
Happy reading
.
.
.
Alya duduk menatap keenam putra nya yang bermain bersama bayi gembul itu. Tiba tiba terdengar terikat dari luar "Assalamualaikum tante Alya"
"Pasti itu Dafa dan Andra" tebak Rangga, Alfan dan Arkan mengangguk setuju
"Sana buka pintu" perintah Alya
"Iya ma" Arkan berdiri dan berjalan keluar
"Hai" ucap Dafa menyapa Arkan seraya memamerkan gigi putih nya
"Ayo masuk" ajak Arkan meninggalkan kedua nya
"Yosh" seru Andra
"Assalamualaikum tante" Andra dan Dafa menyalami Alya "Waalaikumsalam, sini duduk"
"Iya tante"
Dafa mendekati bayi gembul itu saat hendak menyentuh nya Alfan menepis tangan nya "Cuci tangan dulu baru bisa sentuh adik aku" ujarnya
Dafa mengendus sebal "Iya iya" ucap nya, sedangkan Andra anteng duduk seraya menyaksikan semuanya. Ia hanya fokus pada cemilan nya
"Mama titip adik kalian dulu, mama mau ke belakang dulu" kata Alya pada mereka
"Iya ma" jawab Afkan mewakili mereka
Dafa yang memang sudah mencuci tangan nya pun dengan leluasa memegang bayi gembul itu. Dari mencubit pipi nya hingga memukul kecil pantat montok bayi gembul itu
Yang lain merasa gemas pun ikut juga kecuali Argan, Afkan dan Arsan yang hanya melihat dan mengawasi mereka "Jangan sampai dia menangis" ujar Argan yang masih menatap mereka
"Enggak bang, nih anak lagi anteng-antengnya" jawab Alfan lalu menoleh pipi tembem bayi itu
Tak tahan dengan perilaku sang kakak bayi gembul itu pun menagis karena terus di ganggu "Uaaaa oek oek"
Nah kan
Argan menatap mereka tajam membuat mereka menyengir kuda, dengan segera Afkan mengendong bayi itu dan menepuk pelan paha nya mencoba menenangkan nya
Tapi tangisnya malah semakin keras "Yaampu apa yang terjadi" Alya datang terburu-buru mendengar tangisnya
"Sini mama yang gendong" Afkan memberikan pada sang Mama
"Kalian main aja, mama bawa ke atas dulu" pamit Alya
"Iya ma, dan maaf" sesal Arkan
"Iya gak papa kok sayang" Alya naik ke lantai dua memenangkan bayi itu hingga bayi itu tertidur
"Kayaknya si gembul tidur" ujar Rangga memecah keheningan
"Ini semua gara-gara lo" ujar Alfan menunjuk Dafa
"Loh kok gue sih. Gak Lo pada juga ikut" bantah Dafa
"Kan Lo yang duluan yang mulai" seru Alfan
"Tapi kan l-"
"Udah" suara Arsan membuat mereka diam
"Diam dan jangan ribut, jangan buat mama kualahan menenangkannya kembali karena suara kalian" ujar Arsan tajam
"Iya bang maaf"
"Maaf"
"Sudahlah, ayo kita main basket aja gimana?" saran Rangga
"Boleh tuh" seru Andra
"Gas lah"
Mereka pun membuat dua kelompok beranggotakan empat orang karena mereka genap delapan. Tim 1 ada Argan, Afkan, Arkan dan Daffa. Tim 2 ada Arsan, Alfan, Rangga dan Andra
2
3!
Permainan dimulai. Mereka pun bermain dengan seru, saling ingin merebut bola dengan sedikit taktik yang mereka miliki hingga skor sama-sama 11 poin mereka pun berhenti bermain dan beristirahat di pinggir lapangan
Lapangan basket itu berada di halaman belakang, halaman belakang rumah nya memang sang luas dan Gara merubahnya menjadi lapang basket dan bisa juga di gunakan sebagai lapangan futsal
"Masuk ambil minum gih Al" perintah Dafa pada Alfan
"Enak aja lu, gue juga capek kali" sahut Alfan mengipasi dirinya dengan tangan nya yang bersandar di pembatas
Mereka kembali diam mengatur nafas mereka. Lalu tak lama mereka mendengar suara langkah kaki, mereka kompak menengok dan melihat Alya berjalan menghampiri mereka dengan membawa nampan
Dengan segera mereka berdiri menghampiri Alya dan Afkan langsung mengambil alih nampan tersebut "Mama gak usah repot-repot membawakan kami minum, kami bisa ambil sendiri kok" ucap Arkan
"Gak papa kok sayang, kalian pasti capek abis main kan. Diminum ya mama masuk dulu kasian adek kalian sendirian di kamar"
"Iya ma"
"Iya tante, makasih"
"Sama-sama" Alya tersenyum lalu berjalan masuk kedalam meninggalkan ke-delapan anak itu
"Nih, ambil satu satu" ujar Afkan menyodorkan nampan yang ia pegang. Mereka mengambil minuman itu satu persatu, Afkan menyimpan nampan itu di lantai lalu mengambil minuman untuk nya juga
Glek
"Ah segar nya"
"Enak banget, abis keringatan kayak gini minum yang segar-segar"
Yang lain diam menikmati minuman nya dengan menatap lurus ke depan, entah apa yang dipikirkan
***
"Kita pamit ya tante udah di jemput" pamita Andra menyalami tangan Alya
"Iya hati-hati ya di jalan" pesan Alya
"Iya tante" Andra beralih pada bayi gembul yang ada di dalam gendongan Alya "Pamit ya dedek gemes, nanti kita main ok" ucap nya mencium gemas pipi bulat bayi itu
Setelah Andra Dafa maju berpamitan "Dafa juga pamit ya tante"
"Iya, kamu juga hati-hati ya" pesan Alya
"Siap" Dafa bergaya hormat, lalu ia menatap bayi di gendongan Alya "Kapan-kapan kita main lagi ya gemes, kakak pulang dulu bye-bye. Duluan bro" Dafa juga pamit pada lima 'A' dan Rangga
"Yoi"
Keduanya memasuki mobil masing-masing, mobil itu pun melaju keluar dari pengarang rumah. "Masuk mandi sana, setelah itu jagain adek ya. Mama mau siapin makan malam" ucap Alya pada sang putra
"Iya ma"
"Dadah gembul" ucap Rangga pada bayi gembul itu lalu masuk di menyusul yang lain. Alya pun ikut masuk, menutup pintu lalu duduk di ruang tengah menunggu putra-putra nya
Satu persatu mereka turun menghapiri Alya "Ma" Arsan duduk di samping Alya lalu memeluknya
"Kenapa sayang, hem?" tanya Alya mengelus kepala Arsan dengan tangan kiri nya yang berada di bahunya, Arsan hanya menggelengkan kepalanya dan terus bertahan dengan posisi nya yang menurut nya sangat nyaman
"Kenapa ma?" Arkan datang bersama Argan "Gak papa kok" keduanya pun ikut duduk di samping Alya dan memeluk nya "Kangen deh peluk peluk mama gini" gumam Arkan menenggelamkan wajahnya di paha Alya yang kebetulan duduk di depan sofa mereka duduki, Argan pun ikut menenggelamkan wajahnya di bahu kanan sang Mama berhadapan dengan si bayi gembul itu
Alya tersenyum mengelus kepala putra nya bergantian "Yaudah sebentar malam kita tidur bareng-bareng lagi gimana?" tanya Alya, mereka mengangkat kepala mereka lalu mengangguk semangat
'Mmah ma ma eghh'
Mereka menoleh melihat si bayi gembul itu berceloteh seakan akan berbicara bersama Argan, Argan tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala adiknya "Kayak nya dia marah di cuekin deh" ujar Arkan lalu tertawa "Ciah si embul bisa marah juga yak" lanjut nya mencubit pelan pipi tembem itu
Bayi gembul itu pun menepis tangan Arkan lalu melotot kan matanya seakan tau kalau Arkan tadi mengatainya. Lantas mereka saling lirik dan tertawa "Bwah hhhh gak takut, itu bukan nyeremin jatuhnya mbul" ujar Arkan
"Bayi gembul nya mama kenapa hem, kakak Arkan nakal ya?" tanya Alya, entah bayi itu mengerti apa tidak tapi yang pasti bayi itu mengangguk lalu memeluk Alya, anaknya Aira dan Raka itu seakan merajuk
Alya tersenyum lalu mengelus punggung nya "Manja banget deh" ejek Arkan
Tbc.
...Like dan komen ya guys, buat penyemangat author 😊 see u next part.......
^^^Mawar Jk^^^