
Happy reading
.
.
Setelah menonton tadi, Diana meminta Alya untuk bermalam di rumahnya dan tentu saja Alya menyetujui nya. Jadi lah mereka masih di sana dengan anak-anak yang bermain dengan Fahmi dan Diana.
Gara dan Alya sendiri hanya memperhatikan mereka duduk di sofa, tiba-tiba handphone Gara berdering "Mas angkat ya sayang" ucap Gara pada Alya, Alya menanggapi nya dengan anggukan kecil.
"Halo?" sudah dari seberang sana.
"Iya, siapa ya?" tanya Gara balik, karena yang menelpon itu no baru. Agar sang istri mendengar nya Gara pun membesar volume nya.
"Saya Manda mas" jawab perempuan dari seberang sana yang mengaku sebagai Manda.
"Manda?" beo Gara bingung.
"Iya mas, ini Manda. Mas ingat aku kan?" tanya Manda.
Mereka mendengar itu, anak-anak langsung berhenti main ingin mendengarkan apa yang ingin Manda bicarakan. "Siapa pa?" tanya Diana pada Fahmi.
"Papa juga gak tau ma" jawab Fahmi mengangkat bahunya.
"Mas Manda boleh minta tolong gak mas? Manda takut mas sendirian mas, perut aku juga kram" ujar Manda membuat Fahmi dan Diana mengerutkan keningnya bingung. Ada hubungan apa perempuan itu dengan putranya.
Jujur Gara juga bingung sebenarnya. Kenapa dia menghubungi diri? Setelah beberapa hari ini ia dan sang putra sudah mulai baikan. Gara pun memilih diam karena tidak tahu akan menjawab apa, ia tidak mau memberikan perhatian pada perempuan lain, dan disisi lain ia juga merasa tidak enak karena ada yang meminta bantuan para nya.
"Mas Gara?" panggil Manda.
Diana yang sudah kepo dan sedikit kesal mendengar nada bicara Manda dari seberang sana pun mengambil handphone Gara "Kenapa malah hubungin putra saya? Emang situ siapa nya? Istri nya aja bukan" kata Manda nge gas.
Manda di seberang sana tersentak kaget, lalu ia berusaha tenang dan kembali berbicara, ia tahu yang berbicara tadi adalah ibu nya Gara jadi otomatis ia adalah calon mertuanya bukan?.
"Ekhm, eh tante Mama nya mas Gara ya?" tanya nya dalam nada yang sangat halus.
"Iya, kenapa emangnya? Haa?" tanya Diana sewot.
Alfan menatap tajam Papa nya seakan akan bertanya kalau Gara sering menghubungi Manda, Gara menggelengkan kepalanya tahu akan arti tatapan putra nya.
"Kamu ngapain hubungin anak saya yang jelas-jelas sudah punya istri dan anak, kamu mau ngerusak hubungan mereka ha? Dasar perempuan jaman sekarang ya, sukanya ngejar suami orang" omel Diana tak henti-hentinya.
"Ma udah, nanti tekanan darah Mama naik" kata Fahmi mengelus lengan istri nya.
"Udah ya gak usah, caper sama anak saya"
Tut.
Diana mematikan telepon nya secara sepihak tanpa mendengar balasan dari Manda di seberang sana.
"Nih" Diana memberikan handphone Gara dengan sedikit kasar "Kamu ya Gara, sebagai seorang suami itu harus menutup rapat-rapat celah agar gak ada wanita yang bisa masuk dan merusak rumah tangga kamu sendiri" omel Diana pada putra semata wayangnya itu.
"Iya ma, ini salah Gara" kata Gara mengalah karena ia tidak mungkin bisa menang jika berdebat dengan sang Mama.
"Udah ma, kita kan lagi kumpul kumpul gini. Mendingan kita happy happy aja ya" kata Fahmi menenangkan sang istri.
"Iya ma, Papa benar. Sekarang udah hampir makan siang kita masak aja yuk ma" ajak Alya pada Diana mengalihkan topik agar tidak marah-marah lagi.
"Yaudah ayo sayang kita masak, kalian laki-laki diam disini aja biar kita perempuan yang masak" kata Diana.
"Yuk" Diana mengandeng tanga Alya menuju dapur.
"Masak apa ya ma?" tanya Alya mencuci tangan nya terlebih dahulu.
"Masak yang simpel aja sayang, buat gak lama-lama mereka pasti pada laper" jawab Diana, Alya mengangguk mengerti dan dengan talenta mengeluarkan bahan makanan yang akan ia masak.
***
"Iya sayang, Mama tuh suka banget disini apa lagi liat tanaman-tanaman Mama perasaan Mama jadi tenang gitu" kata Diana, Alya mengangguk setuju.
"Oh iya ma, bunga yang Mama kasih dulu udah ada anaknya. Alya sudah pindahkan pada pot lain"
"Owh ya? Wah nanti Mama mampir liat deh teman arisan Mama tuh udah nanya katanya udah ada anaknya belum, soalnya mereka tuh pada mau" jelas Diana.
"Mama ajak aja sekalian mereka ke rumah" saran Alya, Diana tampak berfikir "Ada benar nya juga, yaudah nanti Mama aja teman arisan Mama ya" Alya mengangguk menanggapi. Selain hobi memasak Alya juga hobi menanam jadi tidak heran kalau di rumah banyak tanaman dari bunga, buah-buahan dan sayuran.
Setelah itu hening terjadi sebelum Diana berbicara kembali "Al, emang Manda itu siapa sih dengar nama nya aja anak-anak kelihatan pada gak suka" tanya Diana.
"Mbak Manda itu wanita yang mas Gara tolong ma. Mas Gara kasihan liat mbak Manda malam-malam sendiri di jalan dengan hamil besar" jelas Alya.
"Apa? Hamil? Seperti nya kebaikan Gara ingin di manfaatkan oleh si Manda Manda itu deh Al, kamu harus jagain Gara jangan sampai ia jatuh sama pesona janda gatel itu"
"Iya ma, Alya tau kok. Mama gak usah khawatir ya mas Gara juga udah gak ada hubungin atau apapun soal Manda" ucap Alya mengelus punggung tangan Diana, Diana mengangguk menanggapi nya dan hening kembali pada mereka.
"Ma, Mama dimana ma..." panggil Alfan mencari keberadaan Alya.
"Ada apa ya?" tanya Diana.
"Alya juga gak tau, yaudah ayo ke dalam aja ma" ajak Alya masuk ke dalam rumah. "Kenapa sayang manggil Mama segitu nya" tanya Alya pada Alfan.
"Mama sama Oma dari mana?" tanya Alfan.
"Kita di belakang cari udara segar aja sayang, emang kenapa?" kini Diana yang yang bertanya pada sang cucu.
"Enggak kenapa-napa kok Oma, Mama. kita mau main game bersama dan Alfan mencari Mama sama Oma" jelas Alfan.
"Main game apa?" tanya Diana lagi
"Kita kedepan aja ya ma, Oma" ajak Alfan.
Mereka bertiga pun berjalan menuju kedepan di mana yang lain berada menunggu mereka "Nah akhirnya datang juga, ayo sini kita mau main game ini" ujar Fahmi bersemangat.
Gara memeluk pinggang ramping Alya saat Alya sudah ada di sampingnya "Ini loh ma kita mau main game yang nulis di punggung kita gitu, trus kita rasain dan tulis juga. Dan yang banyak benar nya dapat hadiah, kita bagi dua kelompok ya" jelas Fahmi, mereka mengangguk mereka dengan semangat.
"Alfan mau sama Mama" seru Alfan kuat kuat.
"Ets, gak bisa gitu dong. Kita nentuin teman kelompok kita dengan acak gak boleh pilih sendiri" ujar Rangga.
"Ini udah ada kertas, kita ambil satu persatu. Yang sama dapat A berarti kelompok satu dan yang dapat B berarti kelompok dua, ayo ambil" ujar Afkan menyodorkan sebuah wadah yang berisi gulungan kertas kecil.
Mereka mengambil kertas tersebut satu persatu "Hitungan sampai tiga kita buka sama-sama" ujar Arkan.
"1...2...3!"
"Punya Oma B"
"Aku B juga"
"Aku A"
"Aku pun A"
"Baik, karena kelompoknya sudah terbagi kita mulai permainan nya" seru Alfan.
Mereka mengambil tempat masing-masing dan mulai bermain, menjahili satu sama lain dan tertawa bersama. Rumah tersebut ramai dengan suara canda dan tawa mereka menjadikan hubungan mereka menjadi lebih dekat dan hangat lagi.
Tbc.
Please like and comment
See u next part ❤️
^^^Mawar Jk^^^