
Happy reading
.
.
Setelah puas bermain hingga sore mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersih-bersih terlebih dahulu, setelah itu satu persatu mereka turun kembali di ruang tengah.
"Oma senang banget hari ini, lain kali kita kumpul kumpul gini lagi ya" ujar Diana.
"Iya Oma, kita juga senang banget, jarang jarang kita seperti ini" ujar Arkan bersemangat.
"Gimana? Arsan senang juga kan?" tanya Diana pada cucu nya yang memang sifatnya sedikit pendiam.
"Iya Oma Arsan juga senang banget" kata Arsan seraya tersenyum, senyum yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
Alya ikut tersenyum lalu mengelus kepala Arsan yang kebetulan berada di sampingnya, Arsan menatap Alya dan memeluk nya.
"Oleh iya, Mama sama Alya gak usah masak malam ini, Papa sudah pesan kan makanan yang banyak untuk kita semua " celetuk Fahmi.
"Wah makasih Opa" ujar Diana diikuti oleh cucu cucu nya.
"Iya sama-sama, kita tunggu makanan sampai ya" mereka duduk dan berbincang bincang ringan seraya menunggu makanan mereka datang
***
Siang hari Alya ingin ke taman untuk membawakan pesanan kue dan Argan dan Arsan yang akan ikut menemaninya.
"Ayo, kita berangkat sekarang" ajak Alya pada Argan dan Arsan. Alya pun menjalankan mobilnya saat Argan dan Arsan sudah duduk dengan baik.
Mereka sudah sampai di taman, Alya memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan membawa kue tersebut pada pelanggan nya "Bukan yang disana ma?" tanya Argan seraya menunjuk rombongan anak TK serta guru-gurunya.
"Assalamualaikum" salam Alya dan anak-anaknya.
"Waalaikumussalam" jawab mereka.
"Dengan ibu Yanti ya?" tanya Alya sesampainya mereka disana.
"Iya bu, ini pesanan nya ya?" tanya wanita yang memakai seragam tersebut.
"Iya ibu, ini semua pesanan nya" Alya menyerahkan paper bag pada ibu Yanti.
"Saya terima ya, terimakasih"
"Iya sama-sama, kalau begitu saya pamit ya Bu assalamualaikum" pamit Alya.
"Iya bu, waalaikumussalam"
Alya dan anak-anaknya pun pergi dari sana berjalan menuju parkiran, tapi entah di perjalanan Alya di serempet motor, mungkin jika ada orang yang memperhatikannya Alya seperti sengaja di serempet.
"Mama!" Argan dan Arsan terlambat menolong sang Mama sehingga Alya terluka.
"Sialan" desis Arsan pelan melihat lutut dan lengan Alya yang beredar, orang yang menabraknya sama sekali tidak berhenti dan menolongnya ia dengan cepat pergi dari sana setelah menyerempet Alya.
"Yaampu mbak" seorang wanita datang menghampiri mereka dan membuat Alya untuk ke kursi taman.
"Argan ambil kotak obat di mobil" pamit Argan terburu buru menuju mobil nya dan mengambil kotak obat.
"Sini tante yang obatin" ujar wanita yang membantu Alya tadi. Dengan talenta wanita tersebut membersihkan luka pada lutut dan lengan Alya.
"Gimana, sudah baikan?" tanya wanita itu setelah selesai mengobati luka Alya, Alya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum "Makasih ya mbak sudah membantu saya" kata nya.
"Mama beneran udah gak papa?" tanya Arsan.
"Kita ke rumah sakit ya ma" ujar Argan, Alya menggeleng pelan "Mama baik-baik aja kok, gak perlu ke rumah sakit."
"Kalau boleh tau nama mbak siapa ya?" tanya Alya, wanita itu menjulurkan tangannya "Nama saya Tiara mbak" kata wanita itu yang bernama Tiara.
"Iya sama-sama, oh iya Al ini saya ada air diminum dulu" Kata Tiara menyodorkan sebotol air mineral, Alya menerima dan mengucapkan terima kasih "Makasih mbak" ucap nya.
Alya membuka tutup botol tersebut, sedetik Alya membuka botol air itu Arsan mencium bau yang tidak mengenakkan, seperti bau racun! Reflek Arsan mengambil botol air itu dan melemparkannya jauh-jauh.
"Astaghfirullah" kaget Alya, mereka reflek berdiri.
"Kenapa Arsan membuangnya sayang" tanya Alya lembut pada sang anak.
"Ma udah gak papa" kata Argan menahan lengan Alya.
Arsan menatap tajam Tiara yang nampaknya juga kaget "Apa yang tante inginkan" tanya Arsan menahan emosi nya karena ia berada di hadapan sang Mama.
Argan mendekati air yang Arsan buat tadi dan mencium bau nya, ia pun mengerti dan menghampiri Mama nya kembali. Argan membawa Alya di belakang tubuhnya meskipun ia dan dan Alya sama tinggi saat ini.
"Apa tante inginkan sampai menerima minimum beracun pada Mama saya" tanya Arsan sekali lagi tapi ini lebih dingin lagi, aura nya keluar membuat Tiara merinding.
"A..apa maksud mu" tanah nya sok tidak tau.
"Jawab saja pertanyaan saya atau saya akan membuat tante tidak akan melihat hari esok" desis Arsan pelan, sangat pelan yang hanya Tiara saya yang mendengarnya.
"S..saya benar-benar tidak tau" bantah Tiara , tubuh sudah bergetar.
Arsan tersenyum devil "Sepertinya tante lebih suka dengan permainan ku" ujarnya nya.
"Abang sama Mama pulang aja dulu, Arsan akan menyusul" Arsan berbalik dan menghampiri Alya dan Argan yang sedikit jauh di belakangnya.
"Kamu pulang naik apa sayang?" tanya Alya khawatir, Arsan tersenyum lalu mencium punggung tangan Alya "Mama gak udah khawatir, Arsan gampang kok pulang nya" kata nya memberikan senyum manisnya tidak seperti tadi waktu menatap Tiara.
"Yaudah Mama duluan ya sayang" Argan menepuk pundak adiknya sebelum ikut menyusul Alya.
Menyadari hal itu Tiara mencari kesempatan untuk melarikan diri, tapi naas ia kah cepat dengan Arsan yang langsung ada di hadapannya membuat nya menelan ludah dengan susah payah.
"Mau apa kamu" ujar nya berusaha tenang walau rasanya ia ingin lari dari sana.
"Bukannya tante ingin bermain-main?" tanya Arsan.
Tiara menggelengkan kepalanya. Anak ini, kenapa tidak bertingkah layaknya anak pada umumnya kenapa aura bisa se seram ini.
Tiara hendak pergi tapi di tahan kembali oleh Arsan "Tante mau pergi kemana hem?" tanya nya.
Tiara mengacuhkan Arsan dan berlari menjauhi Arsan, Arsan sendiri hanya santai berdiri menatap Tiara yang berlari menjauhi nya. Tapi di Tiara berhenti karena di tahan oleh sebuah mobil, pintu mobil tersebut terbuka dan keluarlah orang berbadan kekar serba hitam dan menyekap Tiara lalu membawa nya masuk ke dalam mobilnya.
Arsan masih santai berdiri di tempatnya semula hingga sebuah mobil terhenti di sampingnya. Tanpa ba bi bu Arsan masuk kedalam mobil itu dan pergi entah kemana.
"Bagaimana?" tanya Argan saat Arsan sudah pulang "Dia tidak bicara sama sekali, tapi tenang aku yakin secepatnya dia akan mengatakannya. Kita lihat sekuat apa dia sampai bertahan dengan rasa sakit nya" jelas Arsan.
"Ya, semoga semua cepat selesai. Kita tidak boleh membiarkan Mama keluar sendirian, aku sudah bicara sama Papa untuk menambah bodyguard di rumah maupun di toko kita tikan akan membuka celah sedikitpun pada nya untuk menyakiti Mama" ujar Argan, Arsan mengangguk setuju.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu" pamit Arsan.
"Hm"
"Dari mana aja bang?" tanya Arkan pada Arsan yang kebetulan berpapasan di tangga.
"Nanti aku cerita" jawab Arsan dan melanjutkan langkahnya naik. Arsan menaikkan alisnya sebelah lalu mengangkat bahunya dan turun ke dapur mengambil cemilan untuk nya dan yang lain makan di kamar Alya dan Gara. Mereka semua berada di kamar Alya menemaninya istirahat setelah heboh karena melihat sang Mama pulang dengan luka-luka.
Tbc.
Please like dan komen...
See u next part 🤗
^^^Mawar Jk^^^