My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 104 S2



Happy reading


.


Seorang wanita dan juga seorang laki-laki remaja tengah duduk di sebuah kursi kayu dengan remaja itu yang mengusap perut bunci wanita itu.


Dia adalah Alya dan juga Argan, hari ini Argan dan Alfan yang bertugas menemani Alya di rumah setelah pulang sekolah, yang lain pergi ke Gana untuk latihan dan Gara yang masih di kantor nya.


Kalau kalian bertanya tentang Aira, ia dan keluarga kecilnya sudah satu tahun tinggal di Makassar, tahun lalu Aira baru saja melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki.


Mereka akan segera pindah kembali di jakarta karena kontrak kerja Raka yang ada di sana sudah habis, kalau Aira sudah regis saat kehamilan kedua nya.


Perusahaan nya kini akan di tangani oleh Raka suaminya sendiri, ia melihat untuk berhenti bekerja saja agar bisa mengurus anak dan suaminya dengan baik, apalagi ia sudah memiliki dua anak sekarang.


Oh iya, rumah mereka juga di di tambahkan bangunan agar lebih besar dan luas lagi, Alya ingin tinggal bersama adik dan keluarga mereka di sana jadi Gara memperluas rumah dan juga halaman nya.


Apalagi kini anggota keluarga mereka juga akan bertambah, tinggal dua tiga bulan lagi mereka ada mendapatkan satu anggota keluarga baru.


Rumah yang dulu nya memang sudah luas kini tambah luas lagi, atau saat ini di sebut saja sebagai mansion karena luasnya yang tidak main-main.


"Ma, ini buahnya." Alfan datang membawa buah-buahan untuk menemani Alya yang bersantai di halaman samping mansion.


Karena memperluas rumah, dengan terpaksa seluruh tanaman Alya hilang kan dan menanamkan nya lagi, kini ia duduk di samping pohon rambutan yang masih kecil dan juga pohon mangga.


"Makasih ya sayang, ayo duduk." Alfan dengan patuh duduk di sisi kanan Alya lalu ikut mengelus perut buncit Alya bersama Argan yang masih mengusap perut Alya dengan pelan seakan takut menyakiti calon adik mereka.


Mereka menghabiskan waktu mereka berbincang-bincang ringan hingga sore harinya mereka memutuskan untuk masuk ke rumah menunggu yang lain pulang.


Oh iya, Gara juga sudah memperkerjakan ART setelah mengetahui kehamilan Alya lima bulan yang lalu, ia tak ingin membuat Alya kecapean karena mengurus rumah dan mengurus mereka juga.


Di jam lima sore Afkan, Arsan, Arkan dan Rangga baru pulang dari Gana, mereka langsung ke kamar untuk bersih-bersih sebelum menemui Mama mereka yang menunggu nya di ruang tengah yang bersama Argan dan Alfan.


"Ma," panggil Afkan, ia dan Arsan bergantian mengecup kening Mama tercinta nya.


Di usia yang memasuki 32 tahun dan sedang mengandung itu membuat banyak resiko dalam kehamilan keduanya itu, dan hal itu lah membuat Gara, lima 'A' serta Rangga sangat menjaga Alya mereka membuat kesepakatan jika dua orang dari mereka harus ada yang menemani Alya di rumah dan melarang Alya pergi bepergian.


"Gimana keadaan Mama dan adek hari ini?" tanya Arkan duduk di bawah yang di lapisi karpet tebal.


"Baik."


"Mama gak kerja yang berat-berat kan di rumah?" tanya Alfan mengelus perut buncit Alya.


"Abang tenang aja, Alfan ada sama bang Argan, di jamin Mama aman." ucap Alfan tenang.


Ting tongg...


"Baiklah, sepertinya Papa sudah pulang ayo sana buka pintu." titah Alya pada putranya.


"Siap Mama." Alfan memperagakan hormat bendera pada Alya lalu berlari kedepan.


"Katanya model, kok kelakuan nya kok gitu." cibir Arkan melihat cara Alfan berlari, sedangkan yang lain hanya terkekeh.


"Assalamualaikum sayang." salam Gara, saat hendak memeluk dan mencium Alya Afkan menghentikan pergerakan Papa nya.


"Ada apa?" tanya Gara bingung, ia tidak melakukan kesalahan-kesalahan, tapi kenapa di hi di hentikan berdekatan dengan istri nya.


Pernah dulu waktu Gara pergi perjalanan bisnis, janjinya hanya dua hari hari tapi ia baru pulang selama empat hari kemudian dan membuat Alya khawatir setengah mati dan menagis di tengah malam nya.


Lima 'A' marah saat itu dan saat Gara pulang, mereka melarang Gara untuk berdekatan dengan Alya sebagai hukumannya mereka memonopoli Alya untuk mereka sendiri, bahkan mereka melarang Gara untuk tidur bersama Alya. Di situlah Gara berjanji untuk tidak melakukan hal seperti itu, ia tak sanggup jika harus di hukum seperti itu.


"Papa dari luar, pasti membawa kuman yang tak terlihat, mendingan sekarang Papa mandi dulu kalau mau berdekatan dengan Mama lagi."


Gara menepuk keningnya, ia baru ingat itu "Baiklah kalau begitu Papa ke atas dulu." pamit Gara.


"Apa karena Papa sudah tua, jadi melupakan itu?" tanya Arkan polos, Alya terkejut mendengar itu. Alya akui kalau umur Gara sekarang hampir berkepala empat, tapi tidak dengan rupanya, ia terlihat awet muda seperti anak muda di umur dua puluhan.


"Kalian naik minta Papa ambil wudhu ya, kita sholat magrib setelah itu makan malam."


"Iya ma," Argan dan Arkan tetap menerima Alya di sana, dan yang lain baik ke lantai dua bersiap-siap dengan Arkan yang memberitahu Gara sebelum ia ke kamarnya.


Tbc.