My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 106 S2



Happy reading


.


Lima 'A' serta Rangga sekarang menjalankan sepeda nya untuk pulang, mereka tidak sabar untuk bertemu dengan Mama tercinta nya.


Tapi di jalan mereka di hadang oleh beberapa anak yang juga menaiki sepeda "Ngapain lo di sana, minggir!" ucap Rangga pada mereka yang menghalangi jalannya.


"Kalau kita gak mau, mau apa lo? ha." tantang anak tersebut melempar senyum remeh nya.


"Lo pikir kita takut?" tanya Arkan tersenyum miring.


"Jangan sombong jadi adik kelas ya Lo!" teriknya nya emosi.


"Sudah lama juga kita gak main, kalian mau ikut?" tanya Alfan pada saudaranya yang lain.


"Untuk saat ini tidak, jaga emosi kalian. Ingat Mama sedang hamil jangan sampai membuat Mama kepikiran hanya karena mereka." ucap Argan menatap kedelapan orang yang menghalangi jalannya.


"Benar, jadi kau bisa mengatasi nya bukan, Arsan." Arsan tersenyum tipis mendengar ucapan Afkan, ia menatap kedelapan anak di depan nya lalu dengan malas ia turun dari sepeda nya berjalan ke tengah-tengah mereka semua.


"Ngapain lo?" tanya salah satu dari mereka melihat Arsan yang menatap nya dengan malas.


"Minggir sendiri atau gua yang harus turun tangan?" tanya Arsan tanpa basa-basi pada mereka semua.


"Kalau kita gak mau, mau apa lo. Lo pikir kita takut? kita ada delapan sedangkan lo cuma enam orang, lo pi-"


Ucap anak tersebut berhenti saat melihat sepeda nya sudah terpotong, matanya melotot menatap Arsan yang masih berdiri di depan sana.


"Minggir sendiri atau gue yang turun tangan?" tanya Arsan sekali lagi pada mereka.


"Gue bilang kita gak takut, lo ap-"


Tak.


Sepeda temannya yang satu lagi terpotong membuat yang lain mundur takut, mereka tidak ingin mengorbankan sepedanya.


Tanpa banyak bicara pun mereka menjalankan sepeda nya pergi dari sana "Woy lo pada ngapain ninggalin gue! sial*n!"


"Minggir atau gue yang turun tangan."


"Iya gue pergi, tapi nanti gue bakal balas semua ini, ingat itu." ucap nya sebelum pergi membawa bagian sepeda nya yang terpotong.


Mereka bingung bagaimana bisa Arsan bisa memotong seperti nya itu hanya dengan berdiri seperti itu.


"Sok-sokan banget sih, mentang-mentang kakak kelas." cibir Alfan melihat mereka pergi.


"Ayo," ajak Argan dulu menjalankan sepeda diikuti oleh yang lain.


Sesampainya di rumah, mereka memarkirkan sepeda nya di garasi lalu masuk ke rumah "Assalamualaikum" salam mereka memasuki rumah.


Mereka ber-enam menyalin keduanya "Tumben telat sedikit?" tanya Gara pada mereka.


"Ada sedikit masalah di jalan, tapi Mama sama Papa jangan khawatir semua nya sudah beres." jawab Argan berjalan hingga sampai di hadapan Alya.


"Kalian tidak apa-apa kan sayang?" tanya Alya khawatir, gara mengusap punggung sang istri menenangkan nya.


Ini lah yang tidak di sukai oleh lima 'A', mereka terus menghindari masalah saat ini karena tak ingin membuat Mama nya khawatir dan menjadi kepikiran, apalagi saat ini Mama sedang hamil adik mereka.


"Kami gak papa kok ma, lagian bukan masalah besar." kata Argan seraya memegang tangan kiri Alya.


"Yaudah, sekarang mendingan kalian naik ganti seragam dulu." ucap Gara melepaskan genggaman tangan Argan lalu merapatkan dirinya pada sang istri.


"Iya, kalian naik ganti baju dulu trus istirahat ya sayang, kalian gak ada jadwal di Gana kan?" mereka semua mengangguk patuh seraya tersenyum.


"Papa gak ke kantor? kami udah pulang." ucap Alfan.


"Gak ada, papa bisa kontrol dari rumah, jadi kalian istirahat aja di kamar Mama ada Papa yang jaga."


"Oh." setelah mengatakan itu Alfan naik menyusul saudaranya yang lain.


"Mas beneran gak punya kerjaan yang penting? mas gak tipu tipu kan?"


"Iya sayang, makan mas bohong sih sama kamu." kata Gara memeluk pinggang Alya lalu menyenderkan kepalanya pada bahu istri nya.


"Bang," panggil Arkan masuk ke kamar Arsan setelah mengganti seragamnya.


"Hm." jawab Arsan singkat.


"Ajarin Arkan buat laser di jam tangan kaya bang Arsan dong." pinta nya duduk di samping Arsan yang memainkan tab nya.


"Wah, Abang lagi buat rancangan senjata?" pekik Arkan melihat gambar gambar rancangan Arsan di tab nya.


"Ya."


"Mau dong bang!" seru Arkan berbinar, Arsan menghela nafas lalu menganggukkan mengiyakan permintaan Sanga adik kembarnya itu.


"Asik.... Arkan mau ikut saat pembuatan ya bang." pinta Arkan lagi.


"Iya."


"Ok, kalau gitu Arkan keluar dulu bye abang." pamit Arkan ceria setelah mendapat keinginan nya, ia melompat lompat keluar dari kamar Arsan.


Arsan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik, ia tersenyum tipis melihat keceriaan Arkan lalu kembali fokus pada tab nya.


Tbc.