
Happy reading
Manda pergi menjemput Dila di halte yang sudah Dila beritahu sebelumnya. Sampai nya di sana Dila segera masuk ke dalam mobil "Bagaimana?" tanya Dila.
"Beres, sekarang kita susul dia di sana" Dila tersenyum puas, ia menatap jalanan yang padat, sungguh ia tidak sabar untuk segera sampai di sana.
Mobil mereka masuk ke tempat-tempat yang terpencil, hampir seperti hutan yang hanya banyak pohon saja di sana. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua, banguna itu dilihat dari luar tampak menakutkan dan emang bisa di jadikan tempat penculikan.
Dila menemukan tempat ini kemarin dengan bantuan orang-orang nya, lalu ia menghubungi Manda dan menyuruhnya untuk segera menculik Alya lalu membawanya kesini.
Manda dan Dila turun dari mobil memasuki bangunan itu dengan yakin. Menaiki tangga menuju lantai kedua, disana mereka sudah melihat dua anak buah nya berdiri di depan pintu ruangan.
Dila melempar amplop yang berisi uang untuk keduanya "Tapi bos, lima teman kami di tangkap" ujar mereka.
"Saya tidak peduli, selagi kalian tutup mulut" kata Dila, kedua pria itu menunduk dan pamit pergi dari sana.
"Ayo masuk" ajak Dila, Manda terlebih dahulu maju membukakan pintu. Di sana ia melihat Alya yang masih belum sadar juga, dengan tidak punya hati nya Dila menumpahkan air pada wajah Alya.
"Bangun sialan" Dila melempar botol itu ke wajah Alya mampu membuat Alya terbangun, Alya memegang kepalanya karena merasa sakit seperti di tusuk-tusuk.
"Aku di mana?" tanya Alya
"Menurut mu?" Alya menoleh dan matanya membulat kaget melihat Manda berdiri bersama seorang wanita cantik, Manda dan Dila sama-sama melemparkan senyum remeh pada Alya seraya bersekedap dada.
"K..kamu!"
"Apa?!" tanya Manda dengan suara keras.
"Boleh di mulai?" tanya Manda pada Dila.
"Tentu saja, mari kita mulai" jawab Dila tersenyum miring. Buku kuduk Alya merinding, ia menatap kedua wanita itu dengan was-was.
Manda menarik rambut dengan kasar membuat Alya meringis kesakitan. Dila tersenyum melihat itu lalu menampar wajah Alya dengan kasar, ia menimbulkan jejak tangan Dila di pipi mulus Alya.
Air mata Alya sudah berjatuhan, ia menagis tersedu-sedu. Kadang ia bertanya, kenapa selalu dia disiksa seperti ini? Apa kesalahannya? Apakah ada hal yang tidak enak yang singgah pada mereka sehingga menyiksanya seperti ini?.
"Berhenti, itu sakit hiks hiks" kata Alya.
"Tapi ini sangat menyenangkan" ujar Dila meraup pipi Alya lalu melepaskannya secara kasar.
Plakk
Dila kembali menampar Alya dengan sangat kasar lalu menarik rambut Alya dan membenturkan nya pada dinding "Akhh" kepala Alya sudah mengeluarkan darah segar, hal itu membuat Dila tambah kesetanan.
"Gara-gara lo sepupu gua jadi meninggal, dan sekarang gue akan membalas apa yang sepupu gue rasakan. Pertama-tama gue bakal siksa lo sepuas-puasnya! Baru setelah itu lo gue bakal bunuh!" teriak Dila tepat di wajah Alya, Alya hanya memejamkan matanya mendengar hal itu.
"Tapi aku gak tau sepupu kamu, bagaimana bisa aku yang menyebabkan nya meninggal?" tanah Alya. Dila menggeram marah, ia kembali menampar dan menjambak rambut Alya seperti orang kesetanan, lalu terakhir Dila menendang kursi yang diduduki Alya membuat nya jatuh karena ia diikat di kursi tersebut.
Alya kembali menagis tersedu-sedu, ia berteriak kesakitan dan memohon untuk menyiksanya. Suara tangisnya benar-benar menyakitkan bagi siapapun pun mendengar nya.
Dila melepaskan tali yang mengikat Alya lalu menampar Alya kembali "Gua juga mau ikut" seru Manda, ia mendekat dan menendang punggung Alya.
"Gua kan udan pernah bilang Alya, kalau gua bakal ngehabisin lo untuk selama-lamanya. Dan gue bakal jadi ratu di keluarga Lo!" ujar Manda pada Alya.
Alya sudah tidak sanggup berkata-kata lagi, ia hanya menangis dan meringis kesakitan. "Bangun lo" desak Dila menatap Alya yang terkapar tak berdaya di lantai yang tampak kotor.
"Bangun gue bilang!" teriak Dila marah menendang kaki Alya "Nih kaki, berdiri berdiri!" tekan Dila.
Alya berusaha untuk berdiri, dengan seluruh tubuh yang bergetar Alya terbangun dan mencoba untuk berdiri. Akan tetapi Manda mendorong Alya sehingga Alya kembali tersukur di lantai "Akhh" ringis Alya merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Yaampu letoy banget sih, gitu aja gak bisa berdiri" ejek Manda membuat Dila tertawa.
Manda menendang perut Alya membuat Alya meringis kembali. Alya memegang perutnya tapi Manda kembali menendangnya membuat Alya menggeram kesakitan "Arghh sa-kit"
"Sakit? Nih yang sakit" Dila ikut menendang perut Alya "ARGHH...." Manda dan Dila tersenyum puas melihat itu. Alya memegang perutnya seraya terus bergumam kesakitan, tak lama kemudian Dila dan Manda melihat ada darah yang mengalir dari pangkal paha Alya hingga kaki Alya.
Karena Alya memakai baju panjang hingga dibawah lutut, hal itu di lihat jelas oleh keduanya. Mereka berdua sama-sama terpaku "Apa jangan-jangan dia hamil?" ujar Dila pelan, Manda menutup mulutnya terkejut, ia lantas memegang perut buncitnya.
Alya menggelengkan kepalanya "Apakah aku benar-benar hamil?" bantin Alya. Alya menggeleng setelah berfikir seperti itu, ia berusaha berfikir positif.
Tidak bisa! Alya mendongak menatap Dila dan Manda yang masih diam menatap nya "To-long a-ku, p-perut ku benar benar sangat sakit" ucap Alya memohon pada keduanya.
Manda luluh, ia hendak membantu Alya, tapi Dila menahannya "Jangan, ayo kita segera pergi dari sini, gue lihat ada alat pendeteksi yang ada di kalung miliknya" ujar Dila.
"Tapi tapi ba-"
"Lo mau di tangkap? Kalau lo mau silahkan lo bangun dia, sebentar lagi keluarga nya akan kesini setelah melacak keberadaanya sekarang ini. Kalau lo benar-benar mau menyelamatkan nya silahkan, gua mau pergi" ucap Dila panjang lebar lalu pergi begitu saja.
Manda bimbang, disisi lain ia ingin membantu Alya, tapi disisi lain ia tidak ingin di tangkap oleh Gara. Lagian tidak jaminan untuknya jika ia menolong Alya.
Manda pun memutuskan untuk pergi dan menyusul Dila yang sudah pergi lebih dulu "Ja-ngan pergi" nafas Alya sudah mulai tidak teratur, pandangan nya lama-kelamaan memburam hingga ia benar-benar hilang kesadaran.
"Lo ikut juga" kata Dila pada Manda. Mereka sudah sampai di mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Ini semua gara-gara lo" tiba-tiba Manda menuduh Dila membuat Dila emosi.
"Kok tiba-tiba nuduh gue sih, kan lo yang nendang perut nya pertama kali, dua kali lagi" bela Dila, ia menatap Manda dengan sinis. Manda tidak berbicara lagi, begitupun dengan Dila, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Manda menatap lurus kedepan, tangan terus mengelus perut buncitnya itu "Kandungan lo udah berapa bulan?" tanya Dila yang sendari tadi melirik Manda yang terus mengelus perut nya
"Delapan bulan"
"Gak lama lagi dong"
"Ya"
"Tenang, sekarang kita sudah aman. Kita akan meninggalkan kota ini untuk bersembunyi beberapa saat agar mereka tidak dapat menemukan kita, gue yakin mereka pasti akan membalas dendam" Manda tidak merespon ungkapan Dila ia terus menatap lurus kedepan, entah apa yang di dipikiran nya.
Tbc.