My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 94



Happy reading


Di rumah Aira yang baru saja dikabarkan oleh Gara panik mendengar kabar Alya sang kakak. Aira bersama dengan Raka langsung segera ke rumah sakit, sedangkan baby Al di titipkan pada teman kantor Aira.


"Sayang hiks cepetan dong" kata Aira sesegukan di jok sampai.


"Iya sayang, udah dong nangis nya" ucap Raka melirik istri nya sekilas lalu kembali fokus pada mobil, dengan kecepatan tinggi mereka pun sampai di rumah sakit yang sudah di kirimkan lokasinya oleh Gara tadi.


Aira buru-buru turun dari mobil lalu berlari masuk ke rumah sakit itu, Raka pun dengan cepat turun dari mobil lalu mengejar sang istri yang sudah lari terlebih dahulu.


Raka menarik tangan Aira yang masih menangis sesenggukan "Suster pasien yang bernama Alya Putri Abil ada di ruangan mana?" tanya Raka.


"Pasien masih berada di ruangan IGD pak, sebentar lagi akan di pindahkan di ruang inap nya" jelas suster itu.


"Terimakasih suster" Raka dan Aira pergi mencari IGD hingga mata Aira terpaku pada anak-anak yang duduk di bangku.


"Itu Argan" gumam Aira lalu berlari kesana di ikuti oleh Raka.


"Argan!" panggil Aira. Argan menoleh pada Aira yang memanggil nya "Tante Aira" gumamnya berdiri dari duduknya.


"Mama kamu mana?" tanya Aira memegang tangan Argan.


"Di dalam tante, kami tidak di izinkan untuk masuk bersama jadi kami menunggu di luar" jawab Argan, Aira mengangguk mengerti lalu memeluk Arkan dan kembali menagis.


"Tante tau Regan juga butuh pelukan" bisik Aira, karena ia tahu pasti dengan keponakan nya yang satu ini, Argan lebih mendahulukan adik-adiknya dibandingkan dirinya dalam hal apapun. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri ia selalu mengutamakan adik-adiknya.


Argan membalas pelukan tante nya yang sama hangat nya dengan pelukan Mama nya. Raka menghapiri Afkan lalu merangkul pundak anak laki-laki itu.


Afkan mendongak menatap Raka, Raka mengelus kepala Afkan lalu kembali merangkul pundak nya "Apa kalian sudah menghubungi Oma dan Opa kalian?" tanya Raka.


"Sudah" jawab Afkan singkat, Raka mengangguk mengerti lalu mereka pun kembali diam satu sama lain.


Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di telinga mereka "Alya dimana?" tanya perempuan paruh baya itu bersama pria paruh baya yang ternyata adalah Diana dengan Fahmi yang ada di belakang nya.


"Di dalam tante, kami bergiliran untuk masuk" jawab Aira.


"Yaallah" ucap Diana menatap pintu ruang IDG dengan seduh.


Diana menghampiri Afkan yang diam dengan tatapan kosong "Sayang" ucap Diana pelan memeluk erat cucu nya, Raka pindah membiarkan keduanya berpelukan.


"Oma" panggil Afkan lirih di telinga Diana, Diana melepaskan pelukannya lalu mengelus kening cucu dan mengecup nya disana.


"Iya sayang, ini Oma" Diana kembali membawa Afkan ke dalam dekapan nya.


Fahmi mendekati Argan yang masih disisi Aira, Aira yang paham pun melepaskan rangkulan Argan lalu menuju ke suami nya yang menemani Rangga, Aira mengusap sejenak kepala Rangga.


Fahmi membawa Argan ke dalam dekapan nya "Argan anak yang sangat kuat" ucap Fahmi memeluk cucu sulung nya. Argan membalas pelukan Opa nya seraya memejamkan matanya.


Cklekk


"Iya bagaimana keadaan Alya" tanya Diana.


"Kondisi nya sudah stabil, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang inap, kalian bisa melihat nya nanti di sana" jelas Gara, yang lain mengangguk mengerti.


"Alfan di mana?" tanya Diana yang tidak melihat Alfan, ia kira tadi ikut di dalam jadi ia tidak mencari nya, tapi Alfan pun tidak kelihatan juga.


"Alfan pingsan ma, dia syok banget dan mungkin juga karena kelelahan" jawab Gara membuat Diana, Fahmi, Aira serta Raka melotot kan matanya terkejut.


"Terus, dia dimana sekarang?!" tanya Diana.


"Di ruangan sebelah" Gara menunjuk ruangan yang ada di sebelah ruang IGD.


"Nanti akan dipindahkan juga satu ruangan dengan Alya" lanjut Gara.


Keempat segera ke tempat yang Gara tunjuk, kaki Aira tersa lemah untuk berjalan maupun berdiri melihat Alfan yang berbaring lemah di atas brankar, dengan sigap Raka menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh di lantai.


"Yaallah nak" kata Diana menghampiri brankar, air matanya kembali keluar berjatuhan menatap seduh Alfan. Ia memeluk cucu nya dengan sesegukan.


Fahmi menghapus air mata nya yang jatuh, ia mengelus tangan Alfan yang terasa sedikit dingin ia menyalurkan kehangatan disana agar cucu nya menjadi hangat.


"Alfan mas" kata Aira menagis di pelukan Raka, Raka mengelus punggung Aira menenangkan nya "Iya sayang, udah ya nangis nya, nanti kamu ikut drop juga" kata Raka.


"Permisi pak ibu, kami akan memindahkan pasien di ruang inap nya" ucap suster masuk ke sana.


Fahmi menghampiri sang istri lalu menjauhkan nya pada brankar agar suster lebih mudah membawa Alfan pergi, mereka berempat hanya mengikuti nya dari belakang.


"Kak Alya!" panggil Aira keras saat melihat Alya yang terbaring di brankar yang di bawa oleh beberapa perawat, Aira berlari mendekati brankar itu.


"Kakak" Aira kembali menagis tersedu-sedu setelah lebih baik lagi tadi, ia memegang tangan Alya mengikuti nya di bawa ke ruang inap.


Disisi lain Manda dan Dila pergi ke luar kota terpencil yang jauh dari Jakarta agar tidak dapat di temukan oleh m anak buah Gara.


"Kita akan tinggal disini untuk sementara, untuk sementara disini kita bersembunyi dari anak buah Gara" ucap Dila pada Manda.


Mereka berdua masuk ke rumah yang terlihat sederhana itu dengan koper yang di bawa masing-masing.


Manda duduk di ruang tamu, ia menatap lurus kedepan seraya mengusap perut buncitnya, sebentar lagi ia akan melahirkan. Tapi pikiran nya terus tertuju pada Alya saat ini.


Apakah benar-benar Alya hamil? Jika benar makan Alya pasti sudah keguguran, Manda mencengkeram kursinya dengan erat menggunakan tangan kanan nya. Tangan kirinya nya masih mengelus perut buncitnya itu pun mengepal.


Entah mengapa, tapi ia mempunyai perasaan yang tidak enak. Manda yang sedang gelisah tapi Dila tampak malah santai santai saja, ia membaringkan tubuhnya di kasur lalu tertidur dengan nyenyak seakan akan kejadian tadi tidak pernah terjadi, ia begitu tenang tidak seperti Manda yang gelisah di luar sana.


"Semoga enggak ada yang akan terjadi ke depannya" batin Manda yang masih mengelus perut buncitnya, ia tersenyum tipis melihat perutnya ia sudah sangat tidak sabar menanti kelahiran anaknya. Ah ia lupa untuk memeriksa jenis kelamin anak nya sampai sekarang karena sibuk dengan rencananya itu.


Tapi tidak apa, sebentar lagi anaknya akan lahir di dunia "Mama menunggu mu sayang" gumam Manda mengulas senyum tipis nya.


Tbc.