My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 92



Happy reading


Gara, lima 'A' dan Rangga kini duduk di sebuah ruangan tertutup yang ada disana, mereka melihat Arsan yang berkutat dengan komputer yang akan mendeteksi keberadaan Alya menggunakan GPS yang yang Arsan buat di kalung Alya "Kenapa lama sekali bang?" tanah Alfan tak sabaran, ia sangat khawatir dengan keadaan Alya sekarang ia tidak tahu apa yang di lakukan penculik itu pada Mama nya .


"Dapat" kata Arsan, mereka semua mendekat untuk melihat lokasi nya, tapi tiba-tiba lokasinya menjadi hilang dan eror.


"Arsan itu kenapa?" tanya Rangga panik sebab layar komputer nya terlihat eror.


"Sepertinya mereka menyadari nya lalu merusak kalung Mama" jelas Argan, Arsan kembali berkutat dengan rahang yang mengeras. Ia benar-benar ingin sekali membunuh mereka yang berani menyentuh Mama nya.


"Terus kita harus bagaimana?" tanya Rangga lagi, ia benar-benar panik bagaimana cara nya mereka menemukan Mama nya jika alat pelacak nya di rusak.


"Dapat" seru Arsan lagi setelah mendapatkan kembali lokasi, Arsan sangat pandai dalam membuat kalung itu ia mendesain nya dengan sangat baik sehingga jika di di rusak bagaimana pun ia tetap bisa melacak keberadaan Mama nya, Arsan memang mewanti-wanti hal hal ini sehingga ia membuat nya tapi ia sama sekali tidak berharap kalau itu terjadi, ia tidak ingin Mama terluka meskipun itu hanya seperti di gigit semut pun ia tidak suka.


"Hutan?" tanya Arkan melihat titik lokasi Alya yang terpencil.


"Tempatnya lumayan jauh dan terlihat sangat terpencil, kita langsung ke sana atau membuat rencana terlebih dahulu?" tanya Rangga.


"Kita langsung kesan saja" kata Argan.


"Ya, Papa setuju kita langsung kesan saja" timpal Gara.


"Benar, ayo kita segera kesana, kita tidak tahu mereka melakukan apa pada Mama" kata Afkan mengajak mereka.


"Ayo!" mereka semua pun pergi keluar menaiki mobil Gara dan melesat dengan cepat menuju titik lokasi Alya sekarang.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di titik lokasi Alya "Ayo masuk, titik lokasi nya benar-benar disini" ujar Arsan, mereka semua masuk dengan hati-hati takut ada jebakan ataupun yang lainnya.


"Seperti nya aman" ucap Arkan melihat sekeliling, mereka tidak melihat satu orang pun penjaga di sana.


"Kenapa tidak ada satu pun penjaga disini, apa mereka membuat sebuah jebakan?" tanya Rangga, mereka semua dengan pelan masuk mengendap-endap hingga tidak menemukan satu penjaga atau pun jebakan.


"Sepertinya mereka sudah pergi, apa mereka membawa Mama pergi juga?" tanya Alfan melihat sekeliling yang terasa sepi nan sunyi.


"Periksa dan berpencar lah" titah Gara, mereka pun dengan patuh berpencar mencari Alya di seluruh ruangan yang ada di sana.


"Ma, Mama!" panggil mereka.


"Sayang kamu dimana, sayang!" panggil Gara.


"Ma, Mama di mana ma" panggil Alfan, ia membuka pintu ruangan yang ada di satu satu persatu mencari keberadaan Alya hingga Alfan membuka ruangan terakhir yang belum ia periksa nya, tanpa banyak basa-basi Alfan membuka pintu tersebut dan deg.


"Mama bangun ma, Mama" Alfan terus memanggil Alya berharap Alya sadar, ia benar-benar takut melihat kondisi Mama nya.


Mendengar teriakkan histeris Alfan yang lain mencari keberadaan nya hingga mereka semua membeku di tempat melihat di keadaan Alya yang  sangat memprihatikan "SAYANG/MAMA" teriak mereka menghampiri Alya dan Alfan.


Alfan, Arkan dan Rangga sudah menagis melihat keadaan Alya yang sangat jauh dari kata baik "Mama bangun ma hiks hiks ma bangun" kata Alfan memeluk kepala Alya seraya terisak.


"Sayang bangun sayang" kini Gara yang mencoba membangun kan istri nya, ia menggenggam tangan Alya yang juga di penuhi dengan darah tangan nya bergetar hebat melihat keadaan Alya.


"Ma, Mama" panggil Argan lirih memegang tangan Alya yang satunya lagi. Arsan mengepalkan tangannya, urat-urat tangan pun terlihat saat ia mengepalkan tangannya tak lama kemudian warna bola matanya berubah menjadi merah lalu berwarna hitam pekat dan kembali berwarna coklat "Pembalasan" terdengar bisikan kecil di telinga Arsan lalu bola matanya berubah menjadi hitam pekat.


Afkan meneliti kondisi Alya hingga matang terpaku melihat darah yang mengalir dari kaki Alya. Deg, jangan-jangan? Afkan menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran negatif nya "Pa, tunggu apa lagi ayo cepat bawa Mama ke rumah sakit" ujar Afkan membuat Gara tersadar.


"Ayo sayang kita ke rumah sakit" ucap Gara menghapus air matanya yang sudah berjatuhan, dengan pelan ia menggendong Alya keluar menuju mobil nya. Membaringkan Alya di kursi tengah dengan Argan yang memangku kepada Alya dan kaki nya di pangkuan Afkan.


Gara mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga mereka sampai di ruang sakit terdekat.


"Dokter tolong istri saya" teriak Gara berlari di lorong rumah sakit seraya menggendong Alya dengan lima 'A' dan Rangga yang berada di belakangnya


"DOKTER! SUSTER! DIMANA KALIAN!" teriak Arkan emosi karena tidak ada satupun yang menghampiri mereka.


"Kenapa kalian lama sekali sialan" umpat Arsan, masa bodoh dengan kesopanan yang terpenting sekarang adalah keadaan Mama nya.


Setelah teriakan Arkan barulah ada suster yang berlari menghampiri mereka dengan mendorong sebuah brankar disusul oleh seorang laki-laki yang memakai jas kedokteran.


Gara membaringkan tubuhnya Alya di atas brankar itu dan langsung di dorong untuk di bawa ke ruang IGD untuk penanganan pertama "Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya dokter" ujar Gara sebelum pintu IGD tertutup. sang dokter menepuk pundak Gara "Pasti pak, itu sudah menjadi kewajiban kami" ucap sang dokter lalu menutup pintu IGD.


Di dalam sana suster dan dokter membersihkan darah Alya lalu mulai memeriksa keadaan nya.


Mereka sama-sama terdiam menunggu Alya selesai di tanganni oleh dokter, mereka semua diam dengan tatapan kosong seolah-olah tidak mempunyai raga lagi. Tapi tidak dengan Arsan sendari tadi warna bola matanya berubah-ubah tanpa di sadari oleh siapa pun yang ada di sana.


"Mama" gumam Arsan, warna mata nya berubah menjadi coklat tapi sesaat kemudian matanya kembali berwarna hitam pekat lalu berwarna merah "Pembalasan" bisikan itu terdengar kembali di telinga Arsan, ia mengepalkan tangannya dengan kuat "Pembalasan" gumam nya mengikuti bisikan kecil di telinga nya lalu tersenyum devil.


"Yaallah tolong selamatkan Mama Alya" doa Rangga dalam hati, ia baru merasakan kasih sayang seorang ibu dari Alya, jangan sampai Mama nya meninggalkan nya lagi. Aku yakin Mama orang kuat, Mama pasti bertahan demi kami.


"Sayang, ku mohon bertahanlah, demi aku dan anak-anak kita sayang" batin Gara.


"Yaallah tolong selamatkan istri hamba yaallah"


Tbc.