My Baby Boy 'A'

My Baby Boy 'A'
Chapter 99



Happy reading


Setelah dengan kegiatan mereka. Gara dan empat 'A' segera ke rumah sakit, tak lupa mereka juga membawa makanan untuk Alya dan yang lain.


Cklekk


"Assalamualaikum" salam mereka masuk.


"Waalaikumussalam" jawab mereka semua yang ada di dalam.


Rangga berdiri dari duduknya mendekati Gara yang menenteng paper bag "Makan dengan Alfan sana" ucap Arkan pada Rangga.


Gara mendekati brankar Alya, ia mengecup kening nya sedikit lama lalu beralih mengelus rambut Alya "Kalian dari mana aja?" tanya Alya.


Yang lainnya pun ikut mencium Alya dari kening hingga pipi, setelah itu mereka pergi duduk di Sofa.


"Enggak ke mana-mana kok sayang, oh iya katanya kamu belum makan" ucap Gara duduk di kursi samping brankar Alya.


"Belum laper aja mas" ujar Alya.


"Kamu kan belum makan apa-apa sayang, makan dikit ya" kata Gara membujuk Alya, tapi Alya menggeleng menolaknya.


"Makan ya ma, Argan yang siapin" Gara memberikan mangkuk makan Alya pada Argan, ia berdiri dan duduk di Sofa bergabung dengan putranya.


"Enggak sayang, Mama belum laper kok" tolak Alya lagi, tapi Argan tidak menyerah untuk terus membujuk Alya.


"Pokoknya Mama harus makan! Argan yang suapin, demi Argan ma" kata Argan memohon. Alya tidak tega melihat nya, ia pun mengangguk membuat Argan dan yang lain tersenyum.


Alya menerima suapan Argan dengan pelan hingga makanan nya sisa sedikit "Mama udah kenyang sayang" ucap Alya, Argan menyimpan mangkuk itu lalu mengambil air dan memberikan nya pada Alya.


"Alhamdulillah" ucap Alya bersyukur.


"Mas hubungin Raka suruh mereka jangan kesini ya, udah malam juga kasian baby nya" kata Alya pada Gara.


"Iya sayang" balas Gara.


"Kalian nanti juga pulang aja, Mama gak pa-"


"Enggak!" ucapan Alya terpotong oleh kelimanya, mereka tidak ingin meninggalkan Alya sendirian disini, ya meskipun masih ada Alfan dan suster tapi tetap saja mereka juga harus stay di sana.


"Kalian juga pasti kecapean, lagian disini gak ada kasur kan gak mungkin kalian tidur di lantai nanti badan kalian pegal-pegal loh" jelas Alya, tapi mereka tetap saja menggeleng menolaknya.


"Ok, tapi kalian akan tidur dimana? Sofa hanya cukup dua orang saja" tanya Alya pada mereka.


"Kalau itu masalah gampang ma, tenang aja" ucap Arkan tersenyum aneh, tapi saudaranya yang lain tahu akan maksud nya itu.


"Ya benar" sahut Rangga.


"Baiklah terserah kalian, tapi kalian harus tetap pergi ke sekolah! Kali ini tidak yang membantah!" kata Alya tegas pada putra-putra nya.


"Alfan juga ma?" tanya Alfan menunjuk dirinya sendiri.


"Kecuali Alfan, kata dokter kamu masih harus banyak istirahat" lanjut Alya.


"Enggak bisa gitu dong ma" rengek Arkan berharap Alya akan luluh, tapi tidak Alya menggeleng tegas tidak ingin di bantah.


"Kita mau temenin Mama" timpal Rangga.


"No! Ada Papa yang akan temani Mama disini, besok Oma juga kesini dan tante Aira juga bakal kesini, jadi kalian tidak pernah khawatir lagi banyak kok yang temani Mama" jelas Alya, mereka semua menghela nafas kecuali Alfan yang tersenyum lebar karena bahagia.


"Yaudah kami akan ke sekolah, tapi Mama harus makan terur, sepakat?" tanya Afkan, Alya mengangguk tanpa ragu. Mereka semua lantas tersenyum kemenangan.


***


Keesokan hari nya mereka semua benar-benar pergi ke sekolah, subuh-subuh Gara sudah membawa mereka pulang ke rumah, Aira menyiapkan kelima nya bekal seadanya untuk ke sekolah.


Kelimanya mengikuti pembelajaran dengan tenang, tapi tidak dengan pikiran mereka yang selalu tertuju pada Alya yang ada di rumah sakit mereka tetap khawatir pada Mama nya, padahal disana Alya di jaga oleh banyak orang.


Tapi itulah mereka yang sangat menyanyi Mama nya lebih dari segalanya, segala nya pun bisa mereka berikan untuk Mama nya seorang. Mama nya adalah wanita yang paling ia cintai dan wanita terbaik di dunia ini.


Guru yang mengajar menangkap mereka yang terlihat mengehayal “Kalian! Kenapa terbengong seperti itu, meghayal apa kalian ha?” tanya nya.


Para murid langsung menatap ke arah yang di tunjuk oleh guru nya, yaitu pada Arkan dan Afkan yang memang duduk bersama.


“Afkan, Arkan ke mari kalian!” titah guru tersebut dengan tegas.


Afkan dan Arsan naik ke atas dengan patuh mengadap pada teman temannya, mereka masih terlihat tenang dengan wajah datarnya.


“Karena kalian tidak memperhatikan ibu yang menjelaskan, kalian harus kerjakan semua soal yang ada di papa tulis sekarang juga!” ujar guru itu.


“Gak bisa gitu dong bu, kan ibu belum jelaskan soal itu masa saudara saya di suruh menjawab nya” protes Rangga, Rangga tau kalau Afkan dan Arkan adalah anak yang cerdas tapi tetap saja kan itu tidak adil, guru nya saja belum menjelaskan nya bagaimana mereka bisa tau.


“Iya tuh bu” timpal Andra dan Dava bersamaan. Para murid yang lain pun juga ikut menyahut, apalagi para siswi nya yang suaranya paling besar dan bersemangat menyahuti nya.


Argan dan Arsan tidak menyahut, keduanya hanya diam memperhatikan mereka semua. Argan dan Arsan tidak membela saudara nya karena memang salah, dan tanpa mereka bantu pun Afkan dan Arkan bisa menyelesikannya dengan cepat.


“Semuanya diam! Ibu tidak meyuruh kalian berpendapat, sekarang kalian berdua ayo cepat kerjakan soal itu” Afkan da Arkan mengambil spidol dan mulai menulis. Tak cukup lima menit keduanya sudah selesai menjawab semua soalnya.


"Sudah" ujar Arkan malas, sungguh sekarang ia hanya ingin dekat Mama nya saja tapi ia sudah berjanji untuk tetap bersekolah dengan Mama nya, dan ia tidak ingin membuat Mama nya tercinta kecewa akan hal itu.


Teman temanya pada melongo melihat itu, dengan mudahnya mereka berdua menjawab soal-soal itu. Guru nya pun juga ikut melongo melihat semua jawaban keduanya benar semua! Cara kerjanya terlihat singkat tapi itu dapat di mengerti, bagaimana mereka bisa.


“Emh, baiklah kalian berdua bisa kembali ke tempat kalian” kata Guru itu, Argan dan Arsan tersenyum tipis, sangat tipis sampai-sampai tidak ada yang menyadari senyum nya itu.


Mereka kembali belajar hingga bergantian jam selanjutnya dan jam istirahat istirahat datang, guru yang mengajar mengakhiri pembelajaran nya dan pamit pada anak murid.


“Kalian bawa bekal?” tanya Dava pada Argan dan saudaranya.


“Bawa” ujar Arkan.


“Yaudah kita makan disini aja yak, malas keluar” ujar Dava. yang lain mengangguk setuju lalu mengeluarkan bekal mereka masing-masing.


“Kalian bawa sandwich juga?” tanya Andra melihat isi bekal Rangga, jika mereka bawa nasi maka semuanya pun juga bawa nasi, mereka semua memang selalu bawa makanan sama-sama. Alya melakukan nya agar putra-putra tidak ada yang merasa cemburu satu sama lain hanya karena makanan saja.


“Ya” jawab Arkan.


“Wah sama dong” seru Dava membuka bekal nya. Mereka berdoa terlebih dahulu sebelum memakan bekal masing-masing.


Tbc.


Cerita baby boy nya tinggal beberapa part lagi akan tamat guys, aku mau minta pendapat kalian nih.


Aku sebenarnya masih mau melanjutkan cerita lima'A', menurut kalian aku lanjut sebagai season 2 atau buat lapak baru untuk mereka?


Menurut kalian bagaimana nih?