis.


Gara berdiri untuk mengambil air, sebelum itu ia mengecup kening Alya sejenak lalu beranjak keluar. Gara melihat dua bayangan di gelapnya di ruangan tengah, karena penasaran Gara menghampiri bayangkan yang dilihat nya secara perlahan.


Saat di depan ia kaget sekaligus heran melihat ternyata bayangan putra nya lah yang ia liat tadi " Kenapa kalian tidur disini sih nak" gumam Gara, ia menyimpan gelas nya di meja dan mengangkat dan menggendong Argan untuk dibawa nya ke kamar, setelah itu ia turun dan menggendong Arkan lalu membawa nya di kamar.


Gara kembali turun mengambil gelasnya lalu pergi ke dapur mengambil air minum, setelah memuaskan dahaganya ia pun berniat kembali ke kamar tapi langkah nya terhenti saat mendengar suara mobil. Gara tebak kalau itu putra nya Afkan yang baru pulang, Gara pun berbalik berjalan ke luar untuk membukakan pintu "Assalamualaikum pa" salam Alfan melihat Gara membukanya pintu saat ia baru turun dari mobil.


"Waalaikumussalam, kenapa baru pulang. Sesibuk apa sih hingga membiarkan anak-anak pulang selarut ini" omel Gara sekaligus menyindir pria yang mengantar putra nya pulang, orang yang mengantar Alfan pulang menunduk dan meminta maaf.


"Udah pah, makasih ya pak" kata Afkan, pria yang mengantar Afkan tadi pun pamit dan pergi dari sana "Ayo masuk" ajak Gara. Mereka pun masuk ke rumah nya, Afkan buru-buru masuk ke kamar membersihkan dirinya dan segera membaringkan  badannya di kasur empuknya.


Menghembuskan nafas pelan "Capek juga" gumamnya sebelum memasuki mimpi nya.


Tbc.


Teruntuk reader aku yang setia terima kasih atas dukungannya selama ini, semua suka sama part kali ini♡


...Like dan komen!...


^^^Mawar Jk ^^^