
Happy reading
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, akhirnya Alya diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan sekarang ini karena hari weekend lima 'A' dan Rangga ikut menjemput Alya pulang bersama Gara.
Sedangkan Aira dan yang lain menunggu mereka di rumah.
"Semuanya sudah beres boy?" tanya Gara pada lima 'A' dan Rangga yang membereskan barang barang Alya, sedangkan dirinya yang akan menuntun Alya berjalan, meskipun sudah sehat tapi Gara kekeh ingin menuntut Alya.
"Udah selesai ini pa" jawab Rangga.
"Baiklah ayo pulang" aja Gara, ia berjalan lebih dulu bersama Alya dan lima 'A' serta Rangga mengikuti mereka dari belakang.
Argan membukakan pintu mobil untuk Alya, setelah itu ia dan adik adiknya ikut masuk dan Gara yang duduk di depan mengemudi mobil nya.
Sesampainya di rumah Alya kembali di bantu berjalan oleh Gara memasuki rumah nya "Assalamualaikum" salam mereka.
"Waalaikumussalam" jawab Diana menghampiri mereka.
"Ayo sayang" Diana merangkul pundak Alya membawanya duduk di ruang tengah.
Aira datang membawa beberapa kue dan juga minuman untuk mereka "Selamat datang di rumah lagi kak" kata Aira duduk di samping Alya lalu memeluknya.
"Mah mma" ocehan baby Al di dalam gendongan Fahmi mengalihkan perhatian mereka semua.
"Kayaknya ada yang kangen sama Mama nya nih" Gara mengambil baby Al dari gendongan Fahmi lalu membawanya mendekati Alya.
"Kangen Mama ya baby, iya?" tanya Alya, baby Al malahan tertawa dan memegang tangan Alya ingin di **** nya "Eh jangan sayang, kotor" tahan Alya menarik tangannya.
"Tapi gak boleh di gendong dulu ya sayang" ucap Gara seraya mencium pipi gembul baby Al.
"Mama sama Papa bermalam kan?" tanya Alya pada Diana dan Fahmi.
"Enggak sayang, besok pagi-pagi Papa ada meeting yang penting jadi kita enggak bisa bermalam" jawab Diana mengelus rambut Alya.
"Yaudah gak papa kok, lain kali kan bisa" Diana menganggukkan kepalanya setuju.
"Eh ayo makan kue nya" ujar Diana menyodorkan cup cake buatnya bersama mereka semua "Kamu juga makan" lanjut Diana, ia menyuapi Alya cup cake itu.
"Gimana enak kan kak? Aira dapat resep baru" ucap Aira mengelus senyum manisnya.
"Em enak banget, kamu memang enggak pernah gagal kalau untuk belajar, nanti kita bisa masukkan pada menu terbaru kita" Aira menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Ayo makan lagi" mereka semua memakan cup cake nya sesekali tertawa saat anak-anak melontarkan lelucon.
Disisi lain seorang wanita yang berbaring lemah di atas brankar dengan selang infus. Jari nya bergerak dengan pelan, tak lama kemudian matanya terbuka secara perlahan-lahan menyesuaikan cahaya.
"Shh, gue di mana ini?" tanya nya pada dirinya sendiri melihat sekeliling yang serba putih.
"Apa gue udah meninggal? Tapi kok ada infus, ayolah Manda jangan ngaco" wanita itu adalah Manda, ia baru siuman setelah operasi.
Seorang suster memasuk mendekati nya, dan dia sudah tebak kalau di berada di rumah sakit, tapi kenapa bisa? Pasti ada kejadian yang-
Matanya membulat sempurna saat mengingat sesuatu, ia menunduk untuk melihat perutnya. Perutnya sudah tidak buncit lagi, apa ia sudah melahirkan?
"Suster saya sudah melahirkan?" tanya Manda pada sang suster.
"Iya Bu ta-"
"Syukurlah, anak saya laki-laki atau perempuan sus?" tanya Manda memotong ucapan suster itu.
"Anak ibu perempuan ta-"
"Ha? Perempuan suster? Wah gue sungguh beruntung!" pekik nya senang.
"Bu, ibu tolong dengarkan saya dulu" kata sang suster menenangkan Manda yang terlalu bahagia.
"Iya suster, silahkan" ucap Manda mempersilahkan suster itu berbicara, ia tak henti-hentinya tersenyum bahagia.
"Begini Bu, karena keadaan ibu Manda yang lumayan parah kita terpaksa mengoperasi ibu. Tapi ternyata anak itu sudah tidak bernyawa lagi saat kami keluarkan"
Deg.
"Kami dari pihak rumah sakit turut berdukacita atas meninggalnya anak ibu"
"Enggak! Enggak mungkin suster! anak saya itu kuat kalian semua pasti bercanda dan menyembunyikan anak saya kan?" teriak Manda marah.
"Kembalikan anak saya atau saya akan melaporkan kalian semua pada polisi!" teriak Manda lagi.
Dia sudah melempar selimut dan juga bantal nya secara bruntal "Saya bilang kembalikan anak saya suster!!" tekan Manda, rambutnya sudah acak-acakan karena ulahnya sendiri.
"Tenang Bu, jahitannya bisa terbuka kalau ibu tetap begini" ucap suster mencoba untuk menenangkan Manda, tapi karena Manda sudah sangat emosi ia mengabaikannya.
"Persetangan dengan hal itu, yang saya mau sekarang itu adalah anak saya, kembalikan anak saya suster dia adalah keluarga saya satu-satunya saya tidak bisa hidup jika seperti ini hiks tolong kembalikan anak saya" tangis Manda pecah.
Sang suster sangat kasihan melihat itu "Ibu yang sabar ya Bu, saya tidak punya kuasa akan hal itu ini sudah takdir bu" ucap nya kembali menenangkan Manda yang terisak.
"Enggak, hiks enggak..." Manda terus menangis mer*mas seprai menyalurkan rasa sakit hatinya.
"ENGGAK MUNGKIN... enggak mungkin, enggak enggak mungkin" Manda berteriak bak orang kerasukan yang menjambak rambutnya sendiri.
"Anak aku hiks hiks" sister melihat itu tidak punya pilihan selain menyuntikkan obat bius pada Manda, jika tidak bisa-bisa jahitan bekas operasi nya bisa terbuka karena belum kering.
"A-nak a-ku" ucap Manda sebelum tertidur, sang suster segera mengambil selimut yang terjatuh tadi beserta bantal nya. Ia menyelimuti tubuh Manda sebelum keluar dari sana.
Tbc.