
Happy reading
“Ma, Mama ada apa dengan Alya ma?” tanya Alya pada Diana, Diana memalingkan wajah nya untuk menyembunyukan air mata nya.
“Apa aku benar hamil?” tanya Alya. Tiba-tiba Alya tersenyum senang lalu memegang tangan Gara.
“Mas akhirnya aku hamil lagi!” seru Alya kegirangan, Gara mengulas senyum paksa nya pada Alya.
“Kok kamu gak senang gitu sih mas aku hamil lagi, kamu kan udah lama banget pengen punya anak lagi” ujar Alya, lalu ia melihat semua orang yang ada disana.
“Kalian gak senang juga ya?” tanya Alya sedih pada mereka semua, teringat sesuatu Alya menarik lengan Gara “Mas kata dokter apa? anak kita baik-baik saja kan? Mbak Manda dan wanita itu jahat mas, mereka ingin membunuh anak kita” adu Alya, Gara membawa sang istri ke dalam dekapan nya agar Alya tidak melihat dia menagis.
Raka membawa anak-anak keliar dari sana, mereka sempat menolak karena tetap ingin berada di sisi Mama nya. Tapi Raka memaksa mereka untuk tetap keluar, keeanam nya pun pasrah ikut keluar dari sana, Raka mendorong kursi roda Alfan keluar diikuti oleh yang lain.
“Mas anak kita baik-baik saja kan?” tanya Alya lagi setelah melepaskan pelukannya.
“Kamu kenapa nangis mas?” tanya Alya lagi melihat Gara menghapus jejak air matanya.
“Mas enggak apa-apa kok” jawab Gara mencoba untuk tersenyum.
“Jadi, apa kata dokter mas anak kita baik-baik saja kan?” tanya Alya kembali.
Diana sudah terisak di dalam pelukan Fahmi, Alya tambah bingun di buat nya “Mas” panggil Alya.
“Anak kita udah enggak ada” jawab Gara lalu menundukka kepalanya.
“Enggak, enggak mungkin. Kamu pasti bercanda kan mas? Kalian pasti bercanda kalian mau prank aku lagi kan?” tanya Alya, ia tidak percaya dengan hal itu.
Aira langsung berlari memeluk Kakak nya dan berbisik “Ikhlas ya kak mungkin yang maha kuasa lebih menyayangi nya” Alya langsung menagis histeris mendengar bisikan Aira.
“Enggak! Enggak mungkin hiks hiks enggak mungkin.... anak aku gak mungkin pergi, dia hiks hiks gak akan meningglkan Mama nya hiks enggak mungkin” Alya meraung raung di pelukan Aira, Aira mengeratkan pelukannya yang juga sudah terisak menahan rasa sesak di dalam dada nya.
Gara berdiri dari duduk nya pergi ke dinding da meninju dinding itu melampiaskan emosinya, tangan nya menjadi memar karena nya. Ia mengusap rambut nya dengan kasar lalu kembali mendekati Alya.
“Mas” panggil Alya. Aira melepaskan pelukannya dan mundur membiarkan Gara mendekat, Gara membawa Alya ke dalam pelukannya membiarkan istri nya menangis ia hanya mengelus punggung sang istri.
“Menangislah, tapi setelah ini aku tidak akan membiarkan mu menagis lagi, hanya ada kebahagian” bisik Gara.
“Om Alfan mau masuk Om” ujar Alfan pada Raka yang menahan mereka untuk masuk.
“Tidak! Kalian tetap di situ” ucap Raka tegas tidak ingin dibantah, tapi bukan Alfan nama nya jika tidak membantah.
“Enggak mau, Alfan mau masuk Om, Om gak dengar Mama teriak-teriak di dalam Mama pasti butuh kita Om” ujar Alfan yang tidak mau di kalah.
“Iya Om, kita mau masuk” timpal Arkan.
“Biarkan Mama kalian tenang terlebih dahulu, setelah itu Om janji akan mengizinkan kalian mausuk” ujar Raka.
Alfan dan Arkan menghela nafas dengan kasar, yang lain hanya diam duduk. Arsan memejamkan mata nya mendengar pekikan Alya yang menangis di dalam sana kedua tangannya terkepal kuat.
“Mama” lirih Alfan menatap pintu ruang inap nya dengan sedu.
Beberapa menit kemudian Raka sudah mengizinkan mereka untuk masuk setelah menerima pesan dari Aira. Raka memdorong masuk kurusi roda Alfan, sedangkan yang lain sudah masuk terlebih dahulu “Mama!” seru mereka.
“Syutt, Mama kalian baru saja tertidur” ucap Aira memperigati mereka untuk tidak berisik.
“come on boy” ujar Gara setelah megecup kening istri nya.
“Jaga Mama dan tetaplah disini” bisik Afkan pada Alfan, Alfan merespon dengan menganggukkan kepala nya.
“Kaliam mau kemana?” tanya Diana melihat mereka yang ingin pergi.
“Gara sama anak-anak ada urusan sebentar ma, titip istri Gara ya ma, pa” Gara menyalimi Diana dan Fahmi bergantian, begitu pun dengan Argan, Afkan, Arsan dan Arkan.
“Bu, Aira juga mau pamit dulu, kasian baby Al pasti udah nyariin aku. Sekalian nanti aku bawa keperluan kak Alya” ujar Aira.
“Oh iya, kamu nitipin baby Al sama siapa?” tanya Diana.
“Sama teman aku bu, Aira sama Raka pamit dulu” Aira menyalimi Diana dan Fahmi secara bergantian di susul dengan Raka.
“Iya, hati-hati di jalan” ucap Fahmi.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”
“Alfan sekarang istirahat juga ya nak” kata Diana, Alfan menggelengkan kepala nya menolak “Alfan mau di dekat Mama” ujar Alfan.
“Iya, nanti Oma geserin brankar nya biar Alfan bisa deketan sama Mama” Rangga berdiri membantu Diana menggeser brankar Alfan agar lebih dekat lagi dengan Alya, sedangkan Fahmi ia menggendong Alfan lalu di simpannya di atas brankar.
“Nah sekarang udah dekat kan, sekarang Alfan bisa istirahat” ujar Diana, Alfan menganggukan kepala nya ia berbaring menyampin menghadap pada Alya. Ia menatap Mama nya begitu dalam, air mata Alfan terjatuh dengan segera ia menghapus nya.
“Selamat tidur Mama” gumam Alfan sebelum ia ikut tertidur meraih mimpi nya.
“Rangga juga tidur aja, biar Oma dan Opa yang jagain” kat Diana pada Rangga.
“Enggak deh Oma, Rangga enggak ngantuk juga” tolak Rangga.
“Yaudah“
Disisi lain Gara dan yang lain baru sampai di sebuah rumah yang tadi pagi mereka datangi, kelima nya masuk dan duduk di sofa yang ada di sana. Seorang pria datang menghampiri mereka “’Bagaimana?” tanya Gara pada nya.
“Kami hanya mendapatkan totok lokasi terakhir nya di bandara xx tuan” jawab nya.
“Sepertinya mereka sangat takut di tangkap sampai-sampai pergi di tempat yang terpencil itu” ujar Arkan tersenyum miring.
“Kita harus menangkap mereka secepatnya” ucap Afkan.
“Apakah dengan begitu kamu bisa mendeteksi keberadaan mereka?” tanya Argan pada Arsan.
“Tentu saja, kalung itu sangat istimewa” ujar Arsan menyeringai.
Gara hanya diam membiaran anak-anaknya melakukan apa yang mereka inginkan, dia hanya harus sedikit mengunggu hingga Arsan mendapatka lokasi Dila dan Manda. Dan pada saat itu baru ia aa bertindak.
“Tidak akan ku biarkan kau selamat kali ini, kalian akan mendapatkan penderitaan yang semenderita mungkin. Nyawa di balas dengan nyawa, aku akan memberikan sedikit kejutan pada kalian berdua tunggu saja”batin Arsan.
Tbc.